Ketika Si Kecil Complain

Apa yang harus kita lakukan jika bayi mungil kita mengomel dan complain?

Kisah ini sebetulnya terjadi seminggu yang lalu saat Nayya tengah sakit diare-bingung.
Sakit yang dialami Nayya memang saya beri nama diare-bingung sebab bukan hanya membuat bingung ayah dan Bunbun tetapi juga membuat bingung Dokter. πŸ˜€
Sebetulnya penyakit yang dideritanya hanyalah diare ringan tanpa terjadi dehidrasi. Penyakit tersebut juga tidak mengganggu intake Nayya. Asupan makanan dan minuman tetap berjalan dengan lancar, meskipun Bunbun harus ekstra-kreatif agar makanan yang disuapinya dapat masuk semua, tidak disembur-sembur.

Begini kisahnya:

Hari minggu pagi, 3 September 2006 sekitar jam 08.00, Bunbun menitipkan Nayya yang baru saja tertidur kepada saya. Bunbun akan keluar untuk membeli makanan ringan untuk kami sumbangkan ke mesjid komplek, yang siangnya akan mengadakan acara ceramah.

Saat Bunbun baru saja keluar, Nayya tiba-tiba terbangun. Saat menatap saya, ia tersenyum, lalu asyik memandangi langit-langit. Namun lama-kelamaan saya menjadi curiga saat Nayya hanya terdiam dan asyik sendiri memandang berkeliling ruangan. Bukan tipe Nayya untuk dapat tidur terlentang dengan tenang. Saat saya angkat kaki dan pantatnya ternyata celana Nayya sudah penuh dengan kotoran.

*Pantesan*(dalam hati)

Berhubung tidak biasa membersihkan kotoran dan mengganti celana, proses penggantian celana dan pembersihan badan Nayya berlangsung rumit. Buka celana butuh waktu. Buka pakaiannya butuh waktu (karena banyaknya, kotoran sampai mengenai baju dalam Nayya). Selain itu saya terpaksa berlari bolak-balik kamar untuk mengumpulkan peralatan yang diperlukan: kapas, air, tissue basah, kain, celana pengganti, baju dalam dan baju pengganti. Perlu waktu hampir 5 menit hanya untuk mengumpulkan barang-barang tersebut, sementara Nayya mulai mencoba untuk tengkurap, yang harus berulang kali saya tahan agar kotoran yang masih melekat di badannya tidak mengotori tempat lain dan terutama tangannya, yang sering dengan senangnya mampir ke mulut Nayya.

Akhirnya, terjadilah peristiwa tersebut!

Saat saya mulai membersihkan seluruh badannya, Nayya mulai mengoceh tak henti-hentinya. Tarikan wajahnya sedemikian seriusnya. Kadang-kadang keluar teriakan jengkelnya. Dan hal tersebut berlangsung terus hingga saya selesai mengenakan baju dan celana baru.

Saat selesai, Nayya langsung tengkurap dan menghentikan ocehannya.

dan….

srrrr, Nayya kencing.

Tips bagi seorang ayah saat menghadapi omelan atau complain dari Bayi berusia 6 bulan:

  1. Sabar. πŸ˜€
    Ini jelas kunci dari segala usaha menyelesaikan masalah. Bakalan repot jika omelan dia anda balas omelan – sama-sama tidak mengerti apa yang dibicarakan juga, kan?
  2. Jangan menunjukan ekspresi ekstrim, baik itu marah maupun tertawa.
    Belajarlah mengerti bahwa si kecil tengah melakukan komunikasi dengan kita. Tanggapi dengan serius karena dengan demikian ia akan belajar hal yang sama, yaitu menghargai pendapat orang lain. Memang ia masih kecil dan belum mengerti konsep menghargai pendapat orang lain, namun mengapa tidak sejak dini kita mengajarinya konsep tersebut.
  3. Terakhir, dan hanya untuk kasus ini, belajarlah bagaimana membersihkan dan mengganti pakaian saat bayi kita mengompol dan pup. πŸ˜€

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

3 thoughts on “Ketika Si Kecil Complain”

  1. hehehehehee… dulu aku sering minta tolong Ayahnya Naila untuk gantian gantiin popok atau pampers (ceritanya mendidik suami.. hihihi). katanya sih, kalo cuma bekas pipis dia ga masalah. tapi kalo abis pup, nyerah deh πŸ˜€

    anehnya, nyuci popok bekas pup dia mau :D.

    yang dia juga angkat tangan, menyuapi dan memandikan (sampai sekarang). soalnya Nailanya ga mau. kalo buatin makanan sih, jagoan πŸ™‚

Comments are closed.