Gajah Mada, Hamukti Palapa

hamukti palapaMenulis serial, menurut saya dan tanpa mengecilkan arti penulis non-serial, membutuhkan effort yang lebih tinggi. Selain penulis dituntut stamina yang lebih tinggi saat berkarya, ia juga harus memiliki beberapa cadangan skenario sebagai jalur ceritanya sehingga cerita tidak mudah “tertebak”. Yang saya maksud dengan tertebak, beberapa cerita serial sering terjebak dengan beberapa hal berikut ini:

  1. Pengulangan kisah (yang meskipun bisa saja berbeda setting namun pada dasarnya kisah sudah pernah ditulis di bagian awal) bahkan yang paling parah jika penulis melakukan pengulangan kalimat
  2. Sempalan cerita paralel, misalnya menceritakan kemunculan tokoh baru, yang dipaksakan masuk ke dalam cerita yang pada dasarnya jika dihilangkan tidak akan memiliki efek yang cukup signifikan terhadap cerita
  3. Cerita menjadi hambar karena kehilangan kejutan-kejutan di setiap tikungan cerita – hal ini biasanya karena cadangan skenario semakin terbatas.

Entah bagaimana dengan Langit Kresna Hariadi, hal yang terpikirkan oleh saya saat (mungkin kata yang lebih tepat adalah “jika”) akan membuat sebuah serial adalah membuat sebuah skenario besar tentang bagaimana awal sebuah kisah, pertengahan kisah, dan akhirnya akhir sebuah kisah. Sepanjang perjalanan penulisan, ide-ide baru yang muncul akan memperkaya cerita dan bahkan mungkin mengubah akhir cerita. Ah, namun itu kan jika saya yang menjadi penulis. Menulis blog ini saja masih acak-acakan. 😀 Buku Gajah Mada, Hamukti Palapa, adalah buku ke-tiga dari serial Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Pada awalnya saya sempat khawatir saya akan membaca beberapa hal yang saya sebutkan di atas. Namun acungan jempol perlu diberikan kepada Pak Langit. Meskipun ada beberapa pengulangan – namun saya yakin hal tersebut bertujuan untuk mempertegas alur cerita. Yang paling menarik, di dalam buku ini muncul beberapa kejutan seperti: pemberontakan dua negara bawahan Majapahit, kelokan kecil cerita tentang penikahan pemimpin pasukan Bhayangkara, penuturan latar belakang (yang selalu menjadi pertanyaan saya sejak kecil) mengapa tidak ada penerus/keturunan Gajah Mada, dan masih banyak kejutan lainnya. Yang paling mengejutkan, entah memang hasil penelusuran sejarah atau imajinasi Pak Langit, adalah pencurian tiga buah harta pusaka Majapahit dari ruang perbendaharaan pusaka istana Majapahit. Kisah pencarian pusaka oleh Pradhabasu dan Gajah Enggon mewarnai hampir sebagian besar isi buku. Jika hal ini benar-benar terjadi, maka Pak Langit berhasil menelusuri sebuah catatan yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Sementara yang paling membuka mata adalah prosesi pemilihan Gajah Mada menjadi mahapatih amangkubumi Majapahit. Kembali, jika hal ini memang hasil penelusuran (plus imajinasi penulis) maka dua acungan jempol saya berikan kepada penulis. Meskipun demikian, terdapat beberapa hal kecil tentang detil cerita yang terlewatkan oleh penulis – yang seharusnya tidak terjadi. Ketelitian penulis dalam menelusuri abad 13 sepertinya merampok sebagian besar waktu penulisan sehingga titik-titik kecil ini terlewatkan, yaitu:

  1. Prajurit Bhayangkara (dalam cerita ini, saya menekankan kepada Gajah Enggon) memiliki kelebihan dalam hal teknik pembunuhan dengan melempar pisau. Pisau-pisau tersebut selalu menemani mereka dan di dalam cerita ini sepertinya pisau-pisau tersebut disembunyikan di dalam lengan baju (yang saya bayangkan tentu baju dengan lengan panjang). Hal ini dapat dibaca di halaman 520 paragraf 6 dan 7. Namun pertanyaan yang muncul adalah berapa banyak bilah pisau yang mampu disembunyikan di dalam lengan baju, baik itu lengan baju kiri maupun lengan baju kanan?Di dalam buku ini Gajah Enggon secara hampir berturut-turut melemparkan 3 pisau untuk membunuh di halaman 505, kemudian 2 pisau untuk membunuh di halaman 506. Selanjutnya Gajah Enggon melontarkan 2 buah pisau di halaman 521 dimana salah satunya berhasil menemukan sasaran sementara yang lainnya hanya menggores lengan, lalu 1 pisau kembali dilontarkan di halaman yang sama namun berhasil dimentahkan oleh musuhnya. Di halaman 521 ini Gajah Enggon juga telah mempersiapkan 2 buah pisau yang siap untuk dilemparkan namun situasi yang tidak terduga membuatnya harus menahan lemparan pisaunya – namun pada halaman 522 agaknya Pak Langit mencoba menggambarkan upaya tanpa hasil Gajah Enggon melemparkan pisau-pisau tersebut kepada musuhnya.Menilik apa yang diungkapkan sejak halaman 505 hingga halaman 522, paling tidak Gajah Enggon melepaskan 10 buah pisau terbang. Jika rata-rata panjang pisau pembunuh beserta gagangnya adalah 10 cm, maka dibalik masing-masing lengan baju Gajah Enggon paling sedikit terdapat 5 buah pisau dengan total panjang maksimum (bukan minimum, karena pisau tersebut bisa jadi ditumpuk) adalah 50 cm. Secara logika hal ini masih memungkinkan, namun perlu dicermati lagi kemungkinan-kemungkinan berat pisau dan apakah pisau sepanjang 10 cm mampu melakukan pembunuhan dimaksud serta efeknya terhadap kemampuan olah gerak Gajah Enggon.
  2. Halaman 505 dan 506 sempat membuat saya mengerutkan dahi dan memaksa saya untuk membolak-balik kedua halaman tersebut. Saat musuhnya tinggal tersisa 3 orang (halaman 505 paragraf akhir), Gajah Enggon berhasil menyudahi perlawanan salah satu diantaranya dengan leher tertebas. Namun pada halaman 506 paragraf pertama tertulis “Gajah Enggon tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan gerakan memutar untuk menambah tenaga, pisau yang muncul dari balik lengan baju melesat menyambut korbannya. Terhenyak Bandar Surapati bersamaan dengan dua anak buahnya yang tersisa, saat masing-masing pisau bergambar lambang pasukan khusus Bhayangkara melesat menembus dada…”Saat seorang musuhnya telah terbunuh, Pak Langit kembali menuliskan bahwa masih terdapat 3 orang yang tengah melawan Gajah Enggon. Hal kecil yang sempat mengerutkan dahi saya.
  3. Pada halaman 521 terdapat keganjilan dimana tertulis sebuah pisau mengarah menuju dua mulut, meskipun di paragraf sebelumnya Gajah Enggon jelas-jelas mengayunkan pisau secara beruntun kepada musuh-musuhnya. Mungkin, yang dimaksud dengan tulisan “Pisau pertama melesat menuju dua mulut…” adalah “kedua buah pisau pertama..”
  4. Saat Gajah Mada mengucapkan sumpah Hamukti Palapa, di halaman 680, saya tidak bisa membayangkan seorang mantan Mahapatih Arya Tadah menertawakan Gajah Mada atas visi yang diucapkannya melalui sumpah tersebut. Pengalaman serta pandangan seorang mahapatih Arya Tadah yang diuraikan dalam buku sebelumnya dan di bagian awal buku ini sama sekali tidak mencerminkan ia tidak mampu melihat visi Gajah Mada yang sangat jauh ke depan. Atau memang ini yang diinginkan oleh penulis untuk menggambarkan bahwa seorang mahapatih pun hanya seorang manusia, yang memiliki keterbatasan dibandingkan manusia lainnya, khususnya dalam hal ini Arya Tadah dan Gajah Mada.

Diluar hal-hal kecil yang saya sebutkan di atas, buku ini layak di baca. Menggugah dan mencerahkan adalah kata-kata yang saya rasa tepat untuk menggambarkan apa yang diceritakan di dalam buku. Book facts: Judul: Gajah Mada, Hamukti Palapa Penulis: Langit Kresna Hariadi Penerbit: Tiga Serangkai, 2006 Tebal: x, 694 hlm

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

9 thoughts on “Gajah Mada, Hamukti Palapa”

  1. pecinta buku gajah mada juga ya? skarang saya baru selesai baca seri perang bubat. menyakitkan bukan, yah itulah sejarah. apa kira2 ada komunitas buku ini ya? seperti komunitas harry potter gitu, coz menurut saya buku seri gajah mada ini menarik sekali. mungkin kl tau byk penggemarnya bisa dijadikan film, wah pasti keren juga kan, buat yg g suka baca buku bisa menikmati sejarah indonesia tanpa bikin kepala pusing kayak baca buku teks sejarah, bisa mencintai negara ini juga kan. setuju g, gmn kl blm ada komunitasnya kita rintis?

