Kematian kartu pos

Catatan singkat saat sore ini BlackBerry saya dibanjiri ucapan senada, “Mohon maaf lahir bathin” atau “Selamat menunaikan ibadah shaum di bukan Ramadhan”. It’s coming again, the ritual.

Yang berubah, Facebook wall beberapa rekan saya juga berisi ucapan senada. Semua orang seolah berlomba menuliskan pesan yang sama, berulang-ulang. It’s hapenning, the ritual.

Twitter timeline beberapa rekan yang saya ikuti masih lebih bervariatif. Lebih normal. Namun, saya pikir, ini lebih karena timeline yang saya ikuti masih bisa dihitung jari tangan. Di luar sana, ritual itu masih ada.

Lalu, dimana kartu pos? Kapan terakhir kali Anda menggunakan kartu pos untuk menyampaikan ucapan ritual ini? Apakah kartu pos telah benar-benar mati? Saya jadi teringat posting lama saya di sini.

Posted via email from footprints

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.