Gajah Mada, Perang Bubat

perang bubatMenyambung isi blog saya sebelumnya tentang Gajah Mada, Hamukti Palapa, buku yang saya baca kali ini adalah buku ke-empat dari rencana Pak Langit untuk membuat lima buku seri Gajah Mada. Di dalam buku ini Anda bukan hanya akan terkesima dengan hasil perjalanan riset Pak Langit atas sejarah Gajah Mada namun bagaimana kombinasinya dengan sejarah Sunda abad 13, yang kala itu masih terbagi menjadi Sunda Galuh dan Sunda Pakuan.

Sampai saat ini, saya terkadang merinding bila mengingat “ide gila” Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara di bawah satu bendera, Majapahit. Perjalanan pulang-pergi Jawa-Kalimantan selama hampir delapan tahun yang saat ini saya jalani terkadang menyisakan jejak tanda tanya bagaimana tangan Gajah Mada bisa merangkul semua wilayah Nusantara. Saat memandang bentangan laut dari jendela pesawat, sering saya tak habis pikir bagaimana cara Gajah Mada menyatukan ide, menyatukan jarak, menyatukan persepsi seluruh wilayah Nusantara. Bahkan dengan teknologi yang ada saat ini – hanya jarak yang dipersempit – bentangan ide dan persepsi tak jarang justru melebar.

Sayang, hal ini tidak terdapat di dalam buku yang saya baca kali ini. Namun, saya sulit sekali melepaskan mata dari buku yang satu ini. Berbeda dengan tiga buku sebelumnya, buku Gajah Mada, Perang Bubat memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat (lebih tepatnya “berbeda”) dibandingkan dengan buku sebelumnya. Kali ini, emosi cerita lebih kental terasa.

Rasa sesal, yang sayangnya tidak terlalu terungkap, Pradhabasu akibat mengusir anaknya. Ambisi Gajah Mada untuk ikut membawa dan memaksa Sunda berada di bawah payung Majapahit. Luapan cinta Saniscara (tokoh satu ini sebaiknya Anda kenal saat membaca buku, bukan melalui blog ini). Amarah pengiring Maharaja Linggabuana dan Sunda Galuh menanggapi pesan Gajah Mada yang disampaikan Tumenggung Larang Agung. Siasat licik dan dukungan membabi-buta pendukung Gajah Mada untuk mengobarkan perang dan menggagalkan pernikahan Prabu Hayam Wuruk.

Dan, tentu saja yang paling fenomenal adalah Perang Bubat itu sendiri – saat kemarahan berhadapan dengan ambisi. Darah harus kembali tumpah di tanah, atas nama ambisi dan cinta. Ambisi menyatukan Nusantara dan hujaman kujang bunuh diri Dyah Pitaloka atas nama cinta.

Di bagian akhir buku, satu hal yang sangat saya suka, Pak Langit membiarkan bagian akhir sebagai penutup yang menggantung dengan sesal dan pertanyaan – dan membiarkan kita menerka jawaban serta kelanjutan. I really like that.

Book facts:
Judul: Gajah Mada, Perang Bubat
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai, 2006
Tebal: xii, 448 hlm

About these ads

90 thoughts on “Gajah Mada, Perang Bubat

  1. Nice blog…secara yang punya blog misuanya best friend…lumayan bisa ngobatin kangen sama bundanya nayya…yang secara udah merried harus ikut suami tercinta…update terus nayya + dinanya yah…biar tahu kabarnya gimana..kalau telephonan lumayan maharani juga…keke…visit my blog on http://bundarasya.blogsome.com.

  2. Mas,sorry baru baca ps nya….aku kenal bunda inong?…secara fisik enggak kali yah,cuma seneng aja baca blognya yang bikin ngiler…tadinya enggak ngeh,karena di blog kan namanya bundanya zidan and sifa…tapi pas sering liat and baca blog lain,baru tahu deh kalau itu yang namanya bunda inong…masih sering ke blognya sih,buat intip resep…gitu storinya…

  3. Wah, buku ke lima sudah ada! Musti langsung ke Gramedia nih.

    Mas Langit,
    Aku baca Gadjah Mada dengan urutan yang ‘mlumpat-mlumpat’ dari Perang Bubat (karena baca punya teman jadi cuman bagian depan dan belakangnya) lalu beli buku 1, Gadjah Mada (habis dalam sehari), lalu kubeli buku ke 2 dan 3. Tapi karena aku tak tahu mana yang sejatinya buku 2 atau 3, aku mencoba menyimpulkan dari jumlah gambar buku yang lain di sampul belakang. Dan salah, aku baca Hamukti Palapa dulu. Tapi ternyata enjoy juga, rasanya seperti menyeberang ruang dan waktu secara acak, mengumpulkan kisah yang terserak lalu mencoba merangkaikan nya dalam angan. Membuat imajinasi terpancing.

    Sekarang sedang di buku 3, buku 2 belum, buku empat sebagian, 1 tuntas, 5 belum beli.

    Hal lain yang menarik adalah gaya bahasa dan istilah-istilah dalam Bahasa Jawa kuno, indah, penuh misteri. Seperti ‘bagaskara manjer kawuryan’, ‘murca’, dan sebagainya. Juga nama nama yang sebelumnya aku tak paham asalnya. Di tempat lahirku aku sering mendengar nama nama yang ‘aneh’ tetapi begitu membumi, seperti Ywangga (nama perusahaan otobus), Bandayuda (nama parit raya di Lumajang).

    Sukses Mas Langit
    Iwan Bhakti S

  4. lima buku tersebut saya punya…wah, emang dahsyat Mas Arya buku karya Pak Langit itu. perang bubat meskipun paling tipis, tapi paling komplet dibanding buku-buku pendahulunya.

  5. untuk sdr LKH

    bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarahnya. kita harus akui bahwa kita diwarisi sifat saling merebut kekuasaan dengan berdarah2. tapi, penulisan fiksi berbasis sejarah adalah media yang bagus utk belajar tanpa membosankan. Tentunya, subyektifitas penulis akan sangat besar untuk itu. seperti juga mengenai PERANG BUBAT.
    saya sudah membaca GAJAH MADA: PERANG BUBAT. saya setuju sepahit apapun sejarah, kita harus realistis bahwa kita hidup di era yang berbeda. kita harus fair menempatkan gajahmada dengan keperkasaannya dan menghargai strateginya termasuk mengenai PERANG BUBAT.

    saya bisa menerima kalo strategi menumpas ROMBONGAN TEMANTEN SUNDA hanyalah kebablasan penerjemahan perintah gajahmada oleh anak buahnya, sekaligus sebagai usaha sdr LKH, orang JAWA, untuk tetap membela gajahmada. Tapi, adalah subyektifitas yang SANGAT NISTA, sdr LKH menempatkan PRABU PUTRI sebagai WANITA SUNDA yang meminta KEHORMATANNYA untuk DINODAI (bahkan HARUS diulang dalam dua paragraf), meskipun dengan tokoh fiktif. saya minta sdr LKH harus bisa menjelaskan hasil risetnya yang mendukung dasar penulisan tersebut. sdr LKH tidak boleh merusak KEPERKASAAN dan HARGA DIRI dari PRABU PUTRI dan rombongannya dengan kenistaan seperti itu. siapapun WANITA SUNDA pasti merasa TERLECEHKAN. adat sunda (dulu) selalu menerapkan anak wanita dalam pingitan yang harus dijaga. memang mungkin juga PRABU PUTRI sudah punya kekasih, tapi dengan logika yang paling sederhana sekalipun sangat tidak mungkin menginginkan kehormatannya dinodai, apalagi dalam plot sdr LKH, SEKAR KEDATON sudah diangkat sebagai PRABU PUTRI. saya dengan sangat pendapat sdr AVID, http://yulian.firdaus.or.id/2006/12/23/gajahmada-4/#comment-84685 dan menganggap komentar sdr LKH http://yulian.firdaus.or.id/2006/12/23/gajahmada-4/#comment-85351 tidak cukup menjelaskan subyektifitasnya.

    atas “ketidaknyamanan” membaca novel tersebut, saya menginginkan sdr LKH memberi alamat yang jelas untuk saya bisa kembalikan novel yang terlanjut saya beli. kalo konsumen (pembaca) sebagai raja, maka sebagai raja saya menitah sdr LKH untuk merevisi novel tersebut, terutama pada bagian meminta KEHORMATAN untuk DINODAI tersebut

    saya tunggu,

    SAPITRI WULANDARI SUNARMA

  6. Setuju dengan mba’Sapitri, sudah sepatutnya LKH di buku selanjutnya untuk lebih arif memandang permasalahan apabila melibatkan suku lainnya mengingat masalah suku, ras ataupun lainnya adalah termasuk salah satu masalah yang sensitif, terlebih lagi yang dibahas dalam buku tersebut adalah soal Palagan Bubat yang notabene merupakan persoalan yang belum dan tidak akan pernah selesai sampai kapanpun. Kita orang Jawa boleh berdalih bahwa kejadian tersebut adalah kesalahan atau perintah sang Mahapatih yang disalahartikan oleh para bawahannya. Untuk seorang pelajar SMA ato sudah mengecap arti sebuah logika tentu akan menjadi bahan tertawaan untuk mengungkapkan kebodohan alasan tersebut. Kenapa saya sebut sebuah apologi ataupun ketidakjantanan kita orang jawa memang bahwa tipu muslihat Gajah Mada lah yang sebenarnya dipertontonkan dengan telanjang atas peristiwa Bubat tersebut. Apakah anda akan dengan demikian termakan dengan alasan kebodohan para bawahan Gajah Mada yang tentunya sangat mustahil dapat menyatukan nusantara apabila bawahannya hanya diisi oleh orang-orang yang hanya dapat salah dalam mengartikan sebuah perintah……mana terkait dengan soal besar yaitu perkawinan Sang Maharaja Hayam Wuruk bukan perkawinan sang Mahapatih.

