Masih Ingat Saya, Pak?

Hari Minggu siang kemarin, saya seperti biasa pergi ke toko swalayan langganan untuk membeli roti tawar sebagai bekal sarapan untuk 5 hari ke depan. Saat membayar, petugas kasir menyapa saya dengan ramah:

Selamat siang Pak Arya. Kok anaknya tidak dibawa hari ini?

Saya sangat terkejut dan sekaligus malu, sebab saya tidak bisa mengingat siapa dirinya. Saya hanya bisa membalas senyumnya dan

Hari Minggu siang kemarin, saya seperti biasa pergi ke toko swalayan langganan untuk membeli roti tawar sebagai bekal sarapan untuk 5 hari ke depan. Saat membayar, petugas kasir menyapa saya dengan ramah:

Selamat siang Pak Arya. Kok anaknya tidak dibawa hari ini?

Saya sangat terkejut dan sekaligus malu, sebab saya tidak bisa mengingat siapa dirinya. Saya hanya bisa membalas senyumnya dan menjawab bahwa putri saya sedang tidur sehingga saya tidak membawanya saat itu. Meskipun demikian mata saya tetap memancarkan ingatan saya yang bekerja keras untuk mengingat siapa dirinya.

Dan, petugas kasir agaknya melihat usaha saya tersebut lalu menambahkan:

Pak Arya pasti tidak ingat saya, kan?

Ya, saya memang tidak dapat mengingatnya meskipun wajah tersebut seperti pernah saya kenal sebelumnya. Akhirnya saya hanya bisa meminta maaf karena saya melupakan dirinya.

Sayang sekali, penghargaan yang telah diberikan dirinya tidak dapat saya balas dengan semestinya. Padahal posting saya sebelumnya tentang Berinteraksi dengan Manusia jelas-jelas menggambarkan bahwa penghargaan yang tulus adalah salah satu cara untuk membuat orang merasa penting.

26 jam kemudian:
Akhirnya saya dapat mengingat dirinya kembali.
PR: meminta maaf nih

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

3 thoughts on “Masih Ingat Saya, Pak?”

  1. to phrostypoison:
    dia adalah salah seorang siswa smea magang di bagian saya sekitar 2 tahun yang lalu.
    🙂

    to aribowo:
    waah, mantan pacar lupa nama? huahaha 😀

Comments are closed.