Tubuh Tidak Bisa Ditipu

Dua minggu belakangan ini setumpuk pekerjaan mengikuti saya kemanapun saya melangkah. Semuanya memiliki deadline yang hampir sama dan memiliki prioritas yang sama. Saya mencoba bekerja secara efisien dan efektif untuk menyelesaikan semua sesuai dengan harapan semua orang, namun waktu kerja tetap menjadi batas yang tidak bisa dipungkiri. Solusi sederhana adalah memanjangkan jam kerja, baik dengan cara bekerja hingga malam atau membawa tumpukan (meskipun ini hanyalah kiasan sebab semua tumpukan itu tersusun dengan rapih dalam direktori-direktori) pekerjaan tersebut ke rumah.

Dalam kondisi penuh “desakan” tersebut otak saya terus memerintah diri saya untuk tenang, meyakinkan diri saya bahwa saya bisa menyelesaikan semuanya dengan baik dan sesuai dengan tenggat waktu, dan tentu saja membahagiakan semua pihak, termasuk saya tentunya.

Meskipun demikian, terkadang perut saya melilit. Hal ini biasanya terjadi saat muncul permasalahan tiba-tiba diluar kendali, yang juga menuntut perhatian sama besar.

Saat itulah biasanya kita sadar, seberapapun kuatnya diri kita mendoktrinasi tubuh untuk menanggung beban yang banyak, tubuh tetap memiliki batas. Ia tidak mau ditipu. Terkadang ia butuh istirahat dari beban fisik, terkadang ia juga butuh istirahat dari beban psikologis.

Ah, satu lagi pekerjaan kelar. Next……

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

1 thought on “Tubuh Tidak Bisa Ditipu”

Comments are closed.