Kartu Kredit Untuk Segalanya

Pernah melihat iklan Visa dengan tema “burung”? Untuk mengingatkan, screen akhir dari iklan ini adalah sebuah kartu kredit Visa berwarna emas dengan tag “Untuk Segalanya”.
Pagi ini, iklan tersebut menarik perhatian saya. Bukan karena intensitasnya yang cukup tinggi, 2 kali tayang dalam jangka waktu 5 menit, terlebih saat berita pagi hari. Iklan ini menarik perhatian saya karena tag-nya itu.

Bagi saya, Untuk Segalanya adalah pilihan kata yang powerful.
Untuk Segalanya (dalam kartu kredit) juga berima dengan “for everything else that money can’t buy” (ini iklan apa ya?)
Atau signature unik salah satu rekan dari milis Id-PalmOS yang terjemahannya kurang lebih adalah “uang bukanlah segalanya, untuk itu diciptakan Kartu Kredit”

Saya jadi teringat saat berbulan madu di Bali. Sebuah toko menolak uang yang saya berikan untuk membayar sebuah kaus,

Bayarnya pake kartu kredit aja, Mas.
Kita gak terima uang tunai

Saya langsung keluar dari toko tersebut, tapi tentu saja karena saya memang tidak punya kartu kredit saat itu. 😀

Dunia memang bergerak sedemikan cepat. Bahkan tukang sayur yang biasa lewat di depan rumah dengan motor tua kesayangannya, saat ini mampu menerima pesanan sayuran, telur, daging, bumbu-masak, dan lainnya melalui sebuah pesan singkat (SMS) di HP-nya. Tapi, apakah benar sedemikian powerful-nya sebuah kartu kredit?

Saya hanya bisa termenung saat mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Hingga saat ini saya belum pernah melihat parameter yang dapat dijadikan acuan kuantitatif tentang ke-pwerful-an sebuah kartu kredit, sehingga kartu kredit berhak “mematenkan” dirinya “Untuk Segalanya”.

Saya sendiri adalah pengguna kartu kredit – yang paling malas. 😀
Catatan penggunaan saya mungkin adalah yang paling buruk – maksudnya paling jarang menggunakan kartu kredit dan saat saya menggunakannya saya akan membayar lunas saat jatuh tempo.
Lalu, jika demikian, untuk apa saya memiliki sebuah kartu kredit?

Ingat, selain kegunaannya sebagai sebuah bukti dan hak anda untuk mendapatkan kredit dari penerbit kartu, anda juga mendapatkan, paling tidak, 2 hal positif dengan adanya kartu kredit yaitu:

  1. Relatif lebih aman karena anda tidak perlu selalu membawa cash dalam jumlah besar. Ingat: Relatif. Kartu kredit tidak menjamin anda tidak akan pernah dirampok. 😀
  2. Relatif lebih nyaman. Bandingkan saat anda harus membawa cash dalam jumlah yang setara dengan limit kredit dari kartu kredit anda, paling tidak saku atau dompet anda akan lebih tipis dan mudah masuk ke dalam saku.

Apakah model penggunaan yang saya lakukan termasuk dalam kategori “Untuk Segalanya” di atas?

Lalu, mengapa “Untuk Segalanya” tidak dapat saya gunakan saat saya hendak membeli permen karet di warung dekat rumah?
Mengapa istri saya tidak bisa memanfaatkannya saat membeli bawang putih di PakLik tukang sayur? (Padahal PakLik sudah jago ber-sms lho sekarang)
Mengapa Paman Gober masih senang berenang dalam lautan uang receh?
Dan penjual burung di sini masih kebingungan saat saya tanya apakah ia lebih senang menerima visa atau mastercard, padahal tukang burung dalam iklan di atas lebih menyenangi Visa. 😀

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

4 thoughts on “Kartu Kredit Untuk Segalanya”

  1. uuuuu….diawal kayak nya serius amat neeh bahas kartu kredit gak tau nya masih becanda aja…

    tapi setelah di pikir-pikir berlebihan juga seeh slogan *Untuk Segalanya*

  2. Lho, bagian akhir itu justru yang paling serius, Mas.
    Di mana, di Indonesia ini, ada tukang burung yang nerima kartu kredit? 🙂

  3. Untuk segalanya, maksudnya mungkin ke depannya nih, menurut ramalan-ramalan, udah hampir gak digunakan tuh uang tunai. Semua data masuk di dalam 1 chips, entah itu fasilitas kuangan, debit , kredit, kartu tol, kartu HP, kartu asuransi/jamsostek, keanggotaan ini itu, de-el-el. ada ramalan lagi lama-lama chips itu akan ditanam di tubuh….hi serem…

Comments are closed.