    Kesimpulan peristiwa bubat hanyalah satu, Gajah Mada bukanlah pahlawan yang patut disanjung dengan cara “tujuan menghalalkan cara” seperti itu. Dia pengecut. Sebagai orang Jawa kita harus malu menyanjungnya dengan demikian tinggi.

    Pak LKH cobalah untuk sedikit berempati. Kembalikan sajalah kepada Mba Sapitri, harga diri wanita sunda wajar untuk terusik dengan keteledoran anda.

  7. ah, berbaiksangkalah kepada Pak LKH…yang ingin beliau sajikan adalah tipikal gadis kebanyakan, bukan hanya sunda,…kan gadis-gadis ya begitu kalo cinta mati. mungkin memori masa lalu juga ya Pak Langit ? gadis-gadis kalo falling in love ya gitu deh…dari dulu sampe jaman sekarang, dari orang jepang ampe orang eskimo, dari orang irian ampe orang sunda…

  8. Kasian banget orang-orang yang marah sama gajah mada…..
    Untuk menghibur diri anda, saya sarankan anda membaca Versi yang lain, yang ditulis oleh orang manapun yang mengagungkan sang Dyah…
    Lagian apa ngga ada persoalan lain selain menggerutui Gajah Mada…..
    bagi saya sang Dyah adalah sebutir tumbal yang memang harus dibayar oleh sunda Galuh karena kebijakan politik Bapaknya yang berhadapan dengan politik Majapahit. Bahkan saudara-saudara, Visi kenasionalan Raja Hayam Wuruk sebenarnya diuji : antara Kesatuan “Nasional” yang dikumandangkan Patih Gajah Mada dengan kebutuhan yang lebih sempit untuk mempersunting Sang Dyah.
    Jadi kalau Hayam Wuruk ikut penataran P4, khususnya bidang wawasan nusantara, dia belum lulus.

    • Gus…. sudah jadi takdir, Yen Aksoro Jowo dipengku vokal e mingkem.
      lha…..Yen Wong Jowo di pangku Wanito kiprah e mendem.
      Analogi dengan kasus serupa:
      1. Lesmana – Rama terhadap Sinta di Epos Ramayana.
      2. Batik Madrim – Anglng Dharma > Setyawati….
      3. Supriadi – Soekarno > Dewi Sukarno
      4. M, Yusuf – Soeharto > Hartinah (Tien S.) & bros.
      Jadi gagasan semesta (globalisasi) Palapa , Ganefo, Nusantara,dll teredam oleh urusan kepentingan wanito dan bala kroni nya. Nepotisme.
      Orang Besar dengan Gagasan besar hanya terlantar.

  9. kalau anda baca Buku Senopati Pamungkas Karya Arswendo, maka akan anda dapati kisah cinta terpendam antara Putri Gayatri (istri R. Wijaya) dengan Upasara Wulung. Kalau orang jawa menggugat sama mas wendo juga ngga ada yg larang, tp bumbu2 seperti itu masih wajar dan logis dan tidak perlu membuat tersinggung……nikmati kisah dgn nyaman…..
    Nah kalau anda baca buku GM, ada kisah cinta juga antara dyah wiyat (?) dgn Ra tanca dan Ratu Gayatri dengan Tokoh Sakti di masa remajanya. Toh ini masih sangat manusiawi dan tidak berarti melecehkan putri kraton. Putri Kraton juga manusia…………..yang punya cinta dan gairah sama seperti manusia yg lain. yang kadang2 justru karena dipingit, malah bisa jadi meledak-ledak. Dalam Menilai cerita , selain pada kultur yang anda yakini, sebaiknya anda juga mendasarkan pada daya imaginasi penulis (yang saya pikir masih sangat logis), psikologi manusia dll.
    Dalam Karya LKH, Saya salut dengan pribadi sang Dyah yang tegas, berani bersikap dan punya kepribadian kuat, tangkas, merdeka berpikir, dan tentu kita tidak punya hak untuk membatasi cinta mati sang Dyah dgn Saniscara yg sedemikian mendalam, romantis, teguh dan setia dengan bungkus kata2 saudara yang justru menganggap Sang Dyah sedemikian nista. Padahal anda sendiri juga ngga pernah tau menegnai sosok Sang Dyah, yang sampai sekarangpun sangat saya hormati. Menghormati Sang Dyah tidak harus dilakukan dengan membenci tokoh Gajah Mada.

  10. di sunda gajah mada penjahat besar, orang sunda tidak mau di rajai oleh orang kerjam, orang sunda dari dulu punya sopan santun dan berwibawa, orang sunda bukan menjajah tetapi bekerjasama dengan suku lain atau kerajaan lain, beradu kebudayaan perdagangan kecerdasan bukan membabi buta perang untuk menyatukan wilayah, orang jawa kata belanda juga orang barbar, pada penjajahan belanda orang jawa bayak yang tersiksa karena dia (orang jawa) barbar, untung ada belanda yang sedikit merubah sifat barbarnya klu engga dia sangat primitif , jawa emang edan, licik dan rakus, tangannya rela di basuh darah asalkan punya kekuasan dan sampai sekarang sifatnya seperti itu, apa pun alasan gajah mada tetap lah suatu kejahatan, lebih kejam dari penjajahan belanda maupun jepang, tetapi kutukan perang bubat tetap berlaku beribu orang disakiti dengan dalih pernikahan yang suci, salah satu kutukannya “jawa tinggal sapotong”, yaitu daerah jawa akan tengelam dan banyak musibah, itu karena keserakahan dia sendiri dan sekarang kutukan itu muali terasa sekali, selamat menikmati

    • Lha ini pakai atribut ‘Siliwangi’ ? jangan bikin malu leluhur dan karuhun.?
      Uyut kolod ingatkeun:
      1. Tinggal di Jawa? apa Sunda tidak di Pulau Javadwipa ?
      2. Leluhur Jawa mulai dari Kahuripan – Kedhiri- Singasari-Majapahit-Mataram
      adalah dari Mataram kuna pakuan – pajajaran.- sunda banten –
      Kasepuhan – Kanoman. semuanya dari turun Su-‘Medang’ dst yang turun
      dari dinasti ‘Barata’
      3. Sebagai abdi atau mojang janganlah berujar tak santun, ingat jika urang
      jawa tidak belapati bantu perang ke Sundakelapa mengusir Portugis, pada
      jaman Ratu Kalinyamat dari Jepara. Entah jadi apa Sunda-Banten ?
      4. Justru dari tragedi perang Bubat itu peringatan akan kasunyatan:
      a. Tidak integritas, wawasan sempit, gengsi ke Suku an, Sombong derajat
      suka intrik-politik, Angkuh dan lain di ucap lain di buat.
      b. Semua ingin paling kuasa jadi Maharaja. jadi yang No 1.
      c. Diberi kehormatan berbesanan, sama drajat, malah ingin lebih.
      inginnya di atas lebih tinggi dan gila hormat demi Gengsi. Tidak mau
      tunduk tapi mau menerima Lamaran ? tidak tegas, Jujur dan amanah?
      Ambil Hikmah nya,
      Di jaman begini, masih ada bibit benci antar Suku, makin menunjukkan hal
      kesempitan wawasan dan jatidiri. Namun jangan bawa nama Siliwangi dan Sunda. Karena Abdi Sunda sejati na mah tiada begitu. ingat Badui di pedalaman Banten demi Kian Santang? , Uyut kolod mah suka damai dan ngalahan.

  11. Sebagai orang Indonesia saya sangat malu kalau memaki sesamanya tetapi malah memuja penjajah belanda yang nota bene telah menindas seluruh nusantara menghisap semua kekayaannya bagai menghisap manisnya tebu dan menyisakan ampasnya saja.

    Apakah kita akan jadi penghianat bangsa dan mengagungkan kompeni sebagai manusia biadab seolah sebagai orang yang paling beradap?

    Sungguh disayangkan nama siliwangi yang agung dipakai sembarangan oleh orang yang tidak bertanggung jawa.

    Hidup Indonesia.

    • Setuju ..sekali ! …jangan sembarangan bawa nama, nanti Kuwalat!…Nah ini baru Putra wangsa !
      Emang sikap A-nasionalis begini udah banyak ditemui. tau nggak ? yang kianat menjual bangsa ini ke penjajah itu ya raja sultan sendiri, yang demi berkuasa ngebon tentara-bayaran. beli suara supaya menang pemilu.
      Ironisnya, maling teriak maling katanya orang asing yang di bon itu penjajah, padahal si Penjajah itu ya Sultan sendiri. inilah Feodalisme. atau ke Munafikan yang dibudayakan di bangsa ini. sampai kini lho masih ngetrend.

