Kabut Asap Kalimantan

Sudah seminggu ini suasana kota tempat saya tinggal mengingatkan saya pada suasana Puncak atau Lembang di pagi hari. Tentu saja yang saya maksud bukan jagung ataupun ketan bakar, apalagi dingin yang menyengat tulang, melainkan kabut yang selalu setia menemani kota.

Sayangnya kabut di kota tempat saya tinggal bukan merupakan kategori kabut penyejuk hati. Kabut asap (smog) telah menyelimuti kota dan semakin hari semakin bertambah intensitas ketebalannya. Bahkan sepanjang hari ini, praktis saya tidak bisa melihat sinar matahari, yang biasanya sangat garang menerangi kota.

Seperti kota-kota lainnya di penjuru Kalimantan, kabut asap disebabkan oleh pembakaran hutan yang dilakukan oleh sebagian penduduk (bahkan perusahaan) saat membuka lahan pertanian. Bagi mereka yang tinggal di Jawa mungkin telah jarang melihat praktik-pratik ini. Namun di Kalimantan dan Sumatera, praktik pembakaran hutan bisa dikatakan sebagai bagian dari pola hidup. Cara ini memang cara paling mudah dan murah (jangan pikirkan aman dan nyaman) untuk menyiapkan lahan yang akan digunakan bercocok tanam saat memasuki musim hujan.

Ratusan titik api bisa dilihat dengan mudah, khususnya di daerah-daerah punggung bukit yang memudahkan untuk bercocok tanam dan memiliki kemudahan akses transportasi, baik darat maupun sungai. Oh ya, jangan berpikir bahwa pembakaran hutan ini bersifat sporadis dan tak terkontrol. Anda pasti mengerutkan kening atau menggaruk-garuk kepala saat melihat sebuah kawasan telah habis terbakar sementara tetumbuhan di luar batas area pembakaran masih menyejukan pandangan mata. Sebuah pemandangan yang sangat kontras. Dan yang menarik, area yang terbakar ada di dalam batas lahan si pembakar. Lalu, bagaimana teknik pembakaran ini dilakukan oleh mereka? Wah, sayangnya saya tidak pernah melihat langsung proses pembakaran dari awal hingga akhir. Lagipula, saya orang yang paling anti pada kegiatan bercocok tanam dengan metode (baca: jika pembakaran adalah sebuah metode) ini.

Pertanyaan sejuta dollarnya adalah: Apakah praktik pembakaran hutan ini bisa dihentikan? Seperti yang telah saya ungkapkan di atas, pembakaran seolah-oleh telah menjadi pola hidup masyarakat. Artinya butuh effort yang besar dari segenap lapisan masyarakat jika permasalahan ini ingin diselesaikan.

Catatan:
Foto diambil pada tanggal 10 Oktober 2006, pukul 15.17, di tepi sungai Segah, Berau, Kalimantan Timur

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

2 thoughts on “Kabut Asap Kalimantan”

  1. iya aku juga liat di tv2 .. asap nya tebel bngt… nyampe orang2 mesti pake masker… mudah2an asep di sana cepet hilang dan udara kembali segar… ;p

  2. Inilah dampak buruk dari illegal logging dan pertanian liar di Kalimantan, menyusahkan seluruh negeri

Comments are closed.