Bekerja dan Notebook

Komputer (bukan notebook) sepertinya sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat saat ini. Bahkan anak-anak kecil seusia Nayya lebih melek komputer dibandingkan sebagian manusia “jaman dulu”. Kasus manusia “jaman-dulu” ini sempat membuat saya pusing setengah-mati. Phobia komputer sering menjangkiti mereka. Keringat dan peluh bisa mengalir deras saat saya minta mereka duduk di kursi dan mengerjakan tugas dengan menggunakan komputer.

Jadi tidak aneh saat saya menyaksikan rencana Gubernur DKI Jakarta untuk mengalokasikan dana pembelian notebook dan perangkat pendukung lainnya bagi seluruh kantor pemerintahan di lingkungan DKI Jakarta. Berbeda dengan pendapat “umum” lainnya yang mempertanyakan anggaran yang cukup besar untuk merealisasikan rencana tersebut, saya justru terheran-heran ketika di dalam tayangan TV terlihat sebuah kantor kecamatan masih menggunakan mesin tik besar sebagai alat utama dalam proses administrasinya.

Bagi saya biaya adalah nomor dua. Maksudnya, perbandingan harga bisa langsung dicari di pasaran, bahkan di internet sekalipun, untuk mendapatkan harga yang layak. Terlebih harga perangkat komputer sudah lebih rasional dan semakin terjangkau. Dalam pengertian lain, kecil sekali kemungkinan untuk “bermain” harga. Lepas saja “tender” ke pasar – saya yakin dalam waktu seminggu bisa puluhan aplikasi tender yang masuk.

Catatan: Saya tidak bisa mendapatkan link berita tentang rencana Pemda DKI Jakarta untuk mengalokasikan dana pembelian notebook ini. Ada yang bisa bantu?

Kenapa notebook?

Pertanyaan tersebut pasti mencuat ke permukaan. Like it or not, konsep pemikiran kita terkadang masih terfokus bahwa notebook sebagai barang mewah. Saya tidak bisa menyalahkan konsep tersebut. Toh, jika kita bandingkan harga komputer desktop dan notebook head to head pasti harga notebook masih lebih tinggi. Silahkan dikaji lebih dalam, saya tidak mau berpihak. 😀

Anda, para pembuat alokasi dana, para komentator, para pelaksana, sebaiknya lebih fokus pada target yang ingin dicapai dengan pemanfaatan teknologi di kantor pelayanan masyarakat ini. Notebook dan komputer adalah pilihan. Bekerja dengan efektif dan efisien adalah unjuk kerja yang diminta.

threenotebook01Bagi saya sendiri, notebook adalah alat kerja untuk mencapai hasil (…kerja) yang efektif dan efisien. Namun, jujur saja bekerja dengan tiga buah notebook sama sekali jauh dari efektif dan efisien. 😀 Hari Sabtu dan Minggu kemarin, praktis tiga notebook saya gelar di rumah untuk “bekerja”. Macbook putih 13.3″, Thinkpad R61 14.1″, dan notebook lawas Toshiba Satellite A50 15″. Thinkpad “baru” ini adalah milik kantor yang rencananya akan menggantikan Satellite lawas. Jadi pada prinsipnya Thinkpad dan Satellite saya gunakan untuk migrasi data dan “data”. Sambil menunggu proses migrasi data, Macbook saya gunakan untuk mengakses jaringan kantor dan benar-benar bekerja. Ada PR yang harus saya selesaikan untuk bahan laporan hari Senin. Btw, Macbook tetap yang paling “bening” ternyata. 😉

threenotebook-02

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

1 thought on “Bekerja dan Notebook”

Comments are closed.