  12. yaelahhh….ada dendam apa sampeyan sama orang jawa ? gajahmada itu khan sejarah lama yang belum tentu mana yng benar mana yang salah . tahu apa anda soal sejarah ? paling juga tahunya diajari pak guru di sd .
    tapi emang orang jawa cocok kalo jadi pemimpin kok, presidennya dr dulu sampe sekarang banyak bau jawanya , hehehee kalo orang sunda gak mau dibilang orang jawa ..kayaknya pindah saja ke lain pulau ..kakakakakkkk pulau sunda gitu …

    • heh,, tar juga bkalan pisah sunda jawa mah,, tuh lumpur lapindo,,!! yang bkal misahin sunda jawa mah,, makanya banyak-banyak tobat loe..

      eling mokanya oom……

    • Ini mah Bukan dendam cuma Ngawur ! di transmigrasi ? kasian deh lu…
      janganlah… kasian kan orang lagi mendem kok, A-status..Anasionalis.
      beri obat pencerahan… biar melek dari buta sejarah.
      Penyakit lupa jatidii begini memang epidemik menjalar kemana-mana, suatu produk cuci otak dari para pendatang-penjajah yang menimpa bangsa ini.
      Ada yang sok kebarat-baratan, ada yang ke timur-tengah (araban). dua-species ini luntur jatidiri nya jadi bunglon.

  13. terlepas dari apapun tanggapan sebagian kita tentang sosok dan watak Gajah MAda (MAHAPATIH MAJAPAHIT) itulah gambaran pemersatu Nusantara dibawah 1 bendera meskipun kita tidak bisa menyatakan bahwa semua harus sama seperti gajah Mada tapi begitulah sejarah melahirkan anak zamannya…bagi yang punya pancalogi novel gajah Mada mohon infonya karena ditempat saya sangat susah mendapatkan novelnya…terimakasih…..

    • Ooo Figur atau Ikon ‘Pemersatu” sebagai Patron ‘Kebangsaan’ atau ‘Nation Father’ atau ‘Founding Nation”. boleh dong the Great Warrior “Gajah Mada” di sejajarkan dengan Jenghiz Khan-Mongolia ? Atau Julius Caesar-Rome ?
      Prihal Pancalogi Novel Gajah Mada, kapan ya Mas Langit (pengarang) mau memuat sebagai WordPress atau Blog atau pdf-doc atau Google-doc ?
      jadi semua bisa baca dari e-book atau google-reader ?

  14. Dah ach, jangan ribut gak jelas tentang Sunda – Jawa

    SUNDA tuh dimana sih? DI JAWA kan ya?
    jadi orang Sunda=orang Jawa…betul tidak???…….

    Ndak perlu ach, mempersalahkan lagi siapa salah siapa benar? emang mau apa lagi? mau nerusin perang?
    udah banyak perang ndak jelas di negeri Ngastino ini
    Stop sudah…mari berdamai…

    Buat yang gak suka jalan ceritanya, tutup aja bukunya.
    gak usah pakai marah.

    Remember, its just LKH imagination!

    • Betoel sekali ..Setuju Banget Dyah ! ma’lum deh segitu aja sih IQ nya.
      Mengutip “banyak perang ndak jelas”. emang he eh ..demi ‘berkuasa’.
      Ngastino itu dulu ada di Madiun (sekarang ini). Amartapura di Kalimantan,
      Magada dan Wirata di Sumatra, Ndorowati itu Banyuwangi selatan, Mandura tetap madura.Kurusetra itu di Dieng-Wonosobo.
      Sumedang itu Medang (Larang – Kamulan) era Parikesit penerus Pandawa dari Arjuna, Menurunkan Parikenan> Srimahapunggung> terus Siliwangi dan Singasari barulah Majapahit, Demak, Pajang hingga Mataram.

  15. Apakah iya sebuah Kerajaan besar seperti Majapahit masih merasa risih oleh Kerajaan Sunda yang jauh lebih kecil dan tidak mungkin menjadi ancaman kedulatan yang significant. Apakah iya seorang negarawan besar sekaliber Gajah Mada tega melakukan keputusan keji dan tidak populer walau berdalih mewujudkan tujuan politiknya?. saya kok ragu atas kebenaran adanya Peristiwa Bubat tsb. Jangan2 hanyalah dongeng yang dikarang Belanda saat menjajah kita untuk memuluskan strategi devide et impera-nya?. Agar timbul rasa saling benci antara masyarakat Jawa bagian Timur dan Barat. Punten & Nyuwun Sewu jika saya terlalu ‘naif’.

    • Nah ..ini baru analisa yang rasional!
      Perang Bubat dari kiab pararaton bukan ditulis Belanda, Gajah Mada tidak berintrik, tapi sebegitulah nayatanya terjadi. Tujuan pernikahan Dyah Pitaloka dan Brawijaya untuk kesetaraan, kebersamaan dan persatuan telah dikalahkan dengan keangkuhan chauvinisme dan intrik sekelompok penguasa Pajajaran. yang sebenarnya dua-pihak berseteru sama-sama turunan leluhur Pakuan dari Mataram-purwa atau Medang.

  16. Gajah Mada itu sama saja seperti Suharto atau Sukarno. Dia juga punya kelebihan dan kekurangan dan itu sangat manusiawi.

    Zaman dahulu Gajah Mada memang mempersatukan nusantara itu dengan darah dan pedang (bisa tidak anda membayangkan orang2 yang jadi korban Gajah Mada). Mungkin bagi satu pihak itu bisa dianggap ‘kebanggaan’ sama halnya seperti Inggris yang bangga karena pernah menguasai dunia tapi bagi orang yang merasa terjajah tentu tidak akan merasa senang kan.

    Kalau dilihat dengan ukuran moral zaman sekarang, proses pemersatuan ala Gajah Mada bukanlah hal yang baik. Kalau kita mengedepankan nasionalisme sempit ala Gajah Mada seperti zaman Suharto & Sukarno maka sudah terbukti banyak daerah yang memberontak kan.

    Gajah Mada bisa saja dianggap pahlawan untuk ukuran zaman dia, tapi tidak dengan ukuran zaman sekarang. Sama halnya seperti negara Mongolia yang menganggap Jengis Khan sebagai pahlawan nasional karena telah mempersatukan Bangsa Mongol.

    Pendapat saya terhadap Gajah Mada adalah:
    Kita perlu hargai kehebatan Gajah Mada tanpa perlu menutup mata atas kekhilafan yang pernah dia lakukan.

    • Elok… tenan. perlu saya tambahkan bahwa spirit “To Build A Nation” Gajah Mada itu bukan prakarsa individu seorang Gajah Mada. Tapi terinspirasi dari sekelompok Senopati yang berikrar untuk Founding A Nation. yaitu Nawasanga. alias Sembilan Senapati yang berasal dari sembilan kampung.
      Gajah Mada salah satu dari kelompok 9 ini.

  17. LKH sudah menuliskan karya yang apik.
    Sebuah karya, harus dilihat dari manfaat yang terkandung di dalamnya. Jangan picik dalam melihat sebuah karya itu. Penilaian yang salah terhadap karya dapat dicontohkan dengan komentar2 yang bersifat ras-kesukuan. Ketersinggungan yang sama sekali tidak ada faedahnya, malah menjelek2kan saudara sendiri setanah air Indonesia ini. Lebih parah lagi, men-syukur-in bencana yang terjadi di Jawa (baca: Siliwangi). Benarkah anda adalah orang Sunda yang dibanggakan itu?
    Benar yang dikatakan Borneo : ”Sungguh disayangkan nama siliwangi yang agung dipakai sembarangan oleh orang yang tidak bertanggung jawab”.

  18. Awas kau Siliwangi palsu !!!

    Dari dulu memang orang sunda ngga pernah mau berjuang.
    Orang Jawa, Sumatra, Betawi, Madura, Bugis, Aceh, Batak semua melawan belanda. Tapi orang sunda mau-maunya dijadikan gundik oleh belanda yang penjajah, suka mengadu domba, mengambil kekayaan bangsa, tidak pernah mau ikut berjuang.

    Di kebun teh, sebagai pelayan sex belanda, bergelimang harta. yang dipikirin kesenangan duniawi, meterialistis, mengurbankan harkat dan martabat bangsa.

    makanya kau sangat menbanggakan belanda.
    Oh..Prabu Siliwangi yang suci, kutuklah orang yang menggunakan namamu tapi tidak bertanggung jawab dan justru mengurbankan orang sunda yang sebagian besar baik2.

    • Ya.. ya..setuju . begitulah ” Oh..Prabu Siliwangi yang suci, kutuklah orang yang menggunakan namamu tapi tidak bertanggung jawab ”
      Namun jangan galak, ma’lumlah yang satu itu belum ‘Pencerahan”
      Sing waras Ngalah. Legowo. Jiwa besar gitu.. Biar berjalan Alami.

  19. daripada marah-marah mending kita dukung Gajah Mada dan Dyah Gayatri untuk berdampingan sebagai presiden dan wakil presiden indonesia tahun 2009 nanti… !!!

