Hari Tanpa Sinetron (TV)

Dua hari belakangan ini saya menerima beberapa email (dan tentu saja feeds) tentang aksi “Hari Tanpa TV”. Acara yang digagas oleh Kidia ini akan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada tanggal 23 Juli 2006, bertepatan dengan Hari Anak Nasional.

Tujuan aksi “Hari Tanpa TV” adalah mendesak industri penyiaran agar benar-benar memperhatikan kepentingan masyarakat, terutama perlindungan terhadap anak dan remaja serta menumbuhkan sikap kritis masyarakat terhadap siaran televisi. Informasi lain seputar aksi: Aksi damai Hari Tanpa TV dan Mengapa perlu ada Hari Tanpa TV.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti aksi tersebut di atas, ada dua hal yang terlintas di kepala saya saat mendengar dan membaca berita tentang aksi ini:

  1. Apakah “industri penyiaran” menjadi penyebab utama carut-marut siaran televisi di Indonesia?
  2. Apa tolok-ukur dan target “sikap kritis” masyarakat, khususnya terhadap tayangan televisi kita?

Suka tidak suka, adalah salah satu penemuan terbaik manusia di abad modern ini. Metode penyampaian data dan informasi secara audio-visual menjadi trend yang terus berkembang, bahkan hingga saat saya menulis posting ini. Sayangnya, di Indonesia, perkembangan teknologi penyiaran tidak diimbangi dengan perkembangan pengetahuan (knowledge), kemampuan (skill), dan sikap mental (attitude) para pelaku industri penyiaran, pemerintah, dan (yang paling penting) pemirsa televisi.

Wah, kok pemirsa televisi di bawa-bawa?

Sebagaimana industri lainnya, industri penyiaran membutuhkan pasar, yaitu pemirsa televisi, untuk memasarkan produk mereka yang berupa program dan siaran televisi. Sebenarnya posisi pemirsa televisi (kita) cukup kuat. Lihat saja bagaimana persaingan beberapa televisi swasta untuk mendapatkan “atensi” pemirsa televisi (baca: meningkatkan rating). Acara dikemas seindah mungkin, narasumber berita digunakan sebagai alat justifikasi kesahihan berita (klarifikasi gempa kok nanya sama paranormal), dan lainnya. Sayangnya (lagi-lagi) pemirsa melahap semua acara yang disajikan, melahap semua informasi yang diberikan. Pemerintah malah dengan bangga menyampaikan keberhasilan dan kemajuan industri pertelevisian Indonesia, sambil berpura-pura tidak tahu (atau memang tidak tahu?) keterkaitan antara jumlah jam menonton TV dengan tingkat kelulusan siswa/siswi SMP dan SMA.

“Apakah kita tahu”:

  1. bahwa di beberapa negara, televisi (baca: siaran televisi) dilarang untuk disaksikan oleh suatu tingkatan usia tertentu? Oleh karena itu diberlakukan sistem peringkat (rating) bagi setiap acara yang memudahkan pemirsa televisi untuk menentukan batasan usia yang diiizinkan untuk menyaksikan acara tersebut?
  2. bahwa negara Swedia menetapkan aturan larangan untuk mengeksploitasi anak dibawah usia 12 tahun melalui iklan komersial?
  3. bahwa anak-anak di Amerika rata-rata menghabiskan 25 jam per minggu untuk menonton TV? Studi lebih lanjut menyatakan bahwa hal tersebut memiliki pengaruh terhadap tingkat pendidikan dan tingkat kedewasaan anak.
  4. bahwa hasil penelitian di New Zealand semakin mengukuhkan keterkaitan antara kelulusan atau pencapaian tingkat pendidikan dengan jumlah waktu yang dikonsumsi seorang anak untuk menonton TV?
  5. jumlah waktu yang dicadangkan oleh stasiun televisi khusus untuk siaran pendidikan?

Saat seorang rekan bertanya tentang siaran televisi yang paling tidak mendidik, jawaban saya cukup sederhana

Sinetron

Rasanya kemuakan saya atas sinetron televisi di Indonesia sudah tak tertahankan. “Udah ngga mendidik, dipanjang-panjangin lagi ceritanya”.
Namun jangan lupa, sinetron menjadi suatu gambaran cerita dan angan-angan bagi masyarakat kebanyakan di negeri ini (lagi-lagi saya dipaksa untuk menyadari hal ini).

Masyarakat Indonesia yang gemar akan gambaran
seorang remaja kaya raya yang jatuh cinta pada gadis miskin yang tinggal di pinggiran tempat sampah;
gadis miskin yang ternyata adalah anak konglomerat, namun dimusuhi oleh ibu angkatnya yang digambarkan sebagai sejahat-jahatnya ibu;
dan…saya yakin anda bisa menambah panjang daftar ini.

Secara hirarki, Pemerintah harus menjadi motor penggerak dan segera membenahi kisruhnya siaran televisi nasional melalui suatu (sebut saja) Kebijakan Penyiaran Nasional yang mencakup integrasi undang-undang penyiaran, perlindungan investasi industri dan teknologi penyiaran, undang-undang perlindungan anak, undang-undang perlindungan konsumen, perlindungan atas hak-hak asasi masyarakat di bidang ekonomi, sosial, dan budaya, serta undang-undang pendidikan nasional.