  2. Apa yang terjadi bila di tahun 2011 ditemukan jejak bayangan sebuah candi dengan ukuran jauh lebih besar dari Borobudur ? Berpikir macam itu identik dengan ide tentang apa yang terjadi jika bumi ini didatangi sebuah pesawat angkasa luar yang besarnya jauh lebih besar dari sebuah kota (Film The Independent Day)

    Demikianlah candi itu dibuat pada zaman Mataram tepatnya di masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Candi yang sangat besar itu terpaksa dihilangkan dari pandangan mata karena ada pihak-pihak tertentu yang berupaya menghancurkannya, tak ada pilihan lain untuk melindunginya maka ia harus dimurcakan dan hanya dalam bulan purnama tertentu tampak bayangannya, yang hanya lamat-lamat berada di antara ada dan tiada.

    Uwwara Kenya perempuan dari masa silam itu, ia memiliki wajah yang amat cantik yang tak pernah pudar meski sang waktu bergeser deras. Bila Uwwara Kenya murka dari keningnya muncul mata ke tiga yang mampu menghanguskan apa pun. Uwwara Kenya dikawal dengan setia oleh tujuh orang pengikutnya yang oleh karenanya disebut kelompok tujuh, didukung oleh ribuan ekor codot berukuran besar, salah satu di antaranya kelelawar berkulit albino yang yang dengan setia melekat mengikuti ke mana pun majikannya pergi.

    Tujuh pengikut Uwwara Kenya memiliki pertanda berupa ular melingkar yang menempatkan diri di telapak tangan di balik kulit di atas daging yang apabila purnama datang akan menyebabkan terjadinya perubahan tujuh orang gedibal itu, wajah mereka berubah mengerikan dengan kemampuan yang mengerikan.

    Namun Uwwara Kenya memiliki musuh yang dengan mati-matian berusaha melindungi candi itu. Musuh yang berderajad Dharmadyaksa sebuah agama itu berusaha mencegah apa pun yang dilakukan Uwwara Kenya bahkan melalui pertempuran yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Puncak dari pertempuran itu Uwwara Kenya kalah dan memutuskan bereinkarnasi di masa yang akan datang, di mana nantinya ia bisa melanjutkan niatnya menghancurkan candi.

    Namun Sang Dharmadyaksa menyusul bereinkarnasi pula.

    Uwwara Kenya yang terlahir lebih dulu berusaha mati-matian memburu titisan kembali itu yang dipastikan akan terlahir kembali dari perkawinan kakak beradik yang masing-masing tidak menyadari mereka adalah kakak beradik. Uwwara Kenya mengamuk membabi buta, hanya sayang titisan kembali Sang Dharmadyaksa itu dikawal ketat oleh pengikutinya yang berjumlah lima orang yang masing-masing siap berkorban nyawa. Jumlah mereka yang lima selanjutnya disebut sebagai kelompok lima .

    Lima orang pengawal kelahiran kembali Sang Dharmadyaksa berhadapan dengan tujuh orang kaki tangan Uwwara Kenya .

    Adalah ketika Ken Arok baru seorang maling yang malang melintang dan membuat resah akuwu Tumapel Tunggul Ametung, kisah Candi Murca, Ken Arok Hantu Padang Karautan ini dimulai. Parameswara yang ingin mengetahui orang tua kandungnya pergi meninggalkan Bumi Kembang Ayun di Blambangan dan menolak permintaan ayah angkatnya menggantikannya sebagai pimpinan di padepokan olah kanuragan itu.

    Pada saat yang sama seorang gadis bernama Swasti Prabawati justru datang menghadap Ki Ajar Kembang Ayun meminta petunjuk mencari jejak ayahnya yang telah sebulan menghilang. Perkenalan Parameswara dan Swasti Prabawati bermuara ke hubungan asmara tanpa mereka tahu mereka adalah kakak beradik. Parameswara berayah Panji Ragamurti, seorang Patih di Kediri sementara Swasti Prabawati akhirnya tahu ayah yang dicintainya ternyata bukan ayah kandungnya, ia terlahir dari Narasinga melalui pemerkosaan yang dilakukan terhadap seorang perempuan yang akhirnya mati ketika melahirkan gadis buah pemerkosaan itu.

    Amat terlambat Parameswara dan Swasti Prabawati sadar, bahwa Narasinga dan Panji Ragamurti adalah orang yang sama.

