ikat rambut buat si kecil

Saya ingat bahwa perjalanan hidup adalah tahapan belajar, terlebih bagi putri kami yang melihat dunia ini sebagai surga “pengetahuan”. Setiap saat Ia selalu bertanya, berceloteh, melihat, mendengar, dan berpikir tentang hal baru yang Ia temukan hari ini. Menjawab pertanyaan dirinya seakan memberinya kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lain. Hal ini sering kami alami. Melelahkan pada awalnya, namun menyenangkan saat Ia tiba-tiba menghampiri kita dan berceloteh tentang hal yang baru saja kita ajari.

Ayah, Nayya lihat baju. Blue warnanya

“Blue” baru saja diajarkan malamnya. Kelelahan terbayar jika mendengar ini. 😀

Namun, saya tidak pernah menyangka bahwa membujuk si kecil untuk mengikat rambutnya, yang seringkali mengganggu matanya, membutuhkan usaha keras. Ia sering menolak untuk menggunakan ikat rambut, jepit rambut, atau asesories kepala selain topi. Gerah melihatnya siang hari, lengket dengan keringat, sementara rambut panjangnya tergerai sepunggung dan sebagian lainnya menutupi matanya.

Jadi, hari itu, saat Ia justru meminta rambutnya untuk di-ikat, merupakan momen paling ajaib.

Wah, kamu cantik lho, Nak. Lebih terlihat segar.

ikat rambut

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.