Sahabat kecil

Penggalan persahabatan berawal dari suatu lini masa dalam jejak kehidupan kita. Sebagian berawal di masa kecil, bahkan saat sebelum masuk sekolah. Namun sebagian besar mungkin berawal dari jenjang lini masa terkini, yang terjalin saat pola pikir telah lebih matang.

Sepanjang perjalanan, entah disadari atau tidak, sel kelabu di kepala terkadang mengajak kita kembali menyusuri lini masa. Jejak tawa dan canda, kecewa, sedih, gembira bercampur di sana. Terkadang kita bisa menyikapi setiap jejak dengan lebih bijak. Namun tak jarang kita terjebak di dalam lingkaran kemarahan dan penyesalan tak bertepi.

Suatu hari di awal bulan ini, denting WhatsApp yang tak kunjung henti memaksa saya melihat aktivitas di sana. Kebijakan WhatsApp yang memudahkan seseorang mengundang orang lain untuk bergabung dalam suatu group telah mengakibatkan saya tergabung lagi dalam suatu group baru. Kali ini group beranggotakan teman-teman semasa kami berseragam putih-merah. Pertemuan maya setelah lebih dari duapuluh delapan tahun.

Saya bukan merupakan tipe seseorang yang aktif di dalam obrolan sebuah group. Saya lebih cenderung hanya mengamati dan sesekali berkomentar. Namun pagi hari berikutnya, sebuah percakapan sederhana di dalam group membangkitkan jejak rasa di dalam memori yang belum tergambar utuh. Jejak yang semakin hari semakin menguat namun tidak lengkap.

Saya memberanikan diri terlibat dalam percakapan.

Menggali.

Menelusuri setiap ruang gelap yang tersimpan lama di ujung sel kelabu.

Pagi ini, tema pembicaran bergerak dan berganti dengan cepat. Tawa kecil berulang kali lepas dari bibir saat membaca percakapan di lini masa. Hingga salah seorang teman bercerita tentang masalah rumah tangga yang dihadapinya. Ia begitu lepas, bebas, dan terbuka saat menyampaikannya. Dua orang teman lainnya kemudian berbicara tentang masalah yang hampir sama. Mereka begitu lepas di group ini. Keterlibatan teman-teman lain saat menanggapi membuat saya termenung. Ada ketulusan yang membalut keterbukaan di sana. Ada kehadiran yang menyentuh hati di sana. Kesederhanaan yang begitu berarti.

Ruang gelap di ujung sel kelabu itu mulai bercahaya. Jejak rasa yang semula samar kini tergambar jelas. Mereka bukan teman-teman yang bertemu dan bercengkerama kembali dengan bantuan teknologi. Mereka adalah sahabat masa kecil yang dipersatukan kembali. Ketulusan persahabatan masa kecil tanpa selimut dan tabir kepentingan. Kesederhanaan arti dari kata sahabat dan persahabatan, yang bahkan mempersatukan kami menjadi sebuah keluarga.

Meski untaian kata tak berbicara namun jejak ketulusan persahabatan yang terjalin menghangatkan hati saya saat itu.

 

Author: aryadn

blogger, microblogger, professional mining engineer, metallurgist by education, interested in mobile-street photography.