Tentang sengketa pilpres 2014, lalu apa?

Ini bukan tentang saya mendukung siapa dalam pemilihan presiden yang lalu. Ini juga bukan tentang TSM, yang sepertinya sudah menjadi singkatan baku dari terstruktur, sistematis, dan masif. Ini juga bukan tentang gagal move on dari hasil pemilu presiden yang menjadi hak konstitusi.

Siapapun yang menjadi pemenang lalu menjadi Presiden Republik Indonesia memiliki tugas berat menghadang di hadapan mata. Bahkan sebelum ia dilantik sekalipun. Sayang, energi dan pikiran mereka sebagian harus dicurahkan menghadapi sengketa ini. Padahal pekerjaan rumah sudah menumpuk dan menunggu untuk diselesaikan.

Tugas awal terbesar sang Presiden terpilih pada dasarnya adalah bertanya “Apa misi berat yang akan dihadapi pemerintahan saya dalam lima tahun mendatang?” Di bawah payung ini, “Apa tiga atau empat tujuan/target paling penting?”

Kita sudah terlalu sering melihat banyak pemimpin yang mengejar terlalu banyak target, bahkan mengejar tujuan yang salah. Lebih sering lagi kita melihat orang-orang yang sudah dipilih (atau diajukan) untuk posisi tertentu, padahal mimpi sang pemimpin mungkin belum dijabarkan. Ketika ini sudah terpetakan, barulah kita mencari orang-orang yang tepat. Meski, secara umum, kita sering melakukan hal yang sebaliknya.

You can’t choose your advisers before you know what they’ll be advising.

Jadi, Bapak Presiden, saya titipkan rencana kemajuan negara ini, kesejahteraan rakyat Indonesia di pundak Anda. Barulah kemudian pikirkan siapa yang cocok untuk hal ini.

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.

1 thought on “Tentang sengketa pilpres 2014, lalu apa?”

Comments are closed.