  20. setuju gadjah mada perkasa
    maaf agak emosional….
    sebagian besar tabiat/watak dasar wong sundaneese tabiatnya pengen enaknya doang
    hard worker no…no…?saya sudah liat di 14 negara dimana ada pahlawan devisa kita disana
    rata-rata sundanesse jadi pilihan kedua ato ketiga untuk bekerja…
    tapi kalo kerjaah uh ah uh (maaf)
    jadi pilihan utama
    dulu pada jaman majapahit lautan yang jaga majapahit
    sunda gak mau kerja…enaknya doang
    suruh bayar juga kagak mau…..
    sikat aja…lah

  21. Benar – Salah, gak bisa dipisahkan!!
    Dalam penulisan sejarah, tentu sangat rentan akan hal ini.
    Siapa yang benar?

    @ Dinda Sapitri
    Kalo nuduh Gajahmada Salah, dengan dalih Pitaloka benar
    ya nggak bisa dong. Siapapun pasti marah, apalagi ini menyangkut korzak kedaerahan. Sampai detik ini gak ada yang tahu apa yang terjadi di tanah airku Mojopahit waktu itu. dari tutur tinular buyut, juga tidak pernah mengisahkan tentang perang Bubat. Artinya, obyektifitas sejarah tergantung subyektifitas penulis. Jangan terjebak dalam informasi sebuah buku. ya… Di Mojokerto masih banyak keturunan zaman mojopahit, dan setiap kisah selalu ditembangkan secara turun-temurun.

    Jika perang Bubat itu peristiwa besar, seperti penyerbuan Tartar, Pemberontakan Kuti, Sadeng dan lainnya tentu akan diceritakan. Maka idealnya, alangkah bijak bila kita berburuk sangka pada GajahMada dan rombongan Dyah Pitaloka.

    Saran saya, jangan pernah menebarkan kebencian pada Jawa atau Sunda. termasuk pada Anak kita nanti. Biarlah ini menjadi sejarah kelam, dua kerajaan besar di Nusantara.

    @ Rekan lain, Sudahlah, tidak usah diperdebatkan masalah ini, hanya akan menambah keruh suasana.

    Salam

    Putra Nusantara

  22. beginilah kalo kita tidak pernah tau sejarah yang sebenarnya, semuanya berpikir berdasarkan pemikiran sendiri, pemerintahpun tidak bisa menentukan sejarah yang bisa dibuktikan kebenarannya, kenapa?? karena masih banyak data dari peninggalan jaman dulu yang bertolak belakang dengan data lain….
    saya pun belum bisa percaya kalau majapahit bisa menguasai banyak kerajaan seperti itu, tapi tidak bisa menguasai kerajaan yang letaknya disebelah majapahit itu sendiri, kenapa?? pada kerajaan galuh jauh lebih kecil?? kenapa harus dengan membantai pada kejadian bubat?? tidak masuk akal kan??
    jangankan mengungkap sejarah jaman majapahit, supersemar sama g30s pki aja masih belum terbongkar…

    yuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……..

  23. Sejarah adalah sejarah (sesuatu yang telah berlalu dan kita ambil pelajarannya, tapi ambillah data yang benar-benar valid untuk mengungkap sejarah agar tidah salah arah), jangan terlalu terhanyut dengan sejarah, yang harus kita pikirkan adalah sekarang dan hari esok, lakukan yang terbaik saat ini dan persiapkan diri kita untuk hari depan.

    Jangan terjebak dengan persoalan yang melemahkan dan kurang mendukung untuk kemajuan kita kini dan mandatang.

    Tingkatkan persatuan dan kerjasama antar sesama kita untuk mencapai kesejahteraan bersama, jangan malah berseteru.

    Ingat bahwa setiap kita punya kelebihan dan kekurangan, tidak digunakan untuk saling menjatuhkan tapi untuk saling melengkapi, itulah kenapa kita menjadi makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri.

    Semua orang yang ada dibumi ini seperti sebuah puzzle yang memiliki sisi yang berbeda-beda, tetapi tetap mempunyai pola tertentu yang jika disatukan akan membentuk satu gambar. Maka bisa kita lihat ada bagian yang menonjol dan ada bagian yang hilang pada setiap chip puzzle tersebut, begitulah kita.

  24. Kita lahir karena ada cinta..
    Harus bs hormati jasa leluhur..
    Saat lahir disertai dendam!
    Ktk mati tetap dlm kehinaan!
    ===

  25. ken arok- singosari-majapahit-demak-jipang-pajang-mataram-raja2 jawa…..,…..masih satu garis keturunan kan??…

    terus ken arok itu siapa?/…hantu padang karautan…yg ga ada darah bangsawan – yg ada malah darah perampok yg haus darah dan kekuasaan – konon….

    pantes negara ini gonjang ganjing mulu… lha yg mimpin masih keturunan ken arok semua…,hehehehehehehe piiisssssssssssssssssssssssssssss

  26. terusssssssssss
    yg bikin sosok gajahmada jadi mirip tetntara mongol itusapa??… muh yamin??….walah…yg jelas malah mirip muhamad yamin ya….

  27. lkh itu orang jawa so wajar aja kalo “terkesan membela jawa merendahkan sunda” kenapa kita gak kembali aja pada literatur yg paling awal dalam menceritakan tragedi bubat ini…yaitu kidung sunda dan kidung sundayana yg berasal dr bali di situ jelas kok..siapa yg ngebet? siapa yg licik? siapa yg bertekad mati daripada hidup dan pulang terhina…

  28. Bapakku orang Jawa-Ibuku orang sunda kalau pada ribut gara-gara kesukuan lah aku belain siapa dong (belain Indonesia kaleeeee ….)
    Hari gini masih pada ribut ayo bubar semua….

  29. kitamah sekang orang indonesia…..tolong jangan di ributin masa lalumah……yang penting gimana caranya kita kita hidup rukun repeh rapih biar kita nyari rejeki tenang….jangan ngeributin harta tahta dan cinta…kaya fim india.betul ndak brur……..

  30. Bukannya mau sombong, sejak jaman dulu orang Jawa lah yag paling berperan membentuk Nusantara ini. Gajah Mada hanya sebagian kecil dar orang-orang yang ingin mewujudkan negara bernama “Indonesia:” ini. Sebagai org Sunda ga perlu emosi atau membabi buta bela leluhurnya yg pasti pada waktu itu “ngeyel” keras kepala alias memberontak tidak mau menjadi Negara Kesatuan Kerajaan Maja Pahit (NKKM) hehe..yg menurut aturan waktu itu kerajaan Sunda dianggap bersalah to? Jd Udah resiko kalo harus “terbinasakan” karena perbuatannya sendiri. Di antara kerajaan Jawa sendiri ada yang harus “dibinasakan” akibat “ngeyel” td menurut hukum politik jaman dulu ada itu. Sekarang mah dah beda sobat..ya mari belajar bersama tentang sejarah, bertanyalah pada hati kalian yg paling dalam..bukankah orang Jawa paling banyak bekerja keras di negeri Indonesia ini, maka banyak yg jd birokrat ato teknokrat..kalau ada yg jelek..itu oknum segelintir sobat tidak bisa menjudge “pars pro toto” ya..maka belajarlah dari orang jawa yg baik-baiknya saja ttg sopan santun, keuletan, keberanian dan ..tentu saja kepandaiannya..so stop emosi..slamat belajar sobat!!

  31. Orang sunda terlalu berlebihan menanggapi peristiwa bubat sebagai alasan perluasan wilayah majapahit. sebelum majapahit berdiri raja terakhir singosari “Kertanegara” telah menguasai swarnadwipa/sumatera, tanjungpura/kalimantan, dan SUNDA. Sedangkan majapahit adalah penerus singosari SO waktu majapahit berdiri sudah memiliki wilayah Sumatera, sebagian kalimantan dan SUNDA. Gajah Mada dengan Sumpah “Palapa”nya tidak menyebutkan swarnadwipa dan sunda karena telah menjadi wilayah majapahit saat itu

  32. Pingback: Tentang Sunda Jawa « color·walk

  33. Untuk Ramaning Satrio, Perlu diketahui pajajaran hanya kalah oleh orang Sunda sendiri yakni Maulana Yusuf dari Banten, Majapahit ga bisa naklukan pajajaran karena tentara Majapahit keok dipukul mundur tentara pajajaran dua kali saat nyerang pajajaran. Yang urang Sunda persoalkan adalah caranya Gajah Mada ingin menguasai Sunda bukan di medan pertempuran melawan tentara pajajaran yang sesungguhnya tetapi menekan rombongan penganten dengan sedikit pasukan pengawal dan rajanya untuk tunduk. Kami memandang cara gadjah mada sebagai tindakan pengecut dan tidak Ksatria,beraninya sama pasukan kecil. Akuilah dan tanyakan hati nuranimu apakah cara ini dibenarkan, jangan karena dicekoki pelajaran di sekolah dan demi kebesaran GM dengan idenya hamukti palapa yang nyata2 bentuk imperialis kuno,memang setelah pajajaran runtuh tak ada lagi kerajaan Sunda kuat di jawa barat dan mungkin saja daerah jawa barat berada di bawah mataram, ga masalah karena mataram melakukannya dengan cara diplomasi dan ta menyinggung harga diri orang sunda dan orang sunda ga pernah punya masalah dengan orang jawa tengah dan solo,yogya. Tapi dengan jawa timur dengan perlakuan gadjah madanya yang busuk dan licik, hal ini ditambah dengan keegoisannya yang tidak pernah minta maaf dan mengakui kesalahannya membantai rombongan penganten, ini bukan perang bung ini pembantaian, pertarungan yang tidak seimbang dari jumlah. Kalau pihak jawa timur mengannggap ini adalah kejeniusan taktik gajah mada maka nyatalah karakter para penguasa jawa timur mirip dengan nenek moyangnya Ken Arok yang seorang Begal, perampok yang tak mengenal nilai-nilai ksatria, menghalalkan segala cara untuk mencapai syahwat kekuasaan. Kalau memang begitu karakternya kita maklum

  34. history, “our ship must all sail in the same direction”. indonesian politic have man like this for a century, they are true mafia.

