Kisah Perjalanan Nayya Jakarta – Berau

Ini basbang 😀 tapi saya tetap ingin berbagi. Intinya adalah pengalaman saya dan Bunbun saat melakukan perjalanan/penerbangan bersama buah hati kami yang berusia 17 bulan. Sebelumnya saya pernah berkisah tentang penerbangan pertama Nayya saat masih berusia 4 bulan, ternyata pengalaman tersebut masih kalah seru dibandingkan pengalaman saya kali ini.

Persiapan saya dan Bunbun kali ini tidak bisa dikatakan lebih santai dibanding perjalanan kami sebelumnya. Selain Nayya sudah mulai lepas dari ASI, sehingga kami harus menyiapkan minuman untuk proses take off dan landing, kami juga harus mengantisipasi “kehebohan” yang akan dibuatnya saat ia enggan “dipaksa” tidur selama penerbangan dan lebih memilih “kelayapan” di isle. Makanan ringan dan teh manis kegemaran Nayya harus kami siapkan untuk mengalihkan perhatiannya saat kondisi tersebut terjadi.

Dan terjadilah…! Perjalanan berlangsung heboh. Dimulai dari subuh, saat kami check-in (Nayya tidak berani kami mandikan. Selain karena takut masuk angin, kami juga ingin tetap membiarkannya bangun di jam yang diinginkannya) dan Nayya sudah mulai terbangun, ia sibuk meminta salah satu tas bawaan kami untuk ditariknya sepanjang koridor. Menjelang masuk pesawat, Nayya mulai rewel karena mengantuk. Hal ini cukup melegakan hati saya sebab Nayya lebih baik tidur di pesawat daripada ia bikin heboh di udara. 😀

Saat hampir landing, Nayya kembali bikin heboh setelah bangun. Makanan ringan, teh kotak, life vest, berulang kali dimintanya. Belum lagi pertanyaan “ni apa” yang berulang kali diajukannya saat melihat awan di luar jendela. Berulang kali saya harus mengenakan kaus kaki yang dilepasnya – mungkin Nayya merasa bahwa saat duduk kaus kaki boleh dilepas. 😀

Saat di Sepinggan, kegiatannya masih tetap sama, berulang kali bertanya “Ni Apa” atau saat berjalan berkeliling di dalam Airport Cafe, seluruh benda yang berada dalam jangkauannya, baik di meja kami maupun di meja orang, ditarik dan diambilnya.

Meskipun heboh, saya dan Bunbun berulang kalli tertawa dan menggelengkan kepala melihat ulah buah hati kami. Ada perbedaan besar, yang memang telah kami persiapkan namun tetap saja membuat kami tertegun, saat melakukan perjalanan bersama Nayya yang kini telah berusia 17 bulan. Nayya mulai menyadari bahwa dirinya adalah seorang individu berbeda. Ia kini memiliki keinginan akan sesuatu, dunia baru selalu membuatnya gugup namun tidak berapa lama ia melihatnya sebagai tempat bermain. Didukung dengan kemampuannya untuk berjalan dan bahkan berlari, daya jelajahnya semakin tinggi. Kemampuan eksplorasinya untuk mengenali sesuatu juga membuat kami harus berhati-hati.

Apa saja yang perlu dipersiapkan saat melakukan penerbangan bersama buah hati kita saat usia mereka ada pada situasi tersebut? Ini adalah contekan isi backpack Bunbun saat melakukan perjalanan yang lalu:

  1. Selimut tipis dan jaket, yang sangat berguna saat temperatur kabin dingin
  2. Minuman, baik susu atau lainnya, dan tentu saja air mineral. Usahakan bayi kita minum saat take off dan landing untuk mengurangi tekanan pada telinganya
  3. Extra pakaian dan pampers
  4. Tissue basah
  5. Makanan ringan, khususnya jika buah hati Anda sudah mulai menyukai makanan lain selain ASI atau bubur. Pilihan utama biasanya adalah biskuit bayi. Saat perjalanan yang lalu kami menyiapkan cheese stick, wafer tango, dan kripik kentang
  6. Makanan berat, jika jangka waktu perjalanan cukup lama sehingga melewati waktu makan bayi kita
  7. Mainan berukuran kecil atau ringan, usahakan merupakan salah satu mainan kegemaran buah hati kita yang dapat digunakan untuk mengalihkan perhatiannya saat ia merasa bosan
  8. Payung
  9. Handuk kecil
  10. Minyak telon, bedak, sisir, dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan jika ia harus berganti baju

