Sore ini, saya sempat kaget saat menyaksikan berita tentang pemadaman aliran listrik bergilir yang disebabkan terganggunya pasokan BBM ke pembangkit listrik Muara Tawar. (Salah satu beritanya bisa dibaca di sini dan di sini)
Seperti apa sih gambaran situasi energi listrik Indonesia?
Total kapasitas pembangkit listrik di Indonesia saat ini sekitar 30 ribu MW, 86% dikuasai oleh PLN sementara sisanya dikelola oleh perusahaan listrik swasta. Sementara itu kebutuhan listrik akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perkembangan perekonomian bangsa. Angka pertumbuhan kebutuhan listrik diprediksi sekitar 7-8% hingga tahun 2015 mendatang. Meskipun demikian, dan perlu diingat, saat ini tingkat elektrifikasi Indonesia baru sekitar 54%, artinya ada sekitar 46% masyarakat Indonesia yang belum menikmati listrik.
Di lain sisi, kontribusi batubara dalam energi mix nasional saat ini masih rendah, hanya sekitar 14% dari total penggunaan energi nasional. Di dalam garis besar Kebijakan Pengelolaan Energi Nasional, Pemerintah bermaksud meningkatkan penggunaan batubara menjadi 33% dari total penggunaan energi nasional.
Hubungan sebab-akibat dari dua paragraf di atas adalah sebagian pembangkit listrik kita masih menggunakan bahan bakar minyak, dengan demikian ketergantungan energi listrik atas minyak masih cukup tinggi.
Harga bahan bakar fosil (baca: minyak mentah) dunia yang semakin tinggi, serta tetapan tarif dasar listrik yang telah dikeluarkan Pemerintah memaksa Pemerintah untuk melihat kembali anggarannya. Subsidi yang harus dikeluarkan Pemerintah akibat kondisi ini mencapai Rp. 10 triliun per tahun sementara anggaran pengeluaran BBM untuk pembangkit PLN mencapai Rp. 42 triliun per tahun.
Sejalan dengan agenda energy mix 2025 dan tingginya harga BBM, Pemerintah melalui PLN akan melaksanakan percepatan (crash program) pembangunan 10 ribu MW PLTU hingga 2009. Diharapkan dengan adanya subtitusi ini negara dapat melakukan penghematan sebesar Rp. 25 hingga Rp. 30 triliun per tahun dan kontribusi batubara dalam energy mix dapat meningkat.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan crash program 10.000 MW ini:
- Peningkatan konsumsi dan kebutuhan batubara dalam negeri
- Security supplies khususnya ditinjau dari jumlah produksi batubara dalam negeri dan jalur distribusi produsen ke PLN atau IPP
Jumlah produksi batubara nasional di tahun 2005 mencapai 145 juta ton, sementara daya serap nasional saat itu hanya sekitar 27% saja. Dengan total angka export sebesar 117 juta, Indonesia menjadi eksportir batubara terbesar di dunia, menggeser Australia di tempat kedua.
Crash program jelas membuka peluang pasar baru, khususnya pasar domestik. Diperkirakan dibutuhkan tambahan 33 juta ton batubara untuk mencukupi kebutuhan 10.000 MW ini. Agaknya dengan pertumbuhan produksi batubara 8-9% per tahun masih dapat memenuhi kebutuhan ini.
Permasalahan terbesar akan muncul pada lingkup distribusi batubara. Seperti kita ketahui, beban traffic yang harus ditanggung sungai-sungai di Kalimantan sudah cukup tinggi, bukan hanya dari lalu-lintas tongkang pengangkut batubara hingga ke muara atau transshipment loading point namun juga lalu-lintas aktivitas logging dan aktivitas angkutan umum.
Percepatan jalur kereta api sebagai sarana angkutan batubara dari sentra produksi ke titik pemuatan kapal perlu segera dijajaki. Selain itu kapasitas pemuatan batubara di loading point perlu ditingkatkan sehingga waktu tunggu, waktu muat, dan cycle time kapal dapat ditingkatkan – dengan demikian biaya distribusi dapat ditekan.
Jadi, selamat bekerja Pemerintah. Semoga pemadaman bergilir tersebut memang lebih disebabkan karena koordinasi proses distribusi, bukan karena
- tingginya harga bbm yang menyebabkan tingginya harga listrik yang dihasilkan sehingga mengakibatkan tingginya beban subsisi yang harus ditanggung;
- ketidakcukupan suplai energi listrik dibandingkan dengan total kebutuhan yang ada;
- (yang ini jangan sampai terjadi) energi listrik hanya akan disuplai kepada mereka yang sanggup membayar sesuai dengan biaya produksi.
Sumber:
Majalah Tambang, edisi Mei 2006, Juni 2006
Crash program





[...] Perkembangan teknologi ternyata berpengaruh sangat besar pada kebudayaan umat manusia. Lebih dekat, listrik ternyata berperan dalam meningkatkan taraf hidup umat manusia. Yang saya maksud di sini bukan sekedar bagaimana listrik bisa menggerakan roda perekonomian namun juga kebutuhan manusia akan kenyamanan. Jujur saja, listrik membuat hidup kita lebih nyaman. Atau dengan kata lain listrik membuat hidup kita lebih baik. Hal ini terus didengungkan oleh PLN. Namun yang perlu dicermati adalah kesiapan PLN dalam mengantisipasi peningkatan konsumsi energi listrik di masa mendatang. Crash Program (sebagaimana yang pernah saya posting di sini) memang tengah dijalankan, namun yang paling penting jelas realisasi dari program tersebut. Jangan sampai Anda merasakan apa yang pernah kami rasakan selama kurang lebih 2.5 bulan hidup dengan keterbatasan listrik. [...]
menurut saya aplikasi pemanfaatan energi alternatif lain harus di galakkan dan ada political wil dari pemerintah akan hal itu, baik itu biofuel atau tenaga nuklir. negara-negara maju telah menggunakan alternatif tersebut terutama perancis dan amerika yang mencapai 80 % tenaga nuklir. sebaiknya indonesia mempersiapkan segala sesuatunya terutama kesiapan sumber daya manusia yang profesional dan dedikatif.
Masalah seperti itu membuat orang kesal saya tuliskan kekesalan saya di blog Teror PLN Menghantui Bang Kritikus. Tapi menurut saya tidak sekedar teknologi Alternatif, tetapi lebih ke sistem yang dibenerin, karena swastanisasi PLN membawa dampak buruk bagi semua. Mungkin sekali PLN akan dikuasai oleh swasta sebagaimana BUMN dan kekayaan negara lainnya seperti emas oleh Freeport, minyak oleh Exxon dan konco-konconya. Kalau seperti ini terus rakyatlah yang dirugikan karena mereka harus beli barang miliknya sendiri dari orang lain.