  35. pemikiran para mafia telah di wariskan oleh para leluhur kita.sebagai generasi muda mari kita rubah pemikiran kita untuk kejayaan indonesia yang kita cintai

  36. Gajah Mada sangat tidak relevan dijadikan pahlawan Nasional, masa NKRI & Gajah Mada(Majapahit) sudah beda zaman, pada zamannya Kerajaan Majapahit justru Bersifat Agresor bagi kerajaan2 tetangga/Nusantara lainnya, jadi GM hanya mewakili Jawa saja, bagi daerah2 lainnya justru GM adalah Imperialis Penjajah.

  37. SUATU HAL YANG TIDAK BISA KITA PUNGKIRI BAHWASANNYA MAJAPAHIT ADALAH NEGARA BESAR PADA MASANYA,DAN GAJAH MADA ADALAH SESEORANG YANG MEMEPUNYAI JASA BESAR BAGI BANGSA INI.OLEH KARENA SUMPAH PALAPANYA ITU MAKA LAHIRNYA NUSANTARA INI.DAN INDONESIA TIDAK AKAN BISA MENJADI NEGARA KESATUAN SEPERTI INI.SETELAH MAJAPAHIT DAPAT MEMPERSATUKAN NUSANTARA ADA SEORANG EMPU MAJAPAHIT YANG BERNAMA ” PU TANTULAR”MENGARANG KITAB “SUTASOMA”,DAN DIDALAMNYA ADA SALAH SATU NASKAH YANG BERTULISKAN “BHINEKA TUNGGAL IKKA”YANG ARTINYA BERBEDA BEDA TETAPI TETAP SATU JUA”.
    DARI KITAB ITU LAH LANDASAN FUNDAMENTAL NEGARA INI TERUS DI USUNG OLEH NKRI SAMPAI SAAT INI.DAN MAJAPAHIT MERUPAKAN SALAH SATU WARISAN BESAR SEJARAH DUNIA.DAN BAGI ANDA ANDA YANG MENGHUJAT MAJAPAHIT TIDAK SAMA SEKALI BERPENGARUH PADA KEBESARAN DAN KEMASYURAN MAJAPAHIT DIMATA BANGASA INDONESIA DAN DUNIA.

  38. mengapa musti ribut2 soal sejarah. pada kenyataannya majapahit adalah negara besar di nusantara ini pada jamannya,perang bubat adalah bagian dari sejarah suram pada masanya.

  39. Sumpah palapa sudah usang d telan waktu dan hanya cerita yang tidak bisa d percaya karena hanya sekedar bualan dari segelintir orang2 yang mengatakan gajah mada perkasa tapi kebenarannya d ragukan ( lukisannya juga ga ada hehehe… )’ yang ngarang juga paling asal-asalan ngarangnya ga ada bedanya dengan komik AVATAR hahaha….!!!
    kalau masalah kerja emang orang jawa saja yang kerja ‘ dari sabang sampai merauke bung orang bekerja dan berjuang untuk NKRI hahaha…..!!!
    kalau masalah presiden ‘kaya yg sdh bisa saja memakmurkan negeri ini saja ‘ kalau rakyat sdh makmur baru kita salut dan percaya…..
    SUMPAH PALAPA ITU BOHONG ‘ KALAU SUMPAH PEMUDA BARU KITA PERCAYA…..

  40. Menurut yang saya baca dari beberapa referensi,, di bilang di situ klo diah citraresmi tidak mati bunuh diri,, melainkan mati ikut bertempur melawan Gajah mada….
    jadi nyang bener neh….:P

  41. Sejarah adalah perjalan waktu yang telah di lalui oleh bangsa ini, adanya penyatuan wilayah nusantara adalah ide dan tindakan yang sangat berlian yang dimiliki oleh anak bangsa ini, dan adanya perang bubat adalah efek dari perpolotikan pada zaman itu.
    Itu adalah efek dari setiap ambisi yang telah dikeluarkan dan dilakukan oleh anak bangsa dari patih Gajah Mada. bukannya Gajah Mada terpeleset oleh peristiwa ini, tapi ini harus dilakukan oleh patih untuk kejayaan (Glory) Nusantara yang dia impikan.
    Tidak ada ambisi tanpa mengorakan semangat perjuangan, dan semangat itu adalah peperangan. Itu sejarah telah terjadi seperti kasus G30, dan paska kejadian tersebut, banyak anak bangsa yang meninggal….. saya juga marah, tapi bagaimana… ini sudah terjadi. Militer membabi buta membunuh orang pki dan orang orde lama, serta ingat kasus PETRUS pada tahun 1980-an….. siapa orang yang sekeji itu.. membunuh saudaranya sendiri. Dan kita tahu, siapa pelakunya ini, semua orang tahu…. presiden di zaman orde baru….
    Waktu pasca reformasi, orang-orang juga tidak membunuh kaum golkar…. dan ini menandakan kita sudah dewasa dalam berpolotik, walaupu…. sangat dan sangat golkar adalah pengisap darah rakyat.
    Kita mulai semua ini dengan kearifan dan bijak. Kasus Patih Gajah Mada dengan supah palapa dan perang bubat adalah kenyataan yang telah terjadi, dan saya sangat menyetujui dan memaklumi hal tersebut.

  42. saya kira upaya Gajah Mada dengan Sumpah Palapa bukanlah sebuah niat untuk mempersatukan Nusantara. Lebih tepat untuk disebut dengan Ekspansi (penjajahan). Karena konsep Nusantara (Indonesia) baru lahir pd abad 16. terima kasih

