Tuhan Sembilan Senti

Membaca blog Mas Priyadi dengan judul yang sama, Tuhan Sembilan Senti, saya jadi mengingat-ingat kembali bagaimana saya mulai mengenal rokok dan akhirnya berhenti dan dikenal sebagai aktivis anti rokok di kantor saya.

Mengenal rokok sejak kelas 3 SMP. Curi-curi merokok di sudut warung depan sekolah, namun tempat favorit untuk merokok adalah di dalam mobil teman saat nongkrong di sepanjang jalan Dago Bandung. Saat itu merokok merupakan beban bagi saya. Selain karena sering dihantui rasa takut ketahuan orang tua, juga karena rasa sesal dan aneh bahwa uang yang saya gunakan untuk membeli rokok (saat itu saya sudah berpikir bahwa uang tidak layak untuk dibakar, dihisap, lalu dihembuskan kembali ke udara) adalah uang jajan dari orang tua.

Saat SMA, rokok lebih merupakan alat untuk bergaya di depan wanita. Rasa sesal dan aneh masih sering higgap di hati namun ditutupi dengan cara “jarang membeli rajin meminta”. 😀

Kuliah? Wah, terlebih di saat-saat akhir masa kuliah, saat saya mulai mendapatkan uang sebagai asisten lab dan menangani project-project tertentu dan (tentu saja alasan klasik) saat beban tugas akhir mulai merongrong tidur malam, merokok bertransformasi menjadi kebutuhan dan solusi “suntuk”.

Pada 2 tahun awal masa kerja, rokok adalah teman hidup. Tidak ada yang mampu memisahkan saya dari sang Tuhan Sembilan Senti. Kisikan hingga omelan sang kekasih, anjuran teman, bahkan teguran halus atasan tidak mampu menggoyahkan keimanan saya. Meskipun demikian saya masih menyimpan rasa sesal itu di hati. Terbukti dari cara saya merokok yang selalu mempergunakan tangan kiri. Trik ini merupakan warisan SMP, saat saya mencoba menghindari model pengawasan orang tua yang selalu mencium jari-jari tangan kanan saya untuk membuktikan bahwa saya tidak merokok. (Maafkan saya yaa, Mamah. :-()

Entah apa yang terjadi, saya tidak bisa mengingatnya, saya berhenti merokok. Drastis. Langsung berhenti. Yang saya ingat hanyalah NIAT yang kuat bahwa rokok bukanlah bagian dari hidup saya.

Jadi, bagi saya, sangat aneh jika ada yang mempertahankan kegiatan merokok dengan alasan mengembangkan olahraga nasional.

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

(Petikan dari puisi Tuhan Sembilan Senti karya Taufiq Ismail)

Kalau mau mengembangkan olahraga nasional, berhentilah merokok. Gunakan uang untuk membeli rokok untuk membangun olahraga nasional. Percayalah, NIAT mulia anda untuk mengembangkan olahraga nasional pasti terwujud.
Anda sehat, olahraga Indonesia maju. 😀

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.