

Kerupuk mungkin kriuk-kriuk. Renyah bisa jadi tuntutan pasar. Coklat, kuning, bundar, dan corong boleh saja jadi kenangan. Namun kenangan kerupuk yang ada di benak saya adalah “blek” kerupuk – semacam kaleng kerupuk dari seng dengan warna khas hijau atau biru dengan kaca tembus pandang di bagian depan. Dua blek silindris raksasa yang dipanggul pundak adalah transportasi wajib kerupuk saat berkelana dari gang ke gang di sekitar rumah saya. Itu adalah kenangan masa kecil saya.
Modernisasi mungkin sebatas pilihan, namun jarak tempuh antar kampung yang bisa mencapai puluhan kilometer jelas bukan alternatif blek panggul di negeri Kalimantan ini. Bandung dan Bogor tempat saya biasa melihat blek panggul juga sudah mulai beralih menggunakan kereta dorong. Roda adalah penemuan ajaib yang kini digunakan oleh penjaja kerupuk. Kalimantan jelas bukan Jawa. Celah pasar di kampung terjauh tetap harus menjadi sasaran. Meskipun harga kerupuk bisa melonjak karena alasan biaya transportasi. Kerupuk pun butuh bensin.
Catatan kaki:
Pemandangan penjaja kerupuk bermotor adalah rutinitas di kota tempat saya tinggal, termasuk saat sang penjaja menghilang dan tenggelam dibalik timbunan produk yang mereka jajakan. Jarak tempuh terjauh yang saya ketahui bisa mencapai 2 jam perjalanan motor bebek. Lampu rem yang tidak terlihat bukan halangan mereka untuk berkeliling. Bahkan mungkin, hanya Tuhan yang tahu saat mereka memberikan isyarat berbelok.