  43. Perang Bubat
    Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih
    Gajah Mada yang saat itu sedang melaksanakan Sumpah Palapa. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada
    dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada tahun 1357 M.
    Pernikahan Hayam Wuruk
    Peristiwa ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri
    Sunda. Konon ketertarikan raja Hayam Wuruk terhadap putri Citraresmi karena beredarnya lukisan putri Citraresmi di
    Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, Sungging Prabangkara.
    Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph
    Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus
    antara Majapahit dan Sunda. Di mana Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit adalah keturunan Sunda
    dari Dyah Lembu Tal yang bersuamikan Rakeyan Jayadarma menantu Mahesa Campaka. Rakeyan Jayadarma sendiri
    adalah kakak dari Rakeyan Ragasuci yang menjadi raja di Kawali. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi
    Nusantara parwa II sarga 3. Di mana dalam Babad Tanah Jawi sendiri, Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pajajaran.
    Dengan demikian Prabu Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan,
    Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar putri Citraresmi. Upacara
    pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Sebenarnya dari pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri keberatan,
    terutama dari Mangkubuminya sendiri, Hyang Bunisora Suradipati karena tidak lazim pihak pengantin perempuan datang
    kepada pihak pengantin lelaki. Suatu hal yang dianggap tidak biasa menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat
    itu. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik karena saat itu Majapahit sedang melebarkan
    kekuasaan (diantaranya dengan menguasai Kerajaan Dompu di Nusatenggara).
    Namun Maharaja Linggabuana memutuskan tetap berangkat ke Majapahit karena rasa persaudaraan yang sudah ada
    dari garis leluhur dua negara tersebut. Maharaja Hayam Wuruk sebenarnya tahu akan hal ini terlebih lebih setelah
    mendengar dari Ibunya sendiri Tribhuwana Tunggadewi akan silsilah itu. Berangkatlah Maharaja Linggabuana bersama
    rombongan ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat
    Kesalahpahaman Gajah Mada
    Mahapatih Gajah Mada (dalam tata negara sekarang disejajarkan dengan Perdana Menteri) menganggap bahwa
    kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat merupakan suatu tanda bahwa Negeri Sunda harus berada di
    bawah panji Majapahit sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah dia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk
    naik tahta.
    Gajah Mada mendapatkan jabatan Mahapatih atas karirnya militernya di Majapahit, beliau mengawali karirnya sebagai
    prajurit pada kesatuan pengawal kerajaan Bhayangkara yang merupakan pasukan elit Majapahit. Beliau mendesak Raja
    Hayam Wuruk untuk menerima Putri Citraresmi bukan sebagai pengantin tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan
    mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Maharaja Hayam Wuruk sendiri bimbang atas permasalah itu
    karena Gajah Mada adalah Mahapatih (Perdana Menteri) yang diandalkan Majapahit saat itu.
    Gugurnya Rombongan Pengantin
    Kemudian terjadi Insiden perselisihan antara utusan dari Maharaja Linggabuana dengan Mahapatih Gajah Mada.
    Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Mahapatih Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa
    kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit bukan karena
    undangan sebelumnya. Namun Mahapatih Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
    Belum lagi Maharaja Hayam Wuruk memberikan putusannya, Mahapatih Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya
    (Bhayangkara) ke pesanggrahan Bubat dan mengancam Maharaja Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit.
    Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Maharaja Linggabuana menolak tekanan itu, dan terjadilah
    peperangan yang tidak seimbang yang melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan pasukan yang besar dengan
    Maharaja Linggabuana dengan pasukan Balamati pengawal kerajaan yang berjumlah sedikit, bersama pejabat kerajaan
    dan para menteri yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Maharaja Linggabuana, para
    menteri dan pejabat kerajaan serta Putri Citraresmi.
    Maharaja Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali-yang saat itu
    berada di Majapahit untuk menyaksikan perikahan antara maharaja Hayam Wuruk dengan putri Citraresmi-untuk
    Nyaangan Alam Dunya
    http://www.kasundaan.org Powered by Joomla! Generated: 23 October, 2009, 02:26
    menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi Pejabat Sementara
    Raja Negeri Sunda serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung
    Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.
    Namun akibat peristiwa Bubat ini (mungkin dalam dunia politik sekarang dikatakan Skandal Bubat), dikatakan dalam
    suatu catatan bahwa Hubungan Maharaja Hayam Wuruk dengan Mahapatihnya menjadi renggang. Gajah Mada sendiri
    tetap menjabat mahapatih sampai wafatnya (1364). Sementara akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri
    Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan
    kerabat Sunda. Sebagian lagi mengatakan yang dimaksud adalah larangan menikah dengan pihak timur negeri Sunda
    (Majapahit).
    Sumber
    – Yoseph Iskandar, “Perang Bubat”, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.
    sekedar catatan: Kanjeng Gusti Putri ratu Dyah Phytaloka Citraresmi meninggal tidak dengan bunuh diri melainkan ikut
    bertempur dan berhasil melukai mahapatih Gajah mada, sehingga akibatnya pertempuran bertambah sengit, sebab
    Gajah Mada Berduel dengan sang Putri Dyah Phytaloka, meskipun akhirnya gugur, Sang Putri berhasil melukai Tubuh
    gajah mada dengan Keris Singa barong berlekuk 13 Keris leluhur Pasundan peninggalan pendiri kerajaan
    tarumanegara, yang bernama, Prabu Jayasinga Warman. akibat luka itu, Gajah Mada menderita sakit yang tidak Bisa
    disembuhkan, dan akhirnya meninggal.

  44. ssssst .. jangan kebanyakan debat. dari sananya sudah ada pembagiannya: orang jawa diberi pulau dan laut sedang orang sunda diberi selat. jadi jangan iri dengan bagian orang lain …. hidup NKRI

  45. ampun deh orang yang pengen disanjung!!! mangga kalau orang Jawa pengen disanjung mah,ialah orang Jawa yang paling pinter, paling jago,paling berkuasa,paling digjaya , mau paling apa lagi??…..paling terhormat,paling berjasa, paling apa lagi silahkan…. tapi jangan menghina suku lain dong …. nanti ada predikat paling suka ngehina?! ga mau kan ??? sabar orang sunda…. ga pantes hal seperti ini dilayani. Yang jelas berdirinya NKRI karena kerja keras pejuang kita semua dari segala suku dan Ras, Baca sejarah tuh jangan sejarah daerahnya saja disetiap daerah NKRI ada pejuangnya,ada kisah heroiknya…. sekarang kita yang harus menjaga kerja keras beliau2. NKRI bersatu bukan karena perjuangan satu suku tapi ….. baca deh buku yg lain. NKRI berdiri tahun berapa sih ?? (dengan tidak mengurangi rasa hormat ) Majapahit berjaya sampai tahun berapa??..

  46. itu dulu………….
    kalo sekarang…………..
    Sunda – Jawa
    Persib – Persebaya
    Viking, Bobotoh – Bonex, Bajul Ijo

    so,,,,,,,,,,,,,,,viking – bonex sama saja !!!!

  47. saya sangat berharap untuk mendpatkan buku buku tentang gajah mada, namun sampai dengan saat ini saya sangat sulit mendapatkan buku tersebut di gramedia…..
    saya adalah pengagum dan fans berat gajah mada… saya terus mencari artikel tentang gajah mada……
    mudah-mudahan bagi rekan0rekan yang memiliki informasi bisa berbagi dengan saya……saya ingin menyelami apa yang ada di benak gajah mada dan siapa sebenarnya dia, bagmn di moksa…. hormat saya

  48. Ampun dech pada ribut…..ga malu gtuh ribut ma sodara sendiri???sejarah sebagai pelajaran di masa depan supaya kita dapat berfikir dan bertindak dengan benar….yang lalu biarlah berlalu, skg yg penting bukan pd ribut, tp bersatu kita bangun NKRI ini menjadi lebih baik buat anak cucu kita sebagai pewaris indonesia…..

  49. Mereka yg mengaitkan peristiwa Perang Bubat dgn NKRI jelas hanya menjadi bukti kepicikan ybs…….

    Sependapat dgn nur, NKRI adalah jelas hasil perjuangan para pahlawan Bangsa dari berbagai suku bangsa yg menyatu berkat sumpah pemuda 28 Oktober 1928, yang berjuang menentang klaim pemerintah kolonial Belanda yg menyebut wilayah pendudukannya sebagai Hindia Belanda, bukan terhadap wilayah bekas kerajaan Majapahit semasa pemerintahan ekspanionis Gajah Mada!

    Buktinya Malaysia, Singapura, Brunei, Sarawak dan Timor Leste yg bahkan pernah menjadi bagian dari NKRI, tidak menjadi bagian dari NKRI meski negara2 tsb merupakan bagian/wilayah kekuasaan Majapahit, karena wilayah/negara2 tsb tidak merupakan bagian dari jajahan Belanda yg disebut Hindia Belanda!

    Gajah Mada boleh jadi berjasa bagi Majapahit dan sebagian Suku Jawa, tapi sangat disangsikan bagi pembentukan NKRI dan falsafah hidup bangsa Indonesia! Pada kenyataannya Gajah Mada tak lebih dari sosok negarawan yg sangat ambisius, ekspasionis pd masanya yg dimasa sekarang dikenal dengan Machiavellis. Demi ambisi dan jiwa ekspansionisnya dia hilangkan rasa kemanusiaannya. Polapikir dan prinsip kekuasaan yg dianutnya tsb nampaknya kemudian dijiplak mentah2 oleh Niccolò Machiavelli.

    Sosok bernama Niccolò Machiavelli (lahir di Florence, Italia, 3 Mei 1469 – meninggal di Florence, Italia, 21 Juni 1527 pada umur 58 tahun) adalah diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf. Sebagai ahli teori, Machiavelli adalah figur utama dalam realitas teori politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa Renaisans.

    Machiavelli mengatakan bahwa hukum yang baik dan tentara yang baik merupakan dasar bagi suatu tatatan sistem politik yang baik. Namun karena paksaan dapat menciptakan legalitas, maka dia menitikberatkan perhatian pada paksaan. Karena tidak akan ada hukum yang baik tanpa senjata yang baik, maka Machiavelli hanya membicarakan masalah senjata.

    Dengan kata lain, hukum secara keseluruhan bersandar pada ancaman kekuatan yang memaksa. Otoritas merupakan hal yang tidak mungkin jika terlepas dari kekuasaan untuk memaksa.

    Oleh karena itu, Machiavelli menyimpulkan bahwa ketakutan selalu tepat digunakan, seperti halnya kekerasan yang secara efektif dapat mengontrol legalitas. Seseorang akan patuh hanya karena takut terhadap suatu konsekuensi, baik kehilangan kehidupan atau kepemilikan.

    Argumentasi Machiavelli dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa politik secara keseluruhan dapat didefinisikan sebagai supremasi kekuasaan memaksa. Otoritas adalah suatu hak untuk memerintah.

    Jika diperhatikan lebih seksama, apa yg dikemukakan Machiavelli, jelas merupakan deskripsi seutuhnya dari prinsip dan pola pikir seorang Gajah Mada yg kedoknya terbongkar dalam peristiwa tragis “perang” Bubat!

    Mengagungkan tindakan Gajah Mada tak ubahnya dengan mengagungkan falsafah Machiavelli, yang seluruh dunia mengasosiasikannya sebagai hal ahlak buruk, yakni menghalalkan cara untuk mencapai tujuan!!.

