bis surat

Ingatan ini melayang ke masa kecil, saat saya gemar mengirimkan jawaban kuis dan teka-teki dari sebuah majalah anak-anak mingguan. Selain Kantor Pos, kotak berwarna oranye itu adalah langganan tempat mampir – yang penting perangko sudah dilekatkan dengan baik.

Di lain waktu, kisah kasih saat beranjak dewasa dan punya kekasih berlainan kota, Kantor Pos adalah sahabat karib saya. Saat itu saya “bermusuhan” dengan sang kotak oranye. Ada dua sebab. Yang pertama, saya tidak pernah punya perangko cadangan di rumah sehingga harus selalu membeli perangko terlebih dulu di Kantor Pos. Yang kedua, saya tidak percaya Bapak Pos akan mampir ke kotak oranye nan penuh karat di dekat rumah saya. Kekhawatiran surat berisi ucapan-ucapan manis penuh rindu itu tidak akan pernah tiba di genggaman sang penawar rindu mengajak saya untuk menyempatkan diri bertemu dengan tukang ketuk cap pos.

Tok  tok  tok

Saat itu, irama ketukan gahar ternyata bisa menjadi teman hati menari.

Bis (kotak?) surat yang saya temui setelah melewati pergantian tahun demi tahun ini masih seperti apa yang terlukis di kepala saya. Meskipun berbeda tempat, aroma karat itu tidak berbeda. Gumpalan debu di atasnya masih bisa membuat saya bersin.

Pertanyaan sederhana saya pada pemilik toko apakah kotak itu masih digunakan juga di jawab sederhana.

Tidak, Mas. Jika mau kirim surat, Mas bisa langsung ke meja Cici di sudut. Kami akan mengantarnya ke Kantor Pos

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.