Sulit!? Tidak juga, lha wong Undang-undang pornografi dan pornoaksi yang sama sekali tidak terfikirkan oleh saya bisa digarap oleh Pemerintah.
Apakah kita mampu? Pertanyaan yang lebih tepat adalah “Apakah kita mau?” Ini adalah pertanyaan akan sikap mental kita, bangsa ini.

Jika imbalan yang kita peroleh adalah kehidupan yang lebih baik bagi Nayya dan putra-putri bangsa ini, maka mari kita benahi bersama.
Mulai dari sekarang, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri.

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

8 thoughts on “Hari Tanpa Sinetron (TV)”


  1. perkembangan teknologi penyiaran tidak diimbangi dengan perkembangan pengetahuan (knowledge), kemampuan (skill), dan sikap mental (attitude) para pelaku industri penyiaran, pemerintah, dan (yang paling penting) pemirsa televisi.

    mungkin inilah yang menyebabkan aksi tersebut di gagas

  2. kebutuhan akan pemenuhan keinginan yang tidak kesampaian menyebabkan banyak oraang yang hanya bisa berandai2 saja tanpa memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkannya. Hal ini mungkin menyebabkan banyak yan suka sinetron yang gak mendidik tapi terus mengajak penontonnya untuk berandai2. Tak hanya pemerintah tapi juga kita harus merubah sikap kita. Pengembangan kesadaraan dan pemilihan siaran yg berkualitaaaas adalah millik kita semua. Karena semua karya yg ada dibuat untuk tujuan yg baik.

  3. tidak semua yang kita harapkan akan selalu kita dapatkan…
    that’s life..
    tinggal bagaimana kita berusaha, dengan itikad baik, menyikapi peristiwa yang terjadi dengan bijak… merupakan tantangan bagi kita semua atas segala perubahan dan kejadian yang ada, memperbaikinya degan cara yang baik pula..
    sehingga kita bersama sama bisa saling mnegingatkan dan membuat keadaan menjadi lebih baik dan adil buat semuanya

  4. wahai keluarga korban adam air,semua ini adalah kehendak yang maha kuasa yang mana kita harus mengambil hikmahnya saya turut berduka cita atas korban adam air.sesungguhnya allah telah memberikan pelajaran kjepada kita semua agar para umat manusia banyak bertobat yang mana ditahun yang lalu sering terjadinya bencana2 allah marah dan murka terhadap kita, saya hanya bisa membantu kepada para keluarga korban dan segenap para pasukan pencarian adam air bacalah selalu nida yaa saayyidi yaa rosulullah dan bermujahadahlah untuk bisa ketemunya adam air dan para korban. hanya sholawatlah yang dapat membantu kita. PONDOK PESANTREN KEDONGLO AL-MUNADDHORROH. Jl. KH WAHID HASYIM BANDAR LOR KEDIRI 64114. pabila ingin lebih jelasnya hubungi alamat ini untuk minta petunjuk hal apa yang harus dilakukan. semoga allah membuikakan pintu ampunan kepada kita semua.amin

  5. saya setuju sama pendapat anda dengan sinetron indonesia yang mulai memuakkan….gak relevan, terlalu banyak menjual mimpi, banyak dampak negativ yang saya temui di lingkungan saya terutama yang udah terpengaruh negativ tv. walau saya gak munafik mengakui bahwa say hobi nonton tv, namun keadaan pertelevisian kita sekarang telah bopeng dan banyak merusak moral……saya ikut hari tanpa televisi……..

  6. Kemarin kakak saya bertamu kerumah bersama dua anak perempuannya yang masing berumur 8 dan 12 th . Kedua anak itu langsung duduk didepan TV dan merubah saluran TV untuk menonton sinetron. Kemudian mereka saling membahas cerita sinetron itu dengan serunya , terdengar yang satunya berkata , ” si A itu selingkuh dengan si B … kemudian si C cemburu … ” lalu kakaknya ganti menjawab ” bukan selingkuh .. tapi dia diperkosa … dst … dst .. ” . Aku terhenyak mendengar pembicaraan anak2 kecil itu , rasanya tidak pada tempatnya anak2 membahas hal2 seperti itu .
    Beberapa waktu yang lalu teman saya dipanggil oleh kepala sekolah , karena putranya yang duduk dikelas 4 SD mencium teman putri sekelasnya.
    Usut punya usut ternyata anaknya yang selalu ditinggal kerja oleh ortunya , sehari-hari dijaga oleh pembantunya sambil nonton sinetron.
    Yah .. apa boleh buat , itulah karya TV2 kita

  7. Assalamualaikum, numpang baca n komen ya
    aq ikut prihatin dgn byk’a acr tv yg ga mndidik tp klo bwt q pribadi ga ngaruh coz aq nonton tv ga lbh 10 jam dlm setahun ( ga pny tv sich 🙂 )

Comments are closed.