  50. gajah mada….oh….pemimpin yang hebat dan tangguh sepanjang peradaban indonesia….mudah2an generasi berikutnya ada yang lebih hebat dari dia….amin…

  51. Sunggu sebuah buku yang sangat menarik,selain menceritakan ambisi mahapatih Gajah mada dalam menyatukan Nusantara dibawah Panji Majapahit,jg menceritakan putri Dyah Pitaloka Citraresmi,yang terkenal sangat cantik dan pandai,yang mana beliau rela Mati bunuh diri atas nama harga diri kerajaan Sunda dan Ayahnya Raja Linggabuana ,dalam Peristiwa Perang Bubat

  52. Konsep nusantara sekarang (luas wilayahnya), kurang lebih berpijak pada konsep sumpah palapanya kakek GM, diakui atau tidak…memang itu yg sesungguhnya terjadi. Memang sebagai manusia, GM tidak luput dari kesalahan, tapi dia tetap pahlawan bagi warga negara Indonesia. Merah Putih bendera kita juga filsafatnya diambil dari konsep beliau “gula kelapa”, so…apalagi yg mo diperdebatkan. Jangan kita melihat hal ini dari perspektif kedaerahan, apalagi konsep ke egoan kita yg lebih menitikberatkan unsur kedaerahan/kesukuan….ini Indonesia bung/non. Sunda aja ada di pulau apa??? Masing2 suku punya kelebihan sendiri2, itulah uniknya negeri kita…yang Bhinneka Tunggal Ika…Kita sama2 gak tau persis apa yg ada di benak GM dan Putri DP saat itu…tapi setau saya dari buku yg pernah saya baca…perang bubat terjadi lebih banyak karena unsur kesalah pahaman… dan Gajah Mada menyesalinya sehingga setelah peristiwa tsb. GM mengasingkan diri sampe akhir hayatnya di dusun kecil Madakaripura tanpa diketahui setelahnya(utk. ukuran tokoh sebesar GM), akhirnya tiada gading yg tak retak…menurut hemat saya Kang Langit Kresna Hadi sudah berusaha mencari sumber data yg ada untuk menuangkannya kedalam karya apik yg luar biasa…kalo emang ada yg punya sumber lebih akurat, silahkan call beliau utk bahan masukan…dan kalo ada yg menyangsikan kisah majapahit ini hanya cerita…ahhh… betapa konyolnya…ini benar terjadi bung!!! …dulu… bukti candi, temuan lain dari galian…babad …dan semuanya itu fakta. Mengapa ada kemiripan bahasa dan warga negara kita skrng dg. negara tetangga seperti singapura dll.??? Itu salah satu bukti kejayaan Majapahit saat itu. Kalo di bilang penjajah?? Inggris tuh jagonya…sampe amerika aja dibabat abis. Tapi itu semua adalah cara hampir semua negara kuat pada jaman itu. So…nikmati aja bukunya…ceritanya…Yg jelas saya bangga banget sama Kakek GM…Beliau itu Pahlawan bagi bangsa Indonesia termasuk orang jawa, sunda, sumatra, kalimantan dll.

  53. Pingback: 2010 in review « blog: arya nugraha

  54. ya, bagi saya, tragedi perang bubat bukan sepenuh nya salah gajah mada, yg mesti di salahkan adalah anak buah gajah mada yg ingin menghancurkan nama baik gajah mada, patih madu lah yg harus bertanggung jawab atas tragedi itu, karna saya dapat wacana dari seseorang, bahwa yg tau gajah mada tidak bersalah adalah adik seperguruan gajah mada, sakunti triwestu namanya.

  55. Salam semua.

    Kita tidak membutuhkan bangsa yang besar dengan bentangan wilayah yang luas sebagaimana gajah mada harapkan, tapi kita membutuhkan para pemimpin yang berjiwa besar yang mengarahkan rakyat nya ke pintu kesejahteraan, tengok saja negara jepang, Taiwan, Singapura dan Korea Selatan, negara dgn luas wilayah kecil tapi makmur, sejahtera dan loh jinawi, bandingkan dengan negeri nusantara ini dari masa ke masa terus tidak berubah sebagaimana negara lain….

    Mari berfikir, kita tidak butuh negara besar, tapi para pemimpin yang berjiwa besar, negeri sunda dahulu kala semua rajanya bergelar “SILIWANGI” yg artinya saling berganti harum namanya dimata rakyat karena kearifan, kebijaksanaan, dan bisa mengarahkan rakyatnya hidup sejahtera, bagaimana dgn kerajaan lain pada zamannya? hehehehe…cuma saling membunuh demi kekuasaan, demi martabat keluarga dan golongannya sendiri, perang paregreg bukti sejarah yang bisa diambil contoh. Bagaimana nafsu akan kekuasaan berkecamuk…

    Negeri nusantara sampai kapanpun akan terus seperti ini, seperti dahulu kala jika para pemimpinnya bersikap seperti para pemimpin dahulu yg mementingkan kekuasaan, golongan dan keluarga.

    “KITA BUTUH PEMIMPIN BERJIWA BESAR, BUKAN NEGARA BESAR”

  56. Wah seru ya komennya. Saya beli langsung 5 bukunya tahun 2008, tapi baru bulan Juli 2011 ini sempet baca.
    Hingga pesan ini terkirim saya baru baca buku ke-3 (Hamukti Palapa).
    Jadi penasaran baca selanjutnya.
    Soalnya kita ternyata masih pada bisa kena “adu domba” karna sejarah masa lalu. Apa iya kita sudah NKRI ya? :D

  57. justru yg patut dipersalahkan adalah ayahnya sang Putri Dyah Pitaloka, yaitu Prabu Linggabuana. Mestinya sbg pihak wanita, kalau memang mau menjaga kehormatan klrg dan rakyatnya, jngn mau atau repot-repot datang ke Majapahit. Mestinya sebaliknya, pihak Hayam Wuruk (Majapahit) yg dtg ke kerajaan sunda. Itu kalau benar sejarah mengatakan demikian. disisi lain, mereka berperang krn dr pihak Prabu Linggabuana alasannya mempertahankan hrg diri. jd kesimpulan sy, sebenarnya pastilah pihak Prabu Linggabuana sangat mengedepankan hrg diri dan kehormatan dan kedatangan rombongan Prabu Linggabuana ke Majapahit sebenarnya bkn bermaksud utk menikahkan Putri Dyah Pitaloka, tetapi undangan kehormatan dari Raja Hayam Wuruk kpd Raja Sunda utk menghadiri suatu acara besar, terbukti dengan telah hadirnya undangan-undangan lain, dan disamping itu Hayam Wuruk pun ingin berkenalan terlebih dahulu dngn sang Putri sebelum menjadi permaisurinya. tetapi di perjalanan, sblm memasuki istana sbg undangan, Patih Gajah Mada mengambil kesempatan agar pihak kerajaan sunda mau tunduk dan menjadi bagian dari wilayah majapahit.

    kpd para pembaca, marilah kita melihat suatu kejadian dg kacamata logika. rasanya mustahil, org sekaliber Prabu Linggabuana mau begitu saja menikahkan putrinya di pihak laki-laki sekalipun pihak laki-laki sekaliber Hayam Wuruk. Dan sy mau bertanya kpd anda. apabila anda mempunyai anak perempuan yang akan dipersunting oleh putra seorang presiden misalnya, maukah anda dtg utk mempersembahkan putri anda kpd pihak laki-laki? Akh, kalau sy maaf-maaf saja, tdk akan mau kalau caranya demikian….

  58. ketahuilah orang-orang yang menyanjung GM,betapa sakit hatinya orang sunda ketika di tipu dengan alih-alih mau menikahi putri raja galuh,apa susahnya menyatakan perang secara terbuka !!!!,adil bukan???
    secara tidak langsung GM/orang-orang jawa telah merenggut nyawa raja kami beserta putri dan para menteri beserta kekuasaan sesaat.
    bahkan untuk mengenang raja atau leluhur kami yang membela harga diri sampai detik darah penghabisan.orang-orang jawa barat tidak terima dengan nama jalan dengan sebutan JLN.GAJAH MADA yg di setiap ibu kota provinsi pasti ada jalan dengan sebutan itu.
    apa itu yang di namakan pahlawan???
    apabila anda menyanjung GM,hati kami merasa sakit!!!