    Bayi yang akan lahir dari perkawinan kakak beradik itulah yang justru sedang ditunggu dan diburu-buru oleh Uwwara Kenya dan tujuh orang pengikutnya yang celakanya menempatkan Parameswara dan Swasti Prabawati terjerat takdir sebagai pengikut perempuan itu pula, karena dari masing-masing telapak tangannya muncul tanda ular yang menggeliat menempatkan diri di balik kulit di atas daging.

    Parameswara yang telah berubah menjadi sakti mandraguna sejak menenggak air suci Tirtamarthamanthana Nirpati Vasthra Vyassa Tripanjala harus berperang melawan dirinya sendiri terutama ketika bulan purnama menyita kesadarannya. Namun dengan penuh pengabdian dan bahkan rela berkorban nyawa kelima pelindung kelahiran calon jabang bayi itu berjuang keras memberikan perlawanan.

    Ketika pertikaian itu terjadi, sebuah padang ilalang bernama Karautan sedang menyita perhatian seorang Brahmana bernama Lohgawe dan seorang Empu pembuat keris dari Lulumbang. Padang Karautan itu sungguh sebuah tempat yang mengerikan karena dihuni berbagai binatang buas, setiap malam sering terdengar aum harimau dan lolong ratusan ekor serigala.

    Yang mencuri perhatian Brahmana Lohgawe adalah seorang perampok dan maling kecil bernama Ken Arok yang menjadikan tempat itu sebagai persembunyian. Mata Sang Brahmana Lohgawe sangat awas terhadap keajaiban alam, ia menduga Ken Arok yang maling kecil itu merupakan Titisan Syiwa, yang kelak akan menjadi cikal bakal Raja di tanah Jawa.

    Sebaliknya Empu Gandring yang hadir pula di tempat itu mempunyai ketajaman mata dalam bentuk yang lain, ia melihat sesuatu yang melayang-layang di langit. Empu Gandring merasa was-was tersita perhatiannya oleh batu bintang yang melesat cepat di angkasa, jenis batu yang ia yakini bakal menimbulkan bencana. Dengan ketajaman mata hatinya Empu Gandring berusaha menerka di daerah mana batu bintang itu akan jatuh dan menimbulkan bencana. Meski belum terjadi, Empu Gandring melihat asap berada di mana-mana, asap kekuningan berasal dari bintang jatuh yang menebar kematian, berburu menyergap makhluk apa pun yang berdaging, dihisap habis menyisakan tulang belulang.

    Mata hati Empu Gandring belum mampu melihat, akan jatuh di mana batu bintang itu.

    Dalam perjalanannya, Parameswara harus bersinggungan dengan urusan Ken Arok, karena Hantu dari Padang Karautan itu adalah penjilmaan kembali dari Rakai Walaing Pu Kumbayoni, orang berusia panjang yang menunggu kematiannya di balik Air Terjun Seribu Angsa, orang itulah yang telah memberinya air suci Tirtamarthamanthana Nirpati vasthra Vyassa Tripanjala yang menyebabkan ia menjadi sakti mandraguna karena kesediaannya memenuhi permintaan orang itu dengan membunuhnya.

    Pun keterlibatan Parameswara terhadap Ken Dedes tidak juga bisa dihindari karena pada diri Ken Dedes melekat jiwa Sri Sanjayawarsa, permaisuri Rakai Walaing Pu Kumbayoni yang juga mati di tangan melalui sebilah keris bernama Sang Kelat. Parameswara terpaksa memenuhi permintaan membunuh mereka karena hanya melalui cara itulah ia bisa melindungi anaknya yang bakal menjadi bulan-bulanan Uwwara Kenya .

    Sementara itu di tahun 2011,

    Parra Hiswara mengalami kecelakaan ketika menggali tanah sebagai tandon WC, tanah ambrol menyebabkan ia tertarik oleh gravitasi bumi karena di bawah tanah rupanya terdapat sebuah sumur vertikal. Mahdasari sang Istri mengalami kepanikan luar biasa pun demikian pula dengan para tetangga yang berusaha menolong. Hirkam menggunakan tali carmantel menyusur turun mendapati kenyataan, sumur yang bagai tanpa dasar itu sangat aneh. Hirkam yang berhasil keluar nyaris kehilangan nyawa karena makhluk tak dikenal mencakar punggung dan kakinya.

    Tak ada pilihan lain dan dengan mengabaikan keselamatan Parra Hiswara lobang sumur itu ditutup dan dicor dengan semen. Dengan demikian bisa dipastikan Parra Hiswara terkubur untuk selamanya di gua bawah tanah itu.

