“Di” sebagai kata depan dan awalan

Beberapa hari belakangan ini saya menerima laporan-laporan yang harus saya koreksi sebelum diterbitkan, baik untuk keperluan internal maupun external divisi. Selain “isi” yang perlu dikoreksi, saya sering mendapati kesalahan tata bahasa. Padahal bahasa yang digunakan dalam laporan tersebut adalah bahasa Indonesia. Salah satu kesalahan yang paling sering saya temui adalah penggunaan “di” sebagai kata depan dan awalan. Penggunaan fungsi “di” ini sering tertukar.

Bukan bermaksud menjadi seseorang yang perfeksionis, namun kesalahan penggunaan fungsi “di” ini membuat saya berpikir apa penyebab dasarnya. Saya bukan ahli tata bahasa, namun pada prinsipnya penggunaan “di” sebagai kata depan dan awalan dapat dibedakan dengan mudah.

“Di” sebagai kata depan. Sesuai dengan fungsinya, kata depan, maka “di” merupakan kata tersendiri yang menunjukan tempat, tujuan, arah. Penulisannya dipisahkan dari kata yang mengikutinya. Contoh: di rumah, di pasar, di Bandung, di utara. Pengecualian untuk kata disana, disini, dimana.

“Di’ sebagai awalan. Secara umum fungsi awalan “di” adalah pembentuk kata kerja pasif. Penulisannya digabungkan dengan kata yang mengikutinya. Contoh: dirumahkan, dipukul, diperiksa, diterbitkan.

Nah, ada berapa kata depan dan awalan “di” pada post ini?

Advertisements

Jakarta 2012 in a time capsule

It was seven o’clock when I drove my car to huge public car park near by MRT subway station. Yes! MRT subway station in Jakarta. Nayyara was come along with me. Her connecting transporter, her school bus, was five station away. Her teacher should be there, make sure that every children shall be save. My transit station was six station away, connecting to busway station above the subway station, my office was 5 minutes walk from the station. 65 km away, 35 minutes. 20 minutes MRT, 10 minutes busway, 5 minutes walk. NO Traffic Jam. It’s our past. IT’s the past of Jakarta. – Excerpt from Jakarta 2012 – my old blogpost

That’s an excerpt of my blogpost which I wrote on November 2008, nearly four years ago. That was my hope of a better Jakarta – wrote in my blog, as a time capsule. Full blogpost can be read on above link.

Unfortunately, the dream of better Jakarta – in term of traffic management and lively neighborhood – is something that hardly ever experienced by its people. Burden, tighten lips, anger, and tears have become the routine. Hardened heart is all that it built.

It’s time to put my blogpost into another time capsule.

Jakarta, could it be you?

Eid Mubarak

Semoga kita bisa dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Taqabalallahu minna wa minkum. Mohon maaf atas segala salah yang sengaja dan tidak sengaja.

Eid mubarak everyone.

Pendopo Agung, Ambarrukmo Palace Hotel, Yogyakarta

Pendopo Agung Ambarrukmo Palace Hotel Yogyakarta terletak di antara hotel Ambarrukmo dan Ambarrukmo Plaza. Persis di tengah keduanya.

Pendopo Agung ini pada dasarnya merupakan hall atau bangsal, yang pada zamannya mungkin digunakan sebagai tempat penerimaan tamu keraton atau tempat pertemuan. Pada zamannya, saya yakin Pendopo Agung ini merupakan bangunan yang megah dan mewah. Sisa kemegahan bangunan masih terlihat.

Meski demikian, kemegahannya mengingatkan saya pada proyek-proyek mercusuar di zaman Soekarno. Proyek yang mengedepankan kemegahan dan kebesaran namun fungsinya belum tentu besar. Apakah Pendopo Agung juga cerminan proyek semacam ini juga ya?

Apa permasalahan terbesar hidup di Ibu Kota Jakarta?

Bukan macet, bukan juga korupsi.

Masalah terbesar hidup di Ibu Kota Jakarta adalah UANG.

Seandainya ada uang – dan halal – maka macet bukan masalah. Sebagian besar orang akan menyewa helikopter untuk berangkat kerja, bahkan sekedar melepas penat ke pusat perbelanjaan.

Padahal sebagian besar perputaran uang ada di pulau Jawa, lebih khusus: Jakarta. Jadi, uang juga adalah sumber masalah.

Perputaran uang, pergerakan ekonomi, masih berkutat di Jakarta. Seandainya distribusi uang dan ekonomi bisa disebar merata ke penjuru pulau-pulau di Indonesia, maka sebagian dari permasalahan di ibu kota dan juga di ujung-ujung pulau Indonesia akan sedikit terpecahkan. Pemerataan ekonomi dicapai melalui pemerataan pembangunan. Sumberdaya alam pada dasarnya melimpah di ujung-ujung bumi Indonesia, namun pemanfaatannya masih belum optimal dan merata. Banyak hal yang bisa kita lakukan, dari diri kita terlebih dulu. 

Ayo berpikir.

Full Steam Ahead as PLN Targets Geothermal Power

Coal-powered plants account for around 42.2 percent of that capacity, with diesel-fired plants 23.7 percent, gas 22 percent, hydropower plants 6.7 percent and geothermal and other renewable energy at 5.4 percent. — Excerpt from The Jakarta Globe

I personally think that coal power plants will still play major role in 10 years due to lower capex for development. Challenges to balanced energy mix would be economic scale and ROI. If new technology offers lower development cost then energy mix portion will shift to non-coal based.