  59. ini tulisan tangan tome pires yang tersimpan di National Library paris peracis.
    adalah bukti kerajaan sunda telah bekerjasama dengan orang-orang eropa.
    Ia adalah tome pires salah satu penulis terawal dari Eropa yang menulis tentang negara kota maritim sebelah Timur.
    Tentang Pulau Jawa Tome Pires menulis, sebagai salah satu orang Portugis yang mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa antara tahun 1512 dan 1515, menggambarkan bahwa pelabuhan Sunda Kalapa ramai disinggahi pedagang-pedagang dan pelaut dari luar seperti dari Sumatra, Malaka, Sulawesi Selatan, Jawa dan Madura. Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Pajajaran selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tanara dan Cimanuk Menurut laporannya, di Sunda Kelapa banyak diperdagangkan lada, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buah-buahan. Ketika Malaka/malaysia direbut Portugis pada tahun 1511, maka pada tahun 1522 Gubernur d’Albuquerque yang berkedudukan di Malaka mengutus Henrique Leme untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan Pajajaran, guna mendapatkan izin mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Maksud Portugis itu mendapat sambutan baik dari Kerajaan Pajajaran, karena kecuali alasan perdagangan, Raja Pajajaran juga mengharapkan bantuan Portugis untuk melawan orang-orang muslim yang makin banyak jumiahnya di Banten dan Cirebon. Sementara itu Kerajaan Demak sudah menjadi pusat kekuatan politik Islam. Pada tanggal 21 Agustus 1522 dibuatlah suatu per-janjian yang menyebutkan bahwa orang Portugis akan membuat benteng di Sunda Kelapa, sedangkan Sunda Kelapa akan menerima barang-barang yang diperlukan. Raja Pajajaran akan memberikan kepada pihak Portugis 1.000 keranjang lada sebagai tanda persahabatan. Sebuah batu peringatan atau padrau (baca : Padrong) dibuat untuk memperingati peristiwa itu. Padrau itu ditemukan ketika pada tahun 1918 orang mulai mendirikan sebuah gudang di sudut Prinsen Straat dan Groene Straat di Jakarta Kota, dan kini disimpan di Museum Pusat. Jalan-jalan itu sekarang bernama Jalan Cengkeh dan Jalan Nelayan Timur. Kerajaan Demak menganggap perjanjian persahabatan Pajajaran-Portugis tersebut suatu ancaman baginya. Maka pada tanggal 22 Juni 1527, pasukan gabungan Demak-Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) merebut Sunda Kelapa. Tanggal 22 Juni inilah yang hingga kini selalu dirayakan sebagai hari jadi kota Jakarta. Sejak itu nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta yang berarti kota kemenangan atau kota kejayaan. Dalam perkembangan berikutnya, pada tanggal 30 Mei 1619, Jayakarta direbut Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen yang sekaligus memusnahkannya. Di atas puing-puing Jayakarta ini Coen mendirikan sebuah kota baru, yang oleh Coen hendak diberi nama Nieuw Horn atau Horn Baru sesuai nama kota kelahirannya di Belanda, tetapi akhirnya dipilih nama Batavia. Menurut catatan sejarah, pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1610 dibangun dengan kanal sepanjang 810 meter. Pada tahun 1817, pemerintah Belanda memperbesarnya menjadi 1.825 meter. Setelah zaman kemerdekaan, dilakukan rehabilitasi sehingga pelabuhan ini memiliki kanal sepanjang 3.250 meter yang dapat menampung 70 perahu layar dengan sistem susun sirih. Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan saksi bisu dan cerminan kehebatan kerajaan-kerajaan di Nusantara dalam membangun basis perekonomian dan menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain. Khususnya bangsa-bangsa yang sudah memiliki peradaban maju seperti kerajaan Belanda dan Portugis di Eropa.

  60. Menuliskan sesuatu yang bertalian dengan satu kejadian, pasti sumbernya adalah fakta kejadian yang bersangkutan, namun tentu dalam proses perjalannnya terpengaruh oleh kondisi-kondisi yang dapat mewarnai inti dari kejadian tersebut. Hal ini, salah satu tujuannnya adalah mempertimbangkan efek sivil yang ditimbulkannya.
    Tulisan demikian bila ditelusuri kebenarannya harus didasarkan kepada bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan tingkat keakuratannya, apalagi suatu tulisan yang diadumaniskan dengan daya imajinatif. Tentu nuansa tulisan tersebut akan berbeda dengan tulisan hasil penelitian terhadap suatu kajian yang bersifat keilmiahan.
    Bebagai factor dan di antaranya yang dominan mempengaruhi terhadap penulisan dari satu kejadian adalah bila tulisan tersebut dihubungkan dengan phenomena kondisi politik yang menyertainya, didukung pula oleh tujuan dari penulisan tersebut untuk mengaburkan bahkan menghilangkan atau menghapuskan jejak. Tulisan bersangkutan tentu akan mengundang berbagai versi untuk kajian generasi berikutnya yang ujung-ujungnya melahirkan kontroversi tak berkesudahan, bak kelindan yang berputar terus-menerus tiada ujung, menjauhkan kesimpulan yang ajeg.
    Celakanya kalau suatu tulisan itu miskin dari bukti-bukti yang memang sengaja dihilangkan, sekalipun ada tidak menutup kemungkinan dibuat rekayasa. Oleh karena itu, benar pendapat yang mengatakan, bahwa kebenaran hakiki dari suatu kejadian adalah yang dimiliki oleh pelaku kejadian itu sendiri, dengan Tuhan Yang Maha Tahu dan Benar.
    Alhasil seperti cerita kejadian “Perang Bubat”, sebagian pihak mengatakan begini…, sebagian pihak mengatakan begitu…, bahkan ada sebagian pihak yang mengatakan kejadian Perang Bubat itu sama sekali tidak pernah terjadi. Semua pihak memiliki argumen dan kajian masing-masing. Sangat logis dan manusiawi karena semua dari kita tentu mempunyai kepentingan dan egonya sendiri-sendiri.
    Yang luput dari pengamatan bahwa setiap manusia mempunyai satu titik keutuhan dalam jiwanya yaitu “ TITIK KEBENARAN” , maka dari itu , dari sejarah harus menjadi tarikan benang dalam suatu lingkaran kearifan yang merangkul toleransi nilai-nilai kehidupan kebersamaan yang tidak menimbulkan konflik.
    Menyikapi terhadap suatu kejadian atau peristiwa yang ditulis dengan penuh rekayasa, tentu memerlukan kehati-hatian tingkat tinggi agar dapat mengurai benang akar permasalahan tersebut. Mengapa hal tersebut menjadi demikian kenyataannya ? Sudah pasti kita tidak mau terjebak dari konflik permasalahan yang terkondisikan itu. Supaya kita berada di tempat netral sesuai dengan kondisi kenyataan yang berlangsung, sedikitpun tidak berpihak kepada salah satu pihak yang terlibat dalam konflik tersebut mengharuskan bertindak “lantip pikiran, wening ati”’
    Permasalahan yang diurai, tentu harus mencari data-data pendukung terhadap lahirnya sebuah rekayasa, termasuk pengaruh-pengaruh yang mempengaruhi yang membiaskan kondisi-kondisi tertentu demi menjaga sebuah pencitraan. Tidak menutup kemungkinan rekayasa dibangun dengan berbagai tujuan yang mendasarinya, di antaranya adalah sebagai berikut :
    1. Untuk menghilangkan jejak.
    2. Untuk kepentingan politik masing-masing pihak.
    3. Untuk mempertimbangkan evek sivil yang ditimbulkannya, bilamana suatu kejadian ditulis dengan sebenar-benarnya.
    4. Untuk mengklaim suatu pembenaran, hal ini tak lepas dari ego dan ambisi.
    5. Untuk mempengaruhi pihak lain dari pihak di luar pihak yang terlibat dalam rangka mencari dukungan.
    6. Untuk menutupi kesalahan, mengapa hal tersebut terjadi.
    7. Untuk mencari popularitas.
    8. Untuk mempertahankan diri.
    9. Untuk menunjukkan super power.
    Kita sebagai generasi yang diwarisi suatu peristiwa tersebut, tentu harus memiliki inisiasi tajam, bilamana ingin menegakkan kejujuran dari sebuah peristiwa dan menghilangkan apriori-apriori yang bersifat subyektif. Kita menyadari bahwa manusia fitrahnya adalah mahluk yang tidak selamaya benar dan tidak selamanya salah. Maka terlalu naïf bila kita langsung tergesa-gesa menjudmen sesuatu yang belum tahu latar belakang terhadap kondisi yang mengkondisikan kepada peristiwa yang telah terjadi. Alih-alih bertujuan ingin menyampaikan kebenaran tapi tak menyadari bahwa dari kita terjebak dalam pusaran konflik yang berpihak.

  61. Artefak-nya masih bisa anda lihat di daerah kawali,disitu anda akan melihat makam (tempat penyimpanan abu jenazah dari mulai raja da putri dyah pitaloka,kalo cerita bohong 1000% ga mungkin…

  62. Hakikinya, dari sejarah untuk sejarah dan oleh sejarah, maka sebagai generasi pewaris sejarah tersebut menjadi sebuah keniscayaan untuk berlaku arif dalam menyikapi dan menilai dari kesejatian sejarah itu sendiri. Al hasil dari itu semua dijadikan pembelajaran yang berharga dalam kerangka membangun karakter bangsa menuju kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.
    (by nimasgaluh, 2012)

  63. Wah wah waahh… Anda2 semua ini wow sekali!

    Saya perhatikan dan menyimak komentar2 anda sekalian. Dan saya pun berkesimpulan ternyata masih saja ada yg ‘haus’ (kalau haus minum air saja. Hehe).
    Dari raja sampai turunan bibitnya masih saja seperti begitu, tak mau mengalah. Yah bisa dibilang ‘haus’. Hehe
    Padahal kitab kidung sunda sudah menjelaskan semua itu, tetapi tetap saja sebagian orang tdk mau menerima karena leluhurnya memang superior, tetap melekat dgn keangkuhannya. Sudahlah kawan, kita cukup menerima kekalahan bagi yg kalah walaupun demi harga diri dan kehormatan, dan bagi yg menang tetaplah menang walaupun karena kepicikannya.
    Tak usahlah kita mendebatkan hal ini, tapi kenyataan sejarah memang telah membuktikan.
    Yg harus kita fikirkan saat ini adalah bagaimana indonesia ini bisa maju dimata dunia bukan hanya terus2an berkembang seperti ini. Hidup indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s