Meskipun terkesan repot dan banyak ternyata seluruh perlengkapan tersebut bisa masuk ke dalam backpack Bunbun. And, believe it or not, seluruhnya terpakai saat perjalanan kami yang lalu. 😀

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

7 thoughts on “Kisah Perjalanan Nayya Jakarta – Berau”

  1. He…he.. ternyata bawa anak segede Nayya sama aja repotnya, ya? Tapi salut juga, pergi sejauh itu, mmm Berau..
    wow nan jauh di hutan sana kan?(Saya gak tau pasti tempatnya, tapi kota itu terasa begitu familiar, karena adikku ada di sana di lingkungan KIANI situ dan bermacam cerita tentang Berau!. Jadi bisa dibayangkan kehebohan bawa Nayya, tapi ya itu tadi melihat tingkah anak seusia Nayya kehebohan macam apa pun yang ditimbulkannya tidak pernah membuat kita lelah. Kok saya tahu? Karena keponakan kembarku sama usianya ma Nayya. Lihat foto2 nya Nayya jadi ingat sama si kembar deh dan hebohnya mereka pasti sama ma Nayya.
    Ok, salam kenal ya buat Nayya. Tulis-tulis lagi kalo ngajak dia jalan-jalan.Bye…

  2. mas arya saya dulu hampir 6 tahun diberau, sangat berkesan bisa tinggal disana, kl mas arya dan keluarga uda berapa lama?

  3. pernah ke berau ya…..!!gmana tempatx?? baguskan…. ya iyalah berau gitu loh!!!he…3x maklum sya org berau!!! tp skarang aku lagi kangen niy ma berau sOALNya aku harus kuliah di yogyakarta!!! jadi skitar tiga tahun nni g bakalan liat pulau derawan lagi deh…,truz g bisa snorkling di maratuu island, liat ikan baraccuda bersekolah di perairan maratua, liat penyu bertelur di pulau sangalaki, g bisa liat batu bara di lati,….,harus menahan liur untuk g makan ikan kering khas berau selama bertahun – tahun. pernah kepulau maratua g???klo belum kapan – kapan klo ke berau jangan lupa ke pulau maratua y… soalnya tempatbya bagus bgt….!!!!

  4. to soni:
    saya tinggal di sini sudah hampir 8 tahun. istri dan anak saya baru satu setengah tahun ini saja.

    to Ryan
    ikan kering? krupuk ikan itu ya? wah, memang bikin air liur menetes tuh. 😀

  5. to Arya :
    di berau tgal dmnana niy….??sapa tau aja sekali2 gw plang k berau!!! arya suka ma ikan asin juga??tau g nyokap gw punya berpuluh – puluh resep masakan ikan asin!! ehm…. malah jadi laper niy….!!!hiks… gw home sick

  6. Waah seheboh gitu perjalanannya Mas? Pasti sih apalagi bawa balita. Pacar saya 7 Januari kemarin terbang dari Jakarta-Balikpapan-Berau dan ceritanya pun sama hebohnya… Ceritanya dia diterima bekerja di Berau Coal. Dia yang dari lahir sampai umur 25 tahun hidup di Bandung merasa stress harus hidup di (katanya sih hutan) Berau. Sampai sekarang sudah 2 minggu disana pun dia masih stress dengan adaptasi 🙂 bahkan konon signal HP pun susah dan sering mati listrik yang mengingatkan dia sama film Anaconda (Hiperbol banget ya?) Nggak tahu gimana keadaan disana sebenarnya, yang pasti denger ceritanya saya juga jadi pengen kesana 🙂 Salam kenal buat Nayya!

  7. Mau tanya donk mbak n mas,
    sebelumnya, saia ini perantau dari jakarta, sekarang lagi dinas di balikpapan,
    mau tanya untuk mencapai ke Berau dari balikpapan berapa lama ya waktu yang di butuhkan ??

Comments are closed.