Daily photo: telepon umum sarana publik

Terkadang menjadi masyarakat itu menyusahkan. Menyusahkan diri sendiri, menyusahkan orang lain. Itu kata saya ketika menikmati sarana umum di Jakarta dan Tangerang. Kereta api, bis, angkot, bahkan taxi. Taxi Blue Bird mungkin lebih baik, namun kadang saya masih bisa mencium sisa aroma rokok di dalamnya. Taxi kan ruang umum, bisa dipakai siapa saja, mengapa masih bau rokok?

Untuk sarana publik, telepon umum nasibnya mungkin paling parah. Di tengah libasan harga murah telepon genggam, telepon umum adalah hiasan masa lalu. Boks kosong tanpa telepon adalah yang paling sering saya lihat. Ia adalah tempat paling menyenangkan untuk memasang iklan jalanan. Mulai dari kuras septic tank, jasa badut, penawaran pinjaman uang tunai, bahkan sampai jasa pijat esek-esek. Pemandangan “biasa” lainnya adalah boks dengan telepon yang tidak bisa digunakan.

Boks telepon yang saya ambil gambarnya ini juga tidak jauh beda, namun teleponnya berfungsi. Sayang saya tidak punya receh. Kalau punya, ingin rasanya bernostalgia. Kepala ini masih ingat bahwa saya pun pernah berdiri 30 menit di telepon umum, menelepon kekasih di ujung sana.

Posted via email from footprints

Advertisements

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.