Air Mata dan Bocah 12000 Dolar

Tadi malam saya dan Bunbun membawa Nayya ke dokter mata. Kunjungan pertama untuk Nayya, bahkan kunjungan pertama juga bagi Bunbun sepanjang hidupnya. Alhamdulillah pemeriksaan berjalan lancar meskipun sempat diselingi dengan berontaknya Nayya saat hendak diperiksa serta diberi salep mata.

Mata Nayya terkena infeksi yang mengakibatkan matanya sering mengeluarkan kotoran. Sebagian ujung matanya juga terlihat merah, yang pada akhirnya mendorong saya untuk membawanya ke dokter mata. Awalnya saya hanya mengira karena adanya debu yang masuk saat berkendara menggunakan motor.

Saat malam, saya sempat memandangi Nayya yang tertidur. Memperhatikan tarikan nafasnya yang teratur, mengusap anak rambutnya yang terjatuh menutupi mata. Saat -saat Nayya dalam kondisi sakit seperti ini seringkali saya berharap agar sakit yang ia rasakan bisa dipindahkan ke diri saya, membiarkannya selalu tersenyum, tertawa, bermain dengan mainan kesayangannya: Pooh, Pinky Bear, Dora, dan SpongeBob.

Sepertinya, apapun akan saya lakukan untuk dirinya, saat ini dan masa depan. Tentu saja dengan pertimbangan-pertimbangan khas kami sebagai orang tua baru. Terkadang sering terlintas di benak kami berdua, apakah semua pertimbangan dan keputusan kami tepat? Kami sering sekali terkejut melihat kecepatan pembelajaran anak-anak saat ini, termasuk Nayya. Saya sempat terkejut saat melihat Nayya sudah mampu mengoperasikan digital camera dan mengambil gambar, meskipun sekenanya.

Membayangkan seorang bocah 9 tahun pergi dari rumah dengan membawa uang $12000 hanya karena tidak dibelikan PlayStation, ada “rasa” yang menyentak di dada saya. Perlawanan khas anak kecil yang sering saya alami di masa kecil telah meningkat drastis. Saat itu, kabur bukanlah alternatif yang pernah terbayangkan oleh saya apalagi dengan membawa uang, bahkan dalam bentuk dollar – yang baru bisa saya sentuh saat menginjak masa akhir kuliah.

Saya yakin, orang tua manapun tidak akan ada yang pernah memberikan pengajaran tentang metode kabur sambil membawa uang. Lalu darimana pembentukan ide-ide “kreatif” ini? Pergeseran nilai sepertinya tidak lagi bisa saya ukur dan sangat tidak mungkin untuk dibendung. Ketika cara mencaci-maki “diajarkan” melalui sinetron, ketika “pendidikan” kemesraan diajarkan melalui reality show, ketika anak-anak bangsa ini diajarkan cara mudah menggapai ketenaran dan mimpi melalui lenggak-lenggok idola, lalu siapa yang bisa menyalahkan sang bocah $12000?

Air mata tertahan di ujung mata saya, yang terbaik akan selalu kami berikan bagi Nayya. Namun apakah terbaik selalu berarti benar? Apakah yang benar juga berarti terbaik? Saya, Bunbun, dan Nayya memang harus belajar bersama.

Nayya,
doa Ayah dan Bunbun selalu bersama tarikan nafas kamu.
Ayah dan Bunbun selalu berdoa agar mata dan hati kami terbuka
untuk memberikan yang terbaik bagi diri kamu.

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

1 thought on “Air Mata dan Bocah 12000 Dolar”

Comments are closed.