Perempuan Indonesia: yang tak terekam tentang ibu

Memiliki anak adalah kenikmatan tersendiri. Seluruh gerak dan ritual hidup saya berubah sejak memiliki Nayya dan terlebih saat Anindita terlahir. Di sisi lain, saya melihat ribuan keajaiban yang sebelumnya tak pernah terekam dalam benak saya tentang seorang ibu, khususnya ibu saya, Mama.
Ibu saya pernah berkata, “Saat kamu memiliki anak, barulah kamu mengerti maksud dari semua yang Mama lakukan untuk kamu dan adik-adik kamu.”
Di hari ibu, seluruh kenangan perjalanan saya dan ibu kembali saya putar. Seakan memperhatikan slide-show Picasa di layar komputer, seluruh gambar berputar mundur hingga ke saat-saat saya kecil (dan bandelnya minta ampun) lalu akhirnya semuanya buram. Ah, ternyata hanya sejauh itulah saya bisa mundur.
Saat-saat saya enggan masuk ke rumah sehabis pulang sekolah dan akhirnya diam-diam menyimpan sepatu di atas tempat sampah lalu pergi bermain. Atau saat ibu menuntun saya pergi ke sekolah, sambil menggendong adik saya, di pagi yang gelap karena debu letusan gunung Galunggung. Saya juga ingat bagaimana ibu harus pergi meminta maaf kepada ibu teman saya (saat itu TK nol kecil) karena saya melukai matanya menggunakan pedang-pedangan (meskipun saya yakin bahwa itu adalah pertarungan yang fair kok). Atau bagaimana galaknya ibu saya saat saya enggan belajar membaca.
O – te – o – to, bemo
saat itu saya yakin ibu saya tak akan tahu apa yang saya baca – toh tinggal lihat gambar semua ejaan akan benar. Jeweran dan cubitan menemani saya belajar. Namun itu semua yang membuat saya berhasil dan menjadi seperti saat ini.
Sayangnya saya tidak bisa melihat gambaran yang lebih tua dari itu. Ibu sayalah yang bercerita tentang masa bayi saya, namun sepertinya saya tak pernah puas dengan cerita saja. Saya ingin melihat gambaran masa-masa itu. Melihat ibu saya tersenyum saat menceritakan masa-masa bayi saya, meskipun cerita tersebut tentang saya yang tak bisa tidur, sakit, ataupun kebandelan saya saat bayi, membuat saya mengerti betapa berharganya perjalanan yang dilaluinya bersama saya.
Kini,
melihat bagaimana Bunbun mengasuh dan menjaga Nayya dan Anindita, membuat saya tersadar bahwa masa-masa inilah yang tak terekam di kepala saya. Sering, ketika malam saya mengecup kening mereka, saya seolah melihat gambaran ibu saya dan saya saat bayi.
Bagaimana tetesan air susu Bunbun menenangkan Nayya dan Anindita saat terbangun dan menangis di malam hari. Bagaimana pelukan Bunbun membuat mereka nyaman saat berada di lingkungan yang asing baginya. Bagaimana belaian tangan Bunbun membuat mereka tersenyum. Bagaimana telatennya Bunbun membersihkan lipatan-lipatan kulit di kaki dan tangan Nayya dan Anindita saat memandikannya di pagi dan sore hari.
Bagaimana detak jantung Bunbun membuat Nayya tertidur saat demam tinggi menyerangnya. Bagaimana senyum Bunbun bisa membuat Nayya tertawa. Bagaimana sedih dan stressnya Bunbun karena berat badan Nayya di bawah rata-rata. Bagaimana tangis Bunbun saat Nayya jatuh sakit justru bisa membuat Nayya tertawa.
Bagaimana untaian doa di pagi, siang, malam, selalu digumamkan oleh Bunbun demi sang buah hati.
Inikah yang tak terekam tentang ibu saya saat saya bayi?
Terimakasih, Ma! Belum banyak yang bisa aku lakukan untuk Mama. Mungkinkah seuntai doa mampu membalas seluruh hal-hal yang telah Mama lakukan buat aku?
Perempuan Indonesia, Selamat hari ibu!
Peluk dan cium untuk Mama di Bandung dan Bunbun.
<em>This post was originally published here on December 23, 2006 by me, edited as required to accommodate current situation.</em>

Posted via email from footprints

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.