Indonesia Bangkit dan Mimpi
Mei 21, 2008 oleh arya
Apa mimpi Anda 100 tahun yang akan datang bagi dan tentang bangsa ini?
Pertanyaan ini yang muncul dalam benak saya saat menyaksikan riah upacara satu abad kebangkitan nasional. Saya mencoba meredam gemuruh di dada. Emosi tersebut begitu memuncak sehingga membuat mata saya menjadi kabur oleh setitik genangan di sana.
100 tahun bukan masa yang singkat untuk mengubur sebuah mimpi. Namun rasa pilu itu begitu aktif menggeliat ketika saya menyadari saya tidak bisa mengingat mimpi sebuah bangsa bernama Indonesia. Sebuah Visi dan Misi, yang dengan manis ditorehkan dalam satu lembar mukadimah. Visi dan Misi yang saya hafal luar kepala saat di bangku sekolah dasar, meskipun saat itu ilmu manajemen adalah sebuah alien terselubung dalam bahasa yang sulit untuk diucapkan.
Apakah bangsa ini masih punya mimpi yang sama? Ketika Visi dan Misi hilang, jangankan tujuan, jalan setapak yang akan dilalui memudar, arah langkah tergoyah.
Mimpi Anda dan mimpi saya mungkin berbeda. Tapi, apakah mimpi kita berdua searah dan setujuan dengan mimpi bangsa ini? Mungkinkah mimpi kita berlawanan?
Ketika hidup semakin getir, apakah mungkin mimpi dijual? Tidak perlu terlalu mahal, yang penting nasi terbeli, rumah lantai tiga terhuni, mobil beroda empat - berpintu dua - bermesin turbo tertunggangi. Tidak perlu terlalu mahal, darah yang kotor adanya di dalam tubuh, tak terlihat saat terlapisi safari kelabu, duduk di kursi empuk, mewakili para pemilih tertipu.
Apakah mimpi kami telah hilang?
100 tahun, haruskah kami langkahkan kaki kembali dari awal - dengan bermimpi?




