Banjir Jakarta sebagai risiko (dan peluang) yang kita abaikan

Jakarta kebanjiran (lagi) menjadi topik berita utama di berbagai media. Saya bisa ikut merasakan "derita" warga yang terkena dampak banjir ini, baik langsung maupun tidak langsung. Meskipun demikian, saya melihat kebiasaan kita (khususnya warga Jakarta) telah menganggap banjir sebagai salah satu musim di Jakarta – yang pasti terjadi. Sensitivitas kita untuk menyelesaikan masalah banjir menjadi rendah karena menganggap hal ini bukan lagi "prioritas" masalah yang harus diselesaikan segera. Beberapa orang memang terus bergerak untuk mengatasi permasalahan banjir, namun banyak lainnya yang mengabaikan permasalahan banjir di saat musim kemarau, banyak lainnya juga yang justru menjadi bagian dari permasalahan banjir.

Tanpa mengabaikan perubahan iklim, mengendalikan air permukaan – dengan tetap menjaga Jakarta sebagai area yang layak huni – pada dasarnya merupakan target yang bisa dicapai dan realistis NAMUN hal ini akan menjadi kegiatan yang sangat mahal jika warga Jakarta sendiri tidak bergerak sekarang.

Saya sangat menghargai apa yang telah dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta yang begitu fokus dalam bertindak – bukan berwacana. Semua dilakukan dengan teratur dan dalam jangka waktu yang juga bisa diukur.

Dalam pengelolaan sumber daya, waktu adalah sumber daya yang tidak bisa diperbaharui dan karenanya menjadi sumber daya paling "mahal" yang dimiliki oleh organisasi.

Terkait dengan banjir di Jakarta, resiko terbesar adalah kerusakan daya dukung Jakarta untuk menjadi wilayah yang layak huni. Penanganan dengan cepat (ingat, kita bicara waktu) justru akan memberikan peluang jangka panjang yang lebih baik, diantaranya peluang ekonomi baru yang muncul saat Jakarta menjadi lebih layak huni. Berapa banyak biaya tak langsung yang harus dibuang guna menghadapi masalah yang sama berulang-ulang?

Menurut saya, banjir bukan bencana alam. Banjir (dan penanganan air permukaan) adalah menjadi bagian dari kegiatan warga Jakarta. Jadi, jika Anda bertindak segera, Jakarta akan menjadi wilayah yang lebih layak huni di masa datang.

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.