Listrik Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik

Foto di atas adalah foto nyala api sebuah lilin yang saya ambil dengan kecepatan rendah. Foto diambil tahun lalu, tepatnya 3 September 2005. Saat itu kota tempat kami tinggal tengah mengalami krisis listrik sehubungan dengan rusaknya salah satu boiler PLTU Mulut Tambang Lati. Saat itu memang belum memasuki bulan Ramadhan. Namun krisis listrik terus berlanjut hingga bulan Ramadhan, bahkan (kalau tidak salah ingat) masih berlanjut hingga minggu-minggu awal bulan Syawal.
Bulan Ramadhan tahun lalu memang menorehkan kisah khusus bagi saya dan Bunbun. Saat itu kami hanya mendapatkan jatah kehidupan dengan listrik 12 jam setiap harinya dengan pola gilir 6 jam hidup – 12 jam mati – dan 6 jam hidup. Saat itu kami seolah-olah mengalami kemunduran peradaban. Kegiatan harus benar-benar ditata dengan apik. Maksudnya, kapan mencuci, setrika, bahkan menanak nasi.

Masalah menanak nasi memiliki kisah tersendiri. Saat itu menjelang malam. Saya dan Bunbun baru menyadari bahwa kami kehabisan nasi. Saya bergegas pergi ke tukang sate di depan kompleks. Namun ternyata tukang sate pun memiliki masalah yang sama. Akibat pemadaman listrik sejak siang, ia tidak sempat menanak nasi menggunakan magic jar-nya. Saya dan Bunbun hanya bisa menggelengkan kepala. Betapa manusia telah sangat bergantung pada listrik (lebih tepatnya energi final) dalam kehidupan mereka. Akhirnya Bunbun pun menanak nasi dengan menggunakan kompor. Suatu metode yang, jujur saja, sudah saya lupakan.

Kembali pada kebutuhan manusia akan energi listrik. Saat itu saya dan Bunbun benar-benar menyadari bahwa hidup kami sangat tergantung pada listrik. (Kami yakin Anda pun demikian). Nonton tv dan dvd, bekerja dengan komputer atau laptop, ingin ruangan nyaman? pasang AC, menanak nasi, mencuci pakaian dengan mesin cuci, air dingin dan air panas selalu tersedia dalam dispenser, mengawetkan makanan di kulkas (lemari es), setrika pakaian, kuat berapa lama hidup tanpa HP? jangan lupa, ia butuh di-charge. Yang baru saja saya sebutkan lebih spesifik pada kebutuhan rumah tangga, bukan industri yang sudah pasti lebih rakus akan energi listrik.

Perkembangan teknologi ternyata berpengaruh sangat besar pada kebudayaan umat manusia. Lebih dekat, listrik ternyata berperan dalam meningkatkan taraf hidup umat manusia. Yang saya maksud di sini bukan sekedar bagaimana listrik bisa menggerakan roda perekonomian namun juga kebutuhan manusia akan kenyamanan. Jujur saja, listrik membuat hidup kita lebih nyaman. Atau dengan kata lain listrik membuat hidup kita lebih baik. Hal ini terus didengungkan oleh PLN. Namun yang perlu dicermati adalah kesiapan PLN dalam mengantisipasi peningkatan konsumsi energi listrik di masa mendatang. Crash Program (sebagaimana yang pernah saya posting di sini) memang tengah dijalankan, namun yang paling penting jelas realisasi dari program tersebut. Jangan sampai Anda merasakan apa yang pernah kami rasakan selama kurang lebih 2.5 bulan hidup dengan keterbatasan listrik.

Tidak ada pemadaman listrik bergilir pada bulan Ramadhan kali ini. Kami, dengan konsisten, dapat mendengarkan suara azan membelah langit saat tiba waktu berbuka. Kami juga bisa mendengar suara orang mengaji di mesjid komplek melalui pengeras suara saat makan sahur. Ramadhan kali ini memang indah, terlebih dengan memadainya listrik bagi kami.

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.