Hari Minggu (21/1) yang lalu saya dikejutkan ketika layar televisi yang saya tonton (saat itu saya tengah menyaksikan sebuah film di channel HBO) mengeluarkan window pop-upyang berisi pesan yang kira-kira bunyinya seperti ini:
Gempa bumi dengan kekuatan 6.5 SR mengguncang Sulawesi Utara…
potensi untuk terjadinya tsunami
Pesan tersebut sangat singkat, baik isi pesan maupun durasi penayangan. Namun bagi saya efeknya cukup panjang.
Saat berbaring hendak tidur, pesan tersebut kembali terlintas di benak saya, satu pertanyaan yang terus-menerus muncul sejak penayangan pesan tersebut adalah:
Seberapa siap saya menghadapi bencana yang muncul tiba-tiba?
Berbeda dengan kantor tempat saya bekerja, saya belum pernah memikirkan prosedur evakuasi di rumah, baik bagi diri saya maupun bagi keluarga saya. Jangankan untuk memetakan jalur evakuasi hingga ke tempat berkumpul yang aman atau langkah-langkah yang harus dilakukan untuk setiap bencana yang berbeda, memperhitungkan kemungkinan adanya bencana-pun saya belum pernah. Seolah-olah rumah telah menjadi benteng paling aman yang saya tempati.
Malam itu saya mencoba membayangkan, seandainya pesan tersebut berkata bahwa bencana tersebut terjadi di daerah tempat saya tinggal – apakah yang akan saya lakukan? Sayangnya saya tidak bisa memikirkannya secara sistematis: mematikan aliran listrik? mematikan aliran gas? berlari ke luar rumah? memberitahu tetangga? berlindung di dalam rumah?
Mau tidak mau saya harus melakukan simulasi sendiri untuk berbagai jenis bencana hingga saya bisa menentukan prosedur evakuasi untuk setiap bencana.
Wah, pekerjaan rumah yang besar. Mungkin ada yang bisa membantu?





namanya bencana, tidak ada yg pernah tahu kapan dan dimana
akan datang, siapa yg jadi korban, saya kira kita hanya bisa berusaha untuk selalu waspada, kembali menengok sekeliling kita, perbaiki diri dan keluarga kita, and than……
berdoa….. semoga kita mati dalam keadaan betul2 beriman..
could we ??