Waduh, basi banget!
Kesibukan yang luar biasa di kantor 2 minggu belakangan ini membuat saya hanya bisa mencatat hal-hal yang akan saya bagi di kepala. Jadi, biar basi yang penting berbagi.
Sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional ke 26 di Praha menghasilkan sebuah keputusan bersejarah yang cukup mengguncang dunia astronomi dengan mengeluarkan Pluto dari tatanan planet-planet dalam Tata Surya.
Berdasarkan hasil keputusan tersebut planet tersisa dalam Tata Surya kita hanya delapan buah planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Mengapa Pluto dikeluarkan dari kelompok Planet?
Dalam resolusi yang dikeluarkan di pertemuan tersebut, sebuah benda langit bisa disebut Planet bila memenuhi 3 (tiga) syarat:
- mengorbit
mataharibintang namun dirinya sendiri bukan bintang berukuranmemiliki massa yang cukup besar dan memiliki gravitasi yang cukup sehingga mampu menarik tubuhnya dan mempertahankan bentuk bulatnya- memiliki jalur orbit yang jelas dan mampu “membersihkan” jalur orbitnya dari benda langit lainnya
Mengacu pada tiga kriteria Planet di atas, Pluto gagal di kriteria ke-3.
Bagi saya, yang lebih menarik justru bukan masalah dikeluarkannya Pluto dari Tata Surya melainkan bagaimana kecilnya pengetahuan manusia dibandingkan dengan seluruh pengetahuan yang tersebar di alam semesta ini.
Semakin berkembang ilmu pengetahuan, semakin jauh kita belajar, semakin sadar kita akan “kekecilan” kita. Apa yang kita ketahui saat ini seolah-olah adalah asumsi atau kesimpulan sementara.
Kejadian serupa pasti pernah terjadi saat seluruh umat manusia menyadari dan harus mengubah paradigma mereka dari asumsi “bumi datar” menjadi “bumi bulat”. Atau kejutan lainnya saat mereka menyadari bahwa matahari-lah pusat Tata Surya dan bukannya Bumi.
Saya jadi teringat sebuah definisi ke-ekonomisan proses ekstraksi bahan galian. Di bagian akhir selalu dinyatakan “menurut ilmu pengetahuan dan teknologi saat diterapkannya proses ekstraksi tersebut”. Pernyataan ini jelas ditujukan sebagai pendorong manusia untuk melakukan penelitian dan efisiensi sehingga pada suatu saat asumsi dan kesimpulan akan berubah ketika pengetahuan manusia berkembang.
Subhanallah.





Salam kenal. jadi terngiang lagi kalimat dari seorang Ulama (kalau ga salah), “semakin bertambah pengetahuanku, semakin aku tau kalau banyak hal yang belum akau ketahui.
dada……………… pluto.. . .
sangat di sayangkan………
galaksi bima sakti kehilangan teman yang ke 9.
wah.. wah.. wah.. Pluto bukan planet? kayaknya pernah denger nih. tapi, kenapa terus datang sedna ya? apa sih yang sebenarnya dipikirin ma anak2 sekarang? kalo aku tahu hal2 kayak gitu cuman dr koran, karna aku hidup di asrama dan hanya diperbolehkan mencari2 info yg lebih luas dengan mencuri2 waktu. tolong dong, infonya lebih dilengkapin lagi, mulai dari siapa, kapan, dimana yang mengemukakan pendapat tersebut pertama kalinya? aku juga merasa kecewa dengan dihilangkannya pluto dr tatanan tata surya bima galaksi kita, karena selain itu aku juga penggemar berat sailor moon dkk. jd, sp pengganti sailor pluto?