Ketika Payung Semakin Mini

Saat melakukan perjalanan ke Perth bulan lalu, ibu saya berpesan untuk mencarikannya sebuah payung “mini” sebagai oleh-oleh “khas” Australia. Beliau pernah mendapatkan payung “mini” tersebut dari salah seorang saudara sepupu saya yang tinggal di Melbourne dan ternyata payung jenis tersebut sulit untuk di dapat di mall-mall yang ada di Bandung. Jangankan untuk mendapatkan payung yang sejenis, Ibu saya kesulitan untuk mencari tukang yang dapat memperbaiki rangka payung saat payung tersebut rusak.

Mungkin pertanyaan Anda sama dengan pertanyaan yang terlintas di kepala saya saat itu:

Apa keistimewaan payung tersebut?

Pencarian payung cukup memakan waktu, lebih disebabkan saya mencari di tempat yang salah. 😀 Yang perlu dicatat adalah payung bukan merupakan gift yang biasa dicari, terlebih jika Anda mencarinya di musim panas. 😀

Lalu, apa istimewanya payung ini sih?

Saat pertama kali melihatnya, saya tertarik dengan bentuknya yang tidak lazim. Payung yang terpatri di benak saya biasanya berbentuk silindris dari ujung atas hingga ke bagian tangkai pegangan. Payung ini berbentuk hampir kotak pipih saat terlipat (jujur saja, saya bingung menyebutkan secara pasti bentuk payung ini). Lihat pada gambar di atas, tangkainya-pun bukan round-shaped seperti kebanyakan payung yang saya kenal.

Ukuran payung ini bisa dibilang sangat-sangat mini (dibandingkan dengan payung lipat lainnya yang pernah saya kenal). Dimensi payung saat terlipat sekitar 18cm (tinggi) x 6.5cm (panjang) x 2.5cm (lebar). Menurut Ibu saya, payung ini sangat praktis untuk dibawa-bawa sebab tidak memakan ruang jika dimasukan ke dalam tas tangan wanita.

Rangka payung yang saya kenal biasanya terbuat dari logam dan kawat. Saya bahkan pernah melihat rangka payung yang berkarat. Rangka payung mini ini terbuat dari gabungan plastik dan aluminium. Sangat ringan, namun saya masih meragukan kekuatannya saat diterpa angin kencang.

Hmm. Entahlah. Saya bukan pengguna payung dan juga bukan tergolong payung-mania, sehingga saya tidak bisa menyatakan apakah kesan-kesan yang saya lihat pada payung tersebut seistimewa yang Anda rasakan. Yang pasti, bagi saya payung ini sangat menarik sebab saya baru pertamakali ini melihat payung seperti ini. 😀 Akhirnya, selain untuk Ibu saya, saya membeli satu tambahan payung untuk Bunbun.

Oh ya, saat kecil saya paling anti menggunakan payung, sederas apapun hujan turun. Tidak mencerminkan kelaki-lakian saya. 😀

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

5 thoughts on “Ketika Payung Semakin Mini”

  1. Saya suka banget sama payung. Sayang di Indonesia kok kurang payung yang lucu-lucu ya? misalnya payung transparan, atau payung yang mini dan imut-imut. Tapi saya juga lebih suka hujan-hujanan.

  2. saya suka lupa bawa payung.. kayaknya iya deh, ukuran payung memang penting buat perempuan, biar bisa masuk tas. tapi susahnya, payung mini di Indonesia tuh kualitasnya kurang bagus, gampang patah 😦

  3. to mira:
    suka payung memang tidak berarti harus selalu membawa payung kan?
    jadi syah aja kok kalo hobi hujan-hujanan.
    😀

    to yanti:
    jadi, payung di posting ini memang khas dong?
    bener oleh-oleh dong kalo gitu?

Comments are closed.