Hasil membaca Rantau 1 Muara

Rantau 1 Muara adalah buku terakhir dari trilogi Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Saya sungguh menikmati dua karya sebelumnya, jadi buku terakhir ini benar-benar saya tunggu-tunggu. Meski pada akhirnya, saya benar-benar harus meluangkan waktu diantara kepadatan aktivitas lain untuk menyelesaikan membacanya.

Lalu, apa pendapat saya atas buku ini? Nah, sebelum meneruskan membaca posting ini, saya perlu mengingatkan bahwa ada beberapa bagian dalam post ini yang menjadi spoiler isi buku. Jika Anda keberatan, kembalilah saat telah selesai membaca bukunya.

Membaca Rantau 1 Muara seperti melihat truk yang berjalan di jalan tol, tanpa hambatan, namun kelebihan muatan.

Berbeda dengan kedua buku terdahulu, saya tidak berhasil menemukan roh Alif dengan mantranya dalam buku. Kekuatan mantra ketiga tidak menjadi nyawa buku. Justru mantra pertama (yang menjadi nyawa buku pertama) yang lebih mengena di buku ini.

Anda pernah membaca kho ping hoo? Nah, buku ketiga ini sama seperti serial silat tersebut yang menawarkan banyak konflik di dalam satu buku. Sayangnya Rantau 1 Muara tidak menyelesaikan setiap konflik yang bermunculan, yang terus mendera Alif. Contohnya: (1) Konflik debt collector, apakah Alif berhasil membayar hutang kartu kredit? Mengapa ini menjadi penting, karena kisah hutang ini begitu ditonjolkan oleh Fuadi (2) konflik ngontrak bareng, perpindahan menjadi nginap di kantor – tanpa ada “krama” dengan sang saudara, padahal Alif begitu memikirkan “krama” saat hendak mendekati dan melamar calon istri. (3) konflik sekolah ke luar negeri dengan tetap menjadi karyawan Derap meski tanpa digaji, namun tiba-tiba Alif bekerja untuk kantor berita lain saat berada di Amerika. Apakah ia tetap menjadi karyawan Derap? Atau koresponden lepas? – menurut saya ini cukup kritis.

Intinya adalah terlalu banyak konflik yang dipaksakan masuk di dalam satu buku dan satu cerita namun Fuadi tidak berkesempatan untuk menyelesaikan setiap konflik dengan “manis” – seperti cerita silat kho ping hoo. Ini yang saya analogikan dengan truk kelebihan muatan.

Namun ada satu konflik yang berhasil diceritakan secara utuh dengan manis yaitu kisah tentang Garuda.

Kembali soal “nyawa”, buku ketiga seperti kehilangan arah di tengah jalan, meski ia tetap tahu tujuan akhir. Roh mantra ketiga tidak kuat mengakar di dalam rangkaian kisah Alif. Saya seperti melihat sinetron melalui lembaran kata-kata.

Meski demikian, buku ini masih mengasyikan untuk dibaca.

Sudahkah Anda membaca Rantau 1 Muara? Apa pendapat Anda seusai membaca buku ini?

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.