Mendung, Gerimis, dan Hujan

Yang paling saya suka saat hujan adalah ketika titik-titik air pertama menyapu tanah dan lalu menebar aroma yang khas: tanah basah. Aroma ini biasanya sangat kental saat hujan menyapu tanah yang telah kering cukup lama. Segar sekali aromanya – seakan-akan kehidupan baru bermunculan.

Meskipun demikian saya sering sekali merasa “pilu” saat menatap titik-titik air hujan tersebut. Entah apa yang menimbulkan perasaan sedemikian rupa, namun hal ini sering saya alami sejak kecil.

Ritual saat titik air pertama jatuh ke bumi selalu sama, dimanapun saya berada. Pada intinya semua orang bergegas untuk terhindar dari siraman air hujan. Bahasa tubuh yang selalu sama, termasuk saya. Padahal saya pernah sangat menikmati siraman air hujan di tubuh saya yang hanya terbalut celana dalam – semasa duduk di sekolah dasar. Saya juga seringkali menikmati siraman air hujan saat pulang kuliah dengan cara mengendari motor perlahan-lahan sepanjang jalan Tubagus Ismail (Bandung) – menikmati keharuman tanah, rasa basah dan dingin yang diciptakan hujan ke tubuh saya, serta aliran tetesan air di muka saya yang tidak menggunakan helmet.

Ya, hujan memang sering memberi kenikmatan (bayangkan tidur dibalik tebalnya selimut hangat ditemani suara rintik hujan di luar rumah) namun juga sering membuat perasaan saya pilu, yang mungkin lebih disebabkan karena hujan seringkali seiring dengan suramnya mendung.

Catatan:
Seharian ini Tanjung Redeb diguyur hujan berulang-ulang. Semoga esok pagi matahari kembali menyambut kami sekeluarga.

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.