Prita Mulyasari bukan penjahat

Berawal dari sebuah keluhan, Prita Mulyasari akhirnya harus mendekam di penjara wanita Tangerang sejak 13 Mei 2009 lalu. Pada tanggal 3 Juni 2009, status tahanan Prita Mulyasari berubah menjadi tahanan kota. Prita pun akhirnya dapat memeluk kembali kedua buah hatinya. Prita bukanlah penjahat apalagi koruptor. Ia hanyalah ibu dua anak yang mengeluh.

Keluhan yang diungkapkan adalah keluhan khas seorang pengguna terhadap penyedia layanan. Apapun itu, RS. Omni International, Tangerang menanggapi dengan tegas. Menggugat Prita Mulyasari atas dasar pencemaran nama baik. UU ITE digunakan sebagai rujukan untuk “menjinakan” keluhan Prita, si pengguna layanan, si pelanggan.

Banyak korporasi menganut paham pelanggan adalah raja. Keluhan ditanggapi dengan serius. Bila diperlukan, sesuai dengan tradisi masing-masing negara, bungkuk-bungkuk meminta maaf adalah salah satu cara menunjukan keseriusan kita menanggapi suatu keluhan. Disadari atau tidak, keluhan memiliki imbas pada kinerja finansial korporasi. Di beberapa perusahaan, jumlah complaint atau keluhan dari customer menjadi salah satu indikator kinerja. Jika perusahaan non-layanan publik memasang indikator ini, korporasi layanan-publik harus berlari cepat mengejar ketinggalan.

Meskipun demikian, saya bukan penganut paham pelanggan raja. Kesetaraan dan kesetimbangan adalah kunci meski aplikasi bisa sulit. Bagaimana menempatkan penyedia dan pengguna layanan sejajar sebagai mitra. Bayangkan ketika suatu penyedia layanan dan pengguna layanan bisa bekerja sama dengan baik. Memanfaatkan pengguna layanan sebagai mitra untuk meningkatkan kinerja. Sebagai timbal balik, layanan yang diberikan meningkat, khususnya pada sisi kualitas. Semuanya berawal dari komunikasi. Antara penyedia dan pengguna layanan.

Menanggapi keluhan adalah seni. Semua korporasi bisa menjadi seniman. Sayang, tidak semua mau melakukannya. Yang hilang adalah kemauan untuk mendengarkan. Mungkin ini yang terjadi pada Prita. Keluhan bisa jadi mengganggu. Layaknya lalat pengganggu. Namun, apakah sepatutnya semua lalat dipukul?

Membuka diri adalah salah satu ciri kedewasaan organisasi. Komunikasi adalah kunci. Padahal jembatan komunikasi bisa dibuka. Membuka diri, baik dari sisi Prita maupun sisi penyedia layanan. Dimanakah kebuntuan itu terjadi?

Penjara seharusnya bukan ujung suatu keluhan. Baik bagi penyedia layanan maupun pengguna layanan.

Hati tanpa akal sering berujung emosi tak terkendali. Namun akal tanpa hati sering membutakan. Apakah layak keluhan ini berakhir sedemikian rupa?

Prita Mulyasari bukan penjahat.

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

2 thoughts on “Prita Mulyasari bukan penjahat”

  1. BREAKING NEWS !!!

    KEJAGUNG MENILAI JAKSA YANG MEMERIKSA PRITA TIDAK PROFESIONAL, DAN MEMERINTAHKAN PEMERIKSAAN ATAS PARA JAKSA TERSEBUT

    TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:

    “Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

  2. HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
    1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
    2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
    3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
    4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

Comments are closed.