Piala Dunia, Kick Off, SCTV, dan Bisnis

Jumat, 10:00 WITA
Buat saya, Piala Dunia sebetulnya lebih merupakan "ajang sosialisasi".
Saya bukan tipe orang yang rela begadang hanya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola di pagi buta.
Namun, hangatnya demam Piala Dunia 2006 membuat saya (yang hanya bermain bola di PS dan PC) juga ikut bergairah.
Saya mulai bertanya-tanya kepada teman-teman penggila bola tentang acara pembukaan Piala Dunia 2006 yang (katanya) akan disiarkan oleh SCTV.
Momen bersejarah dunia yang satu ini tidak akan saya lewatkan begitu saja.
Terlebih provider TV Kabel di kompleks saya sudah menyiapkan "decoder" khusus untuk menangkap siaran Piala Dunia yang disiarkan oleh SCTV.

Jumat, 21.00 WITA
Sambil menanti acara pembukaan, saya meneruskan membaca buku kedua Kisah Klan Otori.

Jumat, 23.00 WITA
Terlalu tenggelam dalam kenikmatan membaca buku saya baru tersadar bahwa mungkin acara pembukaan sudah dimulai pada jam tersebut.
Tv dinyalakan, channel dipindah ke SCTV……
Blank……

Huaduh, kok begini sih?

Saya coba pindah channel terlebih dulu, memastikan bahwa tidak ada masalah dengan TV maupun layanan TV kabel yang saya gunakan.

Hmmm, semua fine.

Balik ke channel SCTV,
Blank……
Huaaaaaaaa, sinyal diacak.
Kok bisa? Padahal sudah menggunakan Matrix Soccer.
gggggrrrrrhhhhhhhhggghghhghghgg…………

Piala Dunia (baca: sepak bola) bukan lagi sekedar ajang pembuktian siapa tim sepak bola terbaik di dunia.
Nuansa bisnis atau transaksi ekonomi, atau whatever you name it, lebih kental di dalamnya.

Tiket, merchandise, bahkan hak siar seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari turnamen sepak bola terbesar di jagat ini.

Saya tidak tahu apakah istilah ini tepat atau tidak, namun deman Piala Dunia 2006 di Indonesia bisa dikatakan sebagai soc-commerce (soccercommerce).

Istilah yang "dipaksakan" sesuai dengan kondisi yang saya lihat dalam satu bulan terakhir.
Soccer sendiri diterjemahkan menjadi sepak bola.
Commerce diterjemahkan menjadi pertukaran barang/service dengan uang atau transaksi bisnis lainnya yang melibatkan pertukaran barang/uang.

Jadi apa itu soc-commerce?
Pertukaran barang/service atau transaksi bisnis lainnya yang melibatkan atau berkaitan dengan sepak bola.

Untuk bisa menjadi commerce, sepak bola perlu menjadi sebuah industri yang melibatkan bukan hanya produsen dan konsumen melainkan juga produsen dengan produsen.
Baik produsen yang menggeluti/memanfaatkan sepak bola sebagai inti bisnisnya ataupun jenis lainnya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sepak bola bahkan olah raga.

Kembali kepada "pemaksaan" yang sudah saya sebutkan di atas, mari kita sama-sama lihat bentuk commercial advertisement yang muncul di layar kaca.

Saya belum pernah, dan tidak akan pernah, membayangkan bahwa alih-alih berteriak "GOOOLLLL…" saat menyaksikan bola masuk ke dalam gawang, ia berteriak "Sozzzzzziiiiiissssss".

Hingga kini saya masih bingung mencari hubungan antara obat sakit kepala dan sebuah bola yang menjadi pengganti kepala. Namun apakah kalimat "Demam bola? Minum Bodrex" bisa mengutarakan hubungan keduanya?

Atau (ini yang paling membuat bingung)…
Coba cari hubungan sepak bola dan semen.

Dan yang paling mengerikan, ternyata hak istimewa membuat arogan.
"Jangan lupa untuk menyaksikan Piala Dunia 2006, HANYA di SCTV"
Terlebih bila dikaitkan dengan, "Gunakan Matrix Soccer untuk menyaksikan Piala Dunia 2006"
Namun seminggu menjelang Kick Off, dengan baik hati, produsen menyampaikan bahwa "Piala Dunia 2006 di SCTV bisa disaksikan menggunakan antenna biasa"

Kreativitas seharusnya disampaikan dengan cerdas dan berwawasan, bukan "maksa", yang penting "nyambung" dan menghasilkan uang.
Hak istimewa perlu dilengkapi dengan tanggung jawab.

"Great power must come with great responsibility" – Uncle Ben to Peter Parker.

This post was originally published here

Indonesia berhutang?

Ada dua berita yang cukup menarik saat saya membaca web feeds kemarin siang (6 Juni 2006) yaitu Total Pinjaman Luar Negeri RI Turun dan Utang Luar Negeri Baru RI 2007 US$3,4-4 Miliar (feed 5 Juni 2006).

Mengapa menarik?
Dua buah berita yang hampir bertolak belakang masuk dalam RSS reader (or aggregator) saya dalam waktu yang hampir bersamaan, bahkan kedua buah headline tersebut ditampilkan berurutan dalam reader yang saya gunakan.

Mengapa bertolak belakang?
Berita pertama menggambarkan bagaimana kondisi hutang Indonesia yang turun sementara berita lainnya menggambarkan niat Pemerintah untuk mencari (baca: menambah) hutang luar negeri baru di tahun 2007.

Besarnya hutang luar negeri Indonesia pada akhir Maret 2006 adalah 131.8 miliar dolar AS.
(Ingat, miliar itu nol-nya ada sembilan)
Bandingkan dengan jumlah hutang luar negeri Indonesia pada akhir tahun 2004 sebesar 137 miliar dolar AS dan pada akhir tahun 2005 sebesar 133.48 miliar dolar AS.

Berandai-andai:
Dengan mempertahankan laju penurunan hutang sejak akhir tahun 2005 hingga akhir Maret 2006 maka besarnya hutang luar negeri Indonesia pada akhir tahun 2006 (End of December 2006) adalah 126.76 miliar dolar AS.

Namun….
Say that new debt shall be USD 4 billion dan didapat pada awal tahun.
Besarnya hutang luar negeri Indonesia pada awal tahun 2007 adalah
126.76 + 4 = 130.76 miliar dolar AS.

Pheeeewww
, paling tidak di awal tahun 2007 posisi hutang luar negeri Indonesia tetap lebih kecil (but, belum tentu lebih baik) dibandingkan akhir tahun 2005.

Dari data-data yang saya miliki di atas, saya dapat berandai-andai kapan hutang luar negeri Indonesia akan mencapai nilai 0, dengan asumsi
1. Laju penurunan hutang sebagaimana laju penurunan hutang tahun 2006 (6.72 miliar dolar AS).
2. Setiap awal tahun terdapat penambahan hutang sebesar 4 miliar dolar AS
3. time value of money diabaikan
4. jika di akhir tahun hutang luar negeri Indonesia > 0, maka Indonesia masih tetap akan mengambil hutang baru sebesar 4 miliar dolar AS
5. tahun 2007 adalah tahun pertama perhitungan

Formula yang digunakan adalah

y = 130.76 – 6.72n + 4(n-1)
y = 126.76 – 2.72n

dimana n = jumlah tahun yang harus dilalui
y = 0

n = 46.60 tahun dari sejak akhir tahun 2006 or the debt will be 0 on almost end of year 2053. Huaduuhhhh…. Itu artinya saat Nayya berusia 47 tahun.

Jadi…
Indonesia berhutang?

This post was originally published here. 

Pindahan!

Sebagaimana layaknya pindah rumah, pindah blog juga ternyata tidak mudah.
Pilih fasilitas, kenyamanan, keamanan, dan kemungkinan pengembangan menjadi faktor-faktor yang harus dipertimbangkan.

Dan sebagaimana pindah rumah, beberapa posting akan di-kisah-kan ulang di rumah baru ini. Kisah yang punya kesan bagi penghuni yang pindah untuk menghiasi rumah barunya.

Pertanyaan yang timbul kemudian adalah: "Apakah kita akan menetap setelah pindah ini?"
Hanya waktu yang bisa menjawab.