Stress Learning?
Istilah tersebut adalah ungkapan yang saya kemukakan kepada Bunbun setelah menyaksikan acara TV Idola Cilik di salah satu TV swasta. Pada dasarnya ungkapan yang lebih umum digunakan adalah stress management namun, menurut saya, stress learning adalah ungkapan yang lebih tepat diberikan dari kondisi yang saya lihat di dalam acara TV tersebut.
Di luar dari protes kecil saya atas konsep acara Idola Cilik dalam posting lalu, ada satu hal yang kemudian membuat saya begitu memperhatikan tingkah-polah bocah-bocah cilik ini, khususnya saat mereka menjalani masa “pembagian raport” untuk kemudian menanti nama peserta yang lolos dan tidak lolos untuk masuk ke babak selanjutnya.
Bagi Anda yang belum pernah menyaksikan acara ini, pada prinsipnya acara ini adalah acara lomba lenggak-lenggok menyanyi untuk dinobatkan menjadi salah satu Idola Cilik Indonesia. Di akhir setiap episode, dengan durasi acara yang bisa mencapai 4 jam, para finalis Idola Cilik ini akan diberi raport oleh salah satu wakil Komentator. Raport berwarna Biru menandakan bahwa mereka lolos untuk maju ke babak selanjutnya sementara raport berwarna Merah menandakan mereka berada di zona tidak aman, mungkin lolos mungkin tidak lolos – tergantung dari jumlah SMS(?) yang mereka terima. Pada akhirnya hanya akan ada satu nama yang tereliminasi di dalam setiap episode.
Dalam sesi pembagian raport, pada finalis ini terkondisikan (mungkin lebih tepat: DIKONDISIKAN) berada dalam suatu tekanan. Tekanan psikologis antara pertanyaan “apakah saya lolos?” atau “apakah saya akan tereliminasi hari ini?”.
Saya sempat termenung beberapa saat kala mengamati situasi penuh tekanan tersebut.
Apakah konsep bermain saat ini sudah mulai memasukan unsur tekanan psikologis semacam ini?
Apakah sudah saatnya bocah-bocah kecil berusia 9-11 tahun ini mendapatkan tekanan sedemikian besarnya?
Yang saya maksud dengan tekanan besar di atas terkadang sangat tidak disadari, bahkan oleh orang terdekat mereka. Ucapan sederhana, “Ayo berlatih agar kamu bisa menjadi juara dalam lomba ini” terkadang bagai pisau bermata dua. Dorongan positif untuk sukses terkadang bisa menjadi tekanan kala mereka tidak diajarkan untuk sanggup menanggung beban yang akan dihadapi ketika mereka kalah – bahkan ketika mereka menang.
Dalam kasus Idola Cilik, saya bisa membayangkan ratusan orang yang memberikan dukungan bagi para peserta, dengan segala bentuk. Ketika transfer tekanan tidak bisa ditahan oleh orang tua, terlebih jika ternyata orang tua ikut memberikan “tekanan” yang sama – berharaplah agar si Kecil bisa menahan semua tekanan tersebut.
Mungkin saya salah.
Toh saya tetap bisa melihat sisi positf dari konsep “pembagian raport” tersebut. Kesempatan untuk belajar berkompetisi sejak usia dini, terlebih dalam event nasional seperti Idola Cilik, bukanlah kesempatan yang bisa dirasakan oleh semua anak-anak Indonesia. Dan, dalam kasus Idola Cilik, kesempatan untuk belajar menangani tekanan (stress learning) adalah kesempatan emas yang bisa membuat calon penerus bangsa ini juga tahan banting.
Mungkin saya salah.
Saat saya mencoba membandingkan tekanan yang saya alami seusia mereka hanyalah tekanan berupa ujian sekolah dan dorongan untuk selalu menduduki ranking pertama di kelas dan di sekolah, ternyata zaman sudah bergeser.
Bahkan seusia Nayya, ia sudah ditantang oleh sang Guru dengan kalimat “Nayya mau bernyanyi di depan kelas untuk Imam yang berulang tahun hari ini?” Sebagai jawaban, Nayya berjalan ke depan dan kemudian langsung bernyanyi Happy Birthday To You – tanpa rasa ragu.
Mungkin saya salah.
Stress Learning bukanlah ide yang buruk. Namun, apakah sang Orang Tua juga bisa belajar untuk melepas stress tersebut sedikit demi sedikit bagi sang buah hati? Jangan sampai pisau itu melukai buah hati kita.





Bagus banget. aku terispirasi sama kamu!
sindrom ingin membahagiakan orang lain pada anak, padahal belum tentu mereka bahagia ngelakuin itu
subhanallah, “curhatan” yang menarik.
Salam kenal
Priyanto Hidayatullah
Blog Parenting Islami