Sego Kucing Raminten

Raminten. Awalnya saya bingung ketika diajak ke rumah makan ini, namun tidak menolak karena saya belum pernah makan sego kucing sebelumnya. Ternyata Raminten merupakan salah satu resto yang padat dikunjungi wisatawan. Saya dan keluarga harus mengantri untuk mendapatkan tempat duduk. Kebetulan akhirnya kita mendapatkan meja dibagian dalam resto dengan konsep lesehan.

Saya memesan sego kucing. Awalnya sempat bingung dengan menu sego kucing yang tersedia, yang dibagi menjadi dua kolom: sego kucing tante dan sego kucing pakte. Ternyata tante adalah singkatan dari “tanpa telur” dan pakte adalah “pakai telur”. Raminten juga menyediakan sego kucing dalam beberapa ukuran: single, double, dan triple. Ini adalah jumlah tangkup nasi yang dipesan. Sang pramusaji mengatakan bahwa tiap tangkup berisi sekitar 4 suapan sendok makan. Akhirnya saya memesan yang triple. Ternyata jumlah suapan nasi orang Yogyakarta besar-besar. Triple itu sama dengan 1.5 piring biasanya saya makan.

Ada yang unik di Raminten. Para pramusaji wanita disini menggunakan semacam kemben dan membawa tas pinggang. Ternyata tas pinggang ini berisi uang. Jadi mereka berfungsi sebagai penerima order, pramusaji, dan kasir. Tas pinggang ini berisi uang saat menerima pembayaran dan mengembalikan uang kembalian. Sungguh efisien.

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.