Anakku, anugerahku

Anak, bagi saya, adalah anugerah – yang bersama dengan kehadirannya, muncul serangkaian tanggungjawab sebagai orang tua untuk menjaga, melindungi, membimbing, dan mendidik.

Konsep dan bentuk menjaga, melindungi, membimbing, dan mendidik bisa beraneka-ragam. Masing-masing keluarga memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari bangun malam, mencuci popok, menyanyikan lagu tidur, hingga mengajarinya naik sepeda. Konsep dan bentuk ini juga akan berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan sang buah hati.

Lalu…

Seberapa besar kita akan berkorban demi anak-anak kita?
Seberapa jauh kita akan melangkah demi anak-anak kita?

Menyaksikan film Flightplan (Jodie Foster) dan membandingkannya dengan apa yang telah saya alami selama 4 bulan ini membuat saya merenungkan 2 kalimat di atas.

Jawaban standard yang saya pernah kenal adalah

…laut kan ‘ku seberangi, gunung ‘kan ‘ku daki…

Atau

…lautan api akan ‘ku seberangi…

Dan

seganas-ganasnya induk macan, ia tidak akan pernah memakan anaknya…

Masih ada lagi

…kasih ibu sepanjang jalan…

Apapun jawaban yang diberikan, baik standard, khusus, ataupun nyeleneh, semuanya bermuara pada satu makna dimana orang tua akan melakukan apapun, dalam konteks positif, bagi buah hati mereka.

Senyumnya, tawanya, dan celotehnya, senilai seluruh pengorbanan yang kita berikan baginya. Sejauh yang memungkinkan, kita akan selalu menjaganya agar dapat tetap tersenyum, tertawa, dan berceloteh – menikmati pertumbuhannya sebagai anak manusia.

Meskipun demikian, konsep menjaga, melindungi, membimbing, dan mendidik di atas bagaikan pisau bermata dua. Seringkali pengorbanan orang tua bergeser menjadi pemuasan akan kebutuhan dan kesenangan mereka sendiri, terutama saat hal-hal yang dilakukan atau terjadi pada anak mereka tidak sejalan dengan apa yang telah mereka pikirkan.

Menangis, bertingkah-laku menjengkelkan, sulit tidur, rewel, dan masih banyak lainnya yang dikeluhkan oleh orang tua pada dasarnya hanyalah perbedaan persepsi orang tua tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh sang anak.

Orang tua seringkali melompati fasa anak-anak, bahkan fasa bayi, dalam kehidupan buah hati mereka. Maksudnya adalah orang tua sering berpikir bahwa anak mereka seharusnya melakukan apa yang mereka pikir akan lakukan, bukan sebaliknya.

Bermain tanah itu kotor, anak tidak boleh bermain kotor.

Pisau itu berbahaya, jauhkan anak dari pisau.

Naik tangga bisa jatuh, larang anak menaiki tangga.

Berlari-lari di dalam rumah bisa berbahaya, cegah anak berlari-lari.

Bagaimana jika kalimat-kalimat di atas saya modifikasi menjadi seperti yang ada di bawah, yang menunjukan pergeseran pengorbanan orang tua.

Bermain tanah itu kotor, mencuci bajunya sulit, apalagi jika penyakit masuk ke dalam tubuh.

Pisau itu berbahaya, jika terluka biaya rumah sakit pasti mahal.

Berlari dalam rumah harus dicegah, saat ia terjatuh atau terantuk sulit menenangkannya, padahal pekerjaan rumah tangga belum selesai.

Pengorbanan dan langkah-langkah yang kita ambil untuk melindunginya tidak berarti mengekang kebebasannya berekspresi dan mengenal dunia dalam rangka tumbuh-kembang.

Lalu, seberapa jauh saya telah melangkah selama 5 hari sejak kedatangan Nayya pertama kali ke kota ini?

Belum banyak, namun jangankan kehilangan anak di ketinggian 40.000 kaki sebagaimana yang dikisahkan dalam Flightplan, saya sering harus mencoba menenangkan diri saat kening Nayya selalu berkeringat kala bangun tidur, tapi saking cemasnya dengan keringat yang bercucuran dan keringat buntet yang mulai bermunculan, akhirnya saya memasang AC khusus di kamar tidur. 🙂

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

4 thoughts on “Anakku, anugerahku”

  1. sip.. ditunggu cerita bulan2 berikutnya.. waktu nayya mulai merangkak, waktu nayya mulai berjalan, waktu nayya mulai lari, waktu nayya mulai ngoceh, waktu nayya bisa protes, dll.. dll.. dll.. 😀

  2. Weleh, jalan masih panjang ya? Gimana rasanya tuh? Waktu pertama kali ngeliat Nayya berguling dan tengkurep aja gembiranya gak ketulungan. 😀

  3. hihihi…same w/ me…

    Menariknya, tanpa bermaksud mengecilkan peran orang2 yang memang sengaja atau tidak menjadi single parent, ayah dan ibu, masing2 menjadi penyeimbang yang satu buat yang lainnya.

    Contohnya:
    Mengenai kebersihan ama kerapihan gua lebih “keras” ke Rekia dibanding Nana. Apalagi sejak dia kena diare. Sebelum & sesudah makan, waktu masuk rumah, cuci tangan-kaki itu harus. Nggak hanya Rekia, tapi semua yg di rumah.
    Buat gua, egala sesuatu mesti udah ter-predict, enggak cuman 1 sampe 2 langkah, kalo bisa 5 langkah ke depan. Hal ini diimbangi ama Nana yang lebih santai…yahhh easy going aja….

    Kalo udah menyangkut Rekia, misal kayak jatuh, sakit, dll, Nana panikan. Ini diimbangi gua yang sebenernya panik juga sih, tapi berusaha berpikir tenang aja.

    Keliatannya gua irit, padahal gua amat boros kalo buat Rekia. Ntah mainan, makanan, pakaian, segala deh pokonya….(mudah2an enggak bikin dia manja)
    Lagi jalan2 aja…trus “Eh…meja lucu nih…topi lucu nihh…” kekekekekk.
    Untungnya ini diseimbangin ama Nana, yang biasanya untuk kayak gitu2 lebih ter-planning :P.

    Yah…masing2 menjadi penyeimbang buat lainnya.

  4. untoro: yang penting jangan lupa bahwa anak kita juga pasti punya sesuatu dalam dirinya yang harus ia “keluarkan”. Jangan lupa, bagian dari tumbuh kembang adalah juga merasakan sakit, pedih, dan perih. Pernah dibahas juga di posting sebelumnya, yang tentang kupu-kupu itu lho.

Comments are closed.