Sampah dipilah: Mampukah kita konsisten?

Sampah dipilah juga dipilih. Kategori pemisahan beragam. Sederhana atau rumit sangat tergantung dari tujuan. Pemilahan terumit yang pernah saya alami terjadi di negara matahari terbit, sang saudara tua. Saking sulit, saya sering lupa. Sekarang bahkan tidak ingat. Samar-samar, keranjang tempat sampah untuk botol daur ulang. Yang lain? Gelap. Kantong berwarna hijau, biru, merah muda, hitam, putih. Adakah Anda yang saat ini di Jepang bisa menjelaskan?

Kantor saya menerapkan pemisahan sampah menjadi dua jenis: organik dan anorganik. Wadah hijau dan kuning. Cukup. Itu pun terkadang membingungkan sebagian orang. Sosialisasi bukan masalah. Masalah terbesar adalah kemauan organisasi untuk konsisten. Hal kecil bisa menjadi akar masalah. Mulai dari sarana tidak lengkap, sehingga Anda dipaksa untuk pura-pura lupa. Karena kebetulan nasi kotak bisa berisi plastik dan sayuran, maukah Dia memisahkan plastik ke anorganik dan sisa kuah, sayur, dan tulang ayam ke organik? Masalahnya bukan tahu dan mampu, melainkan mau. Mereka tahu, mereka mampu, mudah-mudahan mereka mau.

T3 Soekarno Hatta lebih maju. Kemauan organisasi bisa dibaca. Tempat sampah itu cermin cita-cita. Daur ulang, kering, dan basah adalah budaya yang akan ditanamkan kepada setiap pengguna. Jujur saya kagum. T3 seolah-olah menegaskan budaya dirinya yang berdisiplin, bahkan hingga ke hal terkecil: memilah sampah. T3 boleh pongah, “Inilah aku, inilah budayaku”. Ketika Anda bertamu dan melihat tuan rumah berdisiplin, sungkan akan membantu Anda untuk berbudaya sama.

Namun, bolehkah hati kecil bertanya? Sampai kapan ia bisa konsisten? Sampai kapan tempat sampah itu bisa berfungsi sesuai dengan per-guna-annya?

See and download the full gallery on posterous

Posted via email from footprints

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.