Siksalah kami dalam sebuah senandung

“There are things you should not do, especially in national TV, such as become a singer when you are not one”

Bukan. Posting ini bukan tentang terdamparnya cita-cita saya menjadi pemain band, seandainya pernah. Cita-cita memang harapan. Setiap jiwa boleh menggapainya. Sebagian hanya dapat menikmatinya di kala mata terpejam. 

Kata orang, cita-cita sebenarnya adalah penantian kesempatan. Sayang ini hanya berlaku bagi segelintir. Mereka yang kebetulan saat itu berada pada situasi dan kondisi yang tempat. Bukan bagi mereka yang terpilih, terutama karena kemampuan yang dimiliki.

Menyanyi bagi sebagian adalah cara melepas penat. Ia juga alat penggabung masyarakat. Oh, Anda boleh bilang, “Masyarakat yang mana?” Boleh mana saja, boleh yang dipojok itu saja. Namun telinga juga adalah anugerah Yang Maha Kuasa. Maka bolehkah saya menutup telinga ini kala senandung seseorang membuat saya tersiksa? Bolehkah saya hanya memanfaatkan mata ini untuk mengagumi  sebuah senandung?

Ia memang cantik. Rambut panjangnya membuat penat ini menguap. Mata bulatnya seakan menenggelamkan jiwa, sayang saya belum pernah menatap mata itu. Namun, izinkanlah saya berkata, “Mbak Luna, maukah Anda berhenti bersenandung?”

Posted via email from footprints

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.