    Namun Parra memang mendapati keadaan yang aneh di ruang bawah tanah itu. Ia menemukan tujuh buah meja batu melingkar yang layak disebut tempat tidur karena ada tujuh orang tidur di atasnya. Pada tujuh meja batu di luar hanya ada enam orang berbaring satu di antaranya kosong sementara meja batu di bagian tengah tidur seorang perempuan amat cantik dalam keadaan telanjang bulat.

    Di tempat itulah Parra Hiswara bertemu dengan orang yang memiliki ujut sama dengan dirinya, bak pinang dibelah dua, orang dari masa silam itu mengaku bernama Parameswara, yang mestinya tidur di meja batu ke tujuh namun memilih terpicing beratus ratus tahun lamanya karena tidak sudi menjadi kaki tangan Uwwara Kenya. Parra Hiswara tentu kaget ketika orang itu menyebut telah menunggu pertemuan itu delapan ratus tahun lamanya. Parameswara minta kepada Parra Hiswara agar bersedia membunuh dirinya, hanya itulah cara agar ia bisa keluar kembali ke permukaan.

    Parra Hiswara tidak punya pilihan lain, dengan sebilah keris aneh bernama Sang Kelat yang ia terima, orang itu dibunuh dan ambyar menjadi serpihan abu memunculkan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Parra Hiswara yang berusaha keras bertahan untuk tidak terputar mampu melihat saat-saat terakhir seekor codot berkulit putih muncul dan melukai telapak tangannya.

    Ketika Parra Hiswara tersadar, ia terkejut karena waktu telah berubah menjadi malam penuh bintang. Parra Hiswara menganggap dirinya gila ketika berada di sebuah candi yang sangat besar, candi yang terletak di kaki dua buah gunung, gunung Merapi dan Merbabu, padahal jarak yang membentang dari dua gunung itu ke rumahnya di Malang nyaris empat ratus kilometer.

    Rupanya Parra Hiswara telah terlempar jauh melintasi dimensi ruang dan waktu. Ketika Parra Hiswara kembali ke kota Singasari tak jauh dari Malang , ia mendapati istri yang dicintainya hilang diculik orang.

    Di tahun 2011 itu, kelompok tujuh yang masing-masing memiliki tanda berbentuk ular melingkar di telapak tangannya mulai bermunculan. Pun demikian pula kelompok lima yang memiliki rajah berbentuk cakra mulai muncul pula memberikan perlawanan mati-matian. Apalagi sejak Parra Hiswara muncul di pelataran candi, jejak bayangan candi itu mulai sering muncul dan bisa dilihat di bulan purnama, semakin banyak saja orang yang bisa melihat ujutnya.

    Meski candi itu masih murca, berada di wilayah bayang-bayang antara ada dan tiada.

  3. wow…ql baca sinopsisnya menarik bgt pak bk nya,ga klh serunya dgn gajahmada.tp mlh lbh pnasaran yg ini pak,coz ql cerita yg ini kan jarang bgt di dngar,dan jg dlm pelajaran sejarah jg ga pernah di singgung.tp kok ya 10 seri tu lho pak,wdh puanjang bgt pak?kpn slesainya tu?ngmng2 di solo udh beredar blm pak?good luck ya pak

  4. Serial Gadjah Mada yang ditulis pak LKH sangat mengobati dahaga saya selaku warga negeri ini yang peduli akan sejarah asal mula negeri ini. Sebagai novel fiksi sejarah, karya pak LKH ini sangat membuka mata saya bahwa ilmu sejarah yang saya pelajari pada saat masih bersekolah dulu ternyata hanya sebagian kecil dari bongkahan gunung sejarah bangsa ini. Bagi saya kelemahan dalam buku yang ditulis oleh pak LKH sebagaimana disampaikan dalam resensi diatas memang cukup menggelitik saya pada saat membacanya namun tidak mengurangi minat saya untuk menuntaskan membaca buku Gadjah Mada. Terlepas dari itu novel fiksi gadjah mada nya LKH patut diberikan apresiasi yang tinggi mengingat melalui novel tersebut telah menambah pengayaan bagi perkembangan sejarah negeri ini.
    More Than 2 thumbs up buat pak LKH … salam kenal … … azwar

  5. LKH tak kalah kualitas dengan Dan Brown,, salut!!! aq setuju klo diangkat ke layar lebar.. klo bisa semua judul novelnya!!!!

Comments are closed.