Tips Bagi Ayah Tentang Vaksinasi

Hari Rabu lalu, saya dan istri membawa Nayya untuk vaksinasi DTaP yang ke 3 dan Polio yang ke 4. Bagi saya, hari itu adalah pengalaman vaksinasi pertama saya. πŸ˜€

DTaP (atau beberapa orang/situs menyebutnya DPaT) adalah vaksinasi dengan komponen pertusis asselular dengan efektifitas yang sama dibandingkan DTP biasa namun memberikan dampak panas/demam yang lebih rendah. Dokter yang menangani Nayya berkata bahwa kemungkinan Nayya untuk panas/demam setelah menerima vaksinasi ini adalah 0.01%, atau 99.99% tidak akan demam. Meskipun demikian dokter sempat menanyakan apakah kami memiliki obat penurun panas di rumah. πŸ˜€

Berikut adalah tips yang bisa saya bagi tentang hal-hal yang perlu diperhatikan saat membawa putra/putri kita vaksinasi:

  1. Pastikan bahwa anda mengetahui jadual imunisasi/vaksinasi anak anda berikutnya. Beberapa dokter menyarankan agar vaksinasi sejenis dilakukan tidak kurang dari 30 hari setelah vaksinasi sebelumnya. Buku/kartu vaksinasi anak anda biasanya memuat juga jadual ini.
  2. Bawalah buku/kartu vaksinasi anak anda setiap kali kunjungan. Buku vaksinasi akan menjadi catatan sejarah vaksinasi dan kesehatan anak anda.
  3. Pastikan anak anda diperiksa terlebih dulu oleh dokter sebelum diberikan vaksinasi. Pemberian vaksinasi sebaiknya dilakukan saat anak anda sehat. Tentu saja sehat dalam penilaian dokter.
  4. Berikan informasi kepada dokter jika anak anda mengalami efek samping sebagai akibat vaksinasi sebelumnya.
  5. Setelah vaksinasi diberikan, pastikan dokter menambahkan catatan tentang pemberian vaksinasi tersebut dan jadual vaksinasi berikutnya dalam buku/kartu vaksinasi.
  6. Bertanyalah dan bertanyalah tentang apapun sehubungan dengan vaksinasi yang telah dilakukan atau vaksinasi berikutnya. Petunjuk yang dapat saya berikan sebagai panduan pertanyaan adalah jadual vaksinasi berikutnya, efek samping apa yang mungkin dialami anak anda (panas, demam, alergi, etc), atau apa bedanya suatu vaksinasi tertentu dengan vaksinasi lainnya.
  7. Perhatikan anak anda dengan seksama saat telah menjalani vaksinasi. Catat, dan jika perlu hubungi dokter, saat terjadi perubahan/gejala tidak biasa diluar keterangan yang telah diberikan dokter.

Beberapa vaksinasi tidak akan memunculkan reaksi/gejala dalam waktu singkat, contoh yang saya alami adalah vaksinasi BCG. Efek vaksinasi baru muncul 2-3 minggu setelah vaksinasi dilakukan. Efek yang muncul biasa adalah terjadi pembengkakan/benjolan tanpa nyeri pada bagian yang disuntik. Benjolan akan mengeluarkan semacam nanah (atau memang nanah?) yang pada akhirnya akan menghilang dengan sendirinya dan meninggalkan bekas luka di bagian yang disuntik.

Itulah tips dari seorang ayah bagi ayah lainnya yang akan membawa putra-putrinya vaksinasi.
Yang menarik, saya baru menyadari bahwa buku vaksinasi Nayya, dalam 4 bulan ini, telah diisi oleh 3 orang DSA yang berbeda.

Sumber:
Pengalaman pribadi
Wikipedia, keyword Jadwal Imunisasi
GlaxoSmithKline

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

4 thoughts on “Tips Bagi Ayah Tentang Vaksinasi”

  1. duh aku gak pernah tuh ikut istri saya pergi ke posyandu buat ikutan liat imunisasi anak aku, tapi yang aku tau seeh, istri ku pernah bilang kalo putri ku udah lengkap imunisasi nya.

    btw, mas kok banyak tau, dapet dari mana seeh info info yang di post ke blog ini?

  2. sebagian besar informasi yang saya posting saya dapat dari kehidupan saya sendiri, namun untuk memperkaya isi posting, biasanya saya cari di buku-buku yang pernah saya baca dan (tentu saja) internet. beberapa (yang masih saya tahan) malah dari hasil diskusi. :-D, diskusi angin-anginan.

  3. kalo waktu rekia…isu yg santernya tentang thimerosal…

    gua ama nana minta merk tertentu untuk DTaP…
    disangka dokter, rekia ada riwayat panas tinggi ato kejang gituu… (karena merk yg kita minta memang DTaP yang ga panas)
    trus kita cerita tentang thimerosal yang takutnya jadi pencetus autis…

    jadi diskusi panjang ama DSA-nya, kesimpulannya sih memang thimerosal bukan pencetus autis…

  4. to untoro:
    wah, kemana aja…meni menghilang?
    kalau aku kemarin sih langsung minta yang gak panas aja.
    Dokternya juga langsung ngerti πŸ™‚

Comments are closed.