Dark black, bulky, and sturdy
Ungkapan di atas adalah impresi pertama saya saat menerima ThinkPad R61 ini sebagai pengganti Toshiba Satellite A50. Saya lupa kapan persisnya saya berkenalan dengan generasi “kotak” Lenovo (dulu IBM) ThinkPad, mungkin saat kuliah dulu. Namun ciri khas kokohnya tidak pernah lepas dari kepala saya. Saat kantor menawari saya untuk mengganti Satellite A50 maka pilihan saya langsung jatuh ke MacBook/MacBook Pro. Sayangnya perubahan “drastis” dari Windows based ke Mac OS X based perlu usaha extra dan kecil kemungkinannya untuk sukses, maka pilihan selanjutnya jatuh ke ThinkPad. ThinkPad T Series adalah pilihan alternatif, namun akhirnya saya memutuskan untuk mengambil R Series yang lebih bersahabat bagi dana yang sudah dialokasikan.
Spesifikasi umum ThinkPad yang saya gunakan adalah:
Intel® Core™ 2 Duo Processor T8100 (2.1 GHz, FSB 800, Cache 3 MB)
2GB DDR2 SDRAM PC-5300 (SO-DIMM? – belum saya buka sih)
Intel® Graphics Media Accelerator X3100 256 MB (shared)
14.1″ WXGA TFT, Max Res 1280×800
160GB Serial ATA 5400RPM
DVDRW
Yang membuat saya agak kaget adalah baterai kapasitas besar (high capacity battery) menjadi standar yang disertakan dalam tipe R61 7732N6A ini. Awalnya cukup sebal dengan kondisi ini sebab ujung baterai keluar dari keseluruhan body ThinkPad. Namun setelah dua hari ujicoba, saya cukup puas dengan unjuk kerja baterai tersebut. Tapi tetap saja “nonjol”-nya itu bikin gerah.
Setelah serah terima ThinkPad, hal yang pertama saya lakukan adalah melakukan format ulang isi HDD ke factory default. Intinya saya ingin mengetahui isi default ThinkPad ini tanpa adanya embel-embel tambahan instalasi. ThinkPad R61 yang saya miliki tidak menyediakan Recovery/Restore Disk. Bahan recovery/restore tersedia langsung di dalam HDD. Hal ini sebenarnya membuat saya agak khawatir, khususnya jika terjadi sesuatu dengan HDD sehingga bahan recovery/restore tidak bisa diakses. Namun pilihan membuat media back-up adalah solusi paling sederhana untuk mengatas hal ini. Proses restore yang saya lakukan berjalan dengan mudah. Thanks to ThinkVantage Solution yang ditawarkan oleh ThinkPad ini. Cukup dengan menekan ThinkVantage Blue Button saat Startup dan memilih opsi untuk restore. Sisanya akan dilakukan oleh ThinkPad.
Oh ya, kesulitan saya saat memilih ThinkPad adalah tidak tersedianya pilihan Operating System selain Vista meskipun alernatif yang saya inginkan adalah downgrade ke XP. Vista sudah “tertanam” langsung dari factory. Padahal Novell di dalam situsnya menawarkan SUSE Linux Enterprise Desktop sebagai pilihan alternatif yang ingin saya gunakan, terlebih dengan adanya kerjasama Lenovo dan Novell untuk menggunakan Linux sebagai preloaded OS untuk ThinkPad. Sayang, ThinkPad R61 yang saya terima tidak menyertakan pilihan tersebut atau bahkan menyediakan CD SLED. Hihihi.
Berat keseluruhan ThinPad ini sekitar 2.4KG, 2.1KG untuk unit dan 0.3KG untuk baterai. Lebih berat dibanding MacBook saya yang hanya seberat 2.1KG (total termasuk baterai). Saya sempat mengambil gambar perbandingan dimensi antara MacBook, ThinkPad R61, dan Satellite A50. Sepertinya MacBook saya masih jauh lebih elegan. Hehehe.
Catatan
Gambar pertama dari CNet Asia






Yah, kalau saya berada pada posisi Anda, saya mungkin sudah menyesal. Kenapa udah ditawarin kantor untuk ganti laptop, Anda tidak jadi memilih MacBook atau MacBook Pro. Kalau alasannya cuma takut Mac OS X itu ribet, Anda SALAH BESAR. Saya sudah membuktikan pada iMac saya. Keren, desain indah, multitasking lebih cepat.
Mac OS X jauh lebih simpel ketimbang Win XP sekalipun.
Apalagi dengan kehadiran VMware Fusion maupun Parallel (software), kita bisa menjalakan 2 OS secara berdampingan dalam 1 komputer.
Coba deh googling VMware Fusion atau Parallel dan lihat betapa “anehnya” Win XP jalan di dalam Mac OS X.
@omega8719
hmm, setelah saya baca ulang kalimat itu sepertinya justru saya yang keberatan untuk ganti ke MB/MBP ya?
setuju dengan simplicity-nya Mac OS X (it’s been almost 5 months switching to Mac OS X).
Namun yang saya maksud di atas adalah mengubah mindset sebuah “organisasi” untuk beralih ke sistem lain. Dibutuhkan strategi change management yang utuh, sementara tawaran sudah muncul dan keputusan harus segera diambil.
yap…tull…perubahan mindset dari sisi “eksternal” nya yang susah….kita nya sih asik2 aja…hehehehee….
kalo di gua…beda environment saat develop atau testing system kadang dijadiin issue ama orang audit….
yang gua demen dari thinkvantage ini fasilitas access connection nya….
Kang, jadi udah dapat ga Recovery CD R61 untuk XP nya? aku sebel banget, beli dari Metrodata T61 Vista Business, taunya Vistanya tempelan Metrodata, yg spek aslinya adalah DOS setelah diliat di internet
Jadi ga bisa request downgrade ke XP Pro — program yg disediakan oleh Lenovo untuk downgrade dengan mengorder disk 1.
Shitty Vista!! Emang tabrak lari tuh Bill Gates. Heran segitu banyak orang pintar di Microsoft bisanya bikin produk kampret kayak gitu. Huh!
@adinoto:
wah, sorry baru reply, lagi berlibur ke bandung dan jakarta nih.
belum dapet. dan sepertinya sampai saat ini belum berniat untuk cari lagi. Thinkpad-nya sudah di dual boot dengan ubuntu, much faster.
Vista tetap tertanam, untuk backup saat sewaktu-waktu harus running aplikasi yang tidak bisa dijalankan di ubuntu.