Hope

It was almost midnight when he finally pulled himself together. The crowd subdued. He felt numb inside. He walked slowly to the icy ceiling-to-floor  window. It was the only thing between him and her. He knelt down, tears streaked his face.

“I’m a stranded man without you, but I have to let you go,” he whispered his mind.

The picture was taken when I was stranded at the airport for nearly 8 hours. I saw a man sitting nearby power outlet, exhausted yet smiling while texting.

Saung Seniman

Saung Seniman ini merupakan tempat jajan (botram) yang baru buka sekitar dua bulan yang lalu, meski saya baru tahu keberadaan saung ini minggu lalu. Saung Seniman ini sebenarnya adalah saung lesehan milik warga kampung yang tinggal di sekitar kompleks rumah saya. Yang membuatnya menarik adalah lokasinya yang persis di pinggir danau, sehingga pemandangan saat kita makan membuat selera bertambah.

Menu yang disiapkan juga sebetulnya adalah menu sederhana warga sekitar. Ikan goreng, ikan bakar, lalapan, dan tentu saja sambal. Menurut saya, ikan nila bakar di saung seniman ini rasanya juara.

By the river

These are photos collection which were taken nearby Segah river in Kalimantan back at 2011. As far as I can remember, it was the year that I started to like to take pictures using my mobile phone which then encouraged me to learn more about (street) photography.

It was a cloudy morning when I stood nearby the river watching the river traffic. See how both the cloud and the river were so amazing.

Sahabat kecil

Penggalan persahabatan berawal dari suatu lini masa dalam jejak kehidupan kita. Sebagian berawal di masa kecil, bahkan saat sebelum masuk sekolah. Namun sebagian besar mungkin berawal dari jenjang lini masa terkini, yang terjalin saat pola pikir telah lebih matang.

Sepanjang perjalanan, entah disadari atau tidak, sel kelabu di kepala terkadang mengajak kita kembali menyusuri lini masa. Jejak tawa dan canda, kecewa, sedih, gembira bercampur di sana. Terkadang kita bisa menyikapi setiap jejak dengan lebih bijak. Namun tak jarang kita terjebak di dalam lingkaran kemarahan dan penyesalan tak bertepi.

Suatu hari di awal bulan ini, denting WhatsApp yang tak kunjung henti memaksa saya melihat aktivitas di sana. Kebijakan WhatsApp yang memudahkan seseorang mengundang orang lain untuk bergabung dalam suatu group telah mengakibatkan saya tergabung lagi dalam suatu group baru. Kali ini group beranggotakan teman-teman semasa kami berseragam putih-merah. Pertemuan maya setelah lebih dari duapuluh delapan tahun.

Saya bukan merupakan tipe seseorang yang aktif di dalam obrolan sebuah group. Saya lebih cenderung hanya mengamati dan sesekali berkomentar. Namun pagi hari berikutnya, sebuah percakapan sederhana di dalam group membangkitkan jejak rasa di dalam memori yang belum tergambar utuh. Jejak yang semakin hari semakin menguat namun tidak lengkap.

Saya memberanikan diri terlibat dalam percakapan.

Menggali.

Menelusuri setiap ruang gelap yang tersimpan lama di ujung sel kelabu.

Pagi ini, tema pembicaran bergerak dan berganti dengan cepat. Tawa kecil berulang kali lepas dari bibir saat membaca percakapan di lini masa. Hingga salah seorang teman bercerita tentang masalah rumah tangga yang dihadapinya. Ia begitu lepas, bebas, dan terbuka saat menyampaikannya. Dua orang teman lainnya kemudian berbicara tentang masalah yang hampir sama. Mereka begitu lepas di group ini. Keterlibatan teman-teman lain saat menanggapi membuat saya termenung. Ada ketulusan yang membalut keterbukaan di sana. Ada kehadiran yang menyentuh hati di sana. Kesederhanaan yang begitu berarti.

Ruang gelap di ujung sel kelabu itu mulai bercahaya. Jejak rasa yang semula samar kini tergambar jelas. Mereka bukan teman-teman yang bertemu dan bercengkerama kembali dengan bantuan teknologi. Mereka adalah sahabat masa kecil yang dipersatukan kembali. Ketulusan persahabatan masa kecil tanpa selimut dan tabir kepentingan. Kesederhanaan arti dari kata sahabat dan persahabatan, yang bahkan mempersatukan kami menjadi sebuah keluarga.

Meski untaian kata tak berbicara namun jejak ketulusan persahabatan yang terjalin menghangatkan hati saya saat itu.

 

32 Flavors

This was our city, the place where we have been since we were born. This was our city, under siege by the enemy since the beginning of the war. The war which we did not understand. We did not ask for it. We did not want it.

They tore our city apart. Brick by brick. Body by body.

We breathed in bleak horror out of airstrike sirens. We tasted dusty air of cold bunker. We drank terror out of rocket explosions. We slept where we wanted to be because our houses were burnt down. We lived our day as nightmare until we did not know what nightmare was.

This was our city.

__

This post was published as response to Daily Prompt challenge. Today’s theme